Senin, 4 agustus 2014 (sedikit terlambat kuposting tulisan ini, sebab sebelumnya kusimpan saja di memo handphone)
Ini adalah awal bulan agustus yang semoga berfaedah untukku dan orang orang sekelilingku.
Alhamdulillahirabbilalamin, hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sebuah sekolah sma islam yang dirintis orang tua ku dan teman temannya.
Sebenarnya, aku mengajar di sma tersebut hanya dalam waktu singkat, barang sebulan atau dua bulan saja, sebab hanya untuk menggantikan guru mata pelajaran yang tengah cuti melahirkan.
Namun.. hari ini adalah pengalaman berharga di usiaku yang ke 20 tahun. Mengenakan seragam keki berwarna kuning tua, kemudian memasangkan jilbab di kepalaku, mengendarai motor dan lima belas menit kemudian memasuki gerbang sebuah sekolah yang terbilang cukup sepi di hari senin pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran.
Kutarik nafas panjang, berharap segala keberkahan dan kebaikan mengiringi setiap langkah langkah ini. Sebab ada hal yang lebih penting dan mulia dari sebuah pengalaman yang dikejar kejar jiwa muda, yaitu semangat perjuangan.
Tak lama, aku pun segera menemui seorang guru yang sudah lebih dulu datang di ruang kantor. Beliau tengah membersihkan ruangannya sendiri, sebab seperti yang telah ku sebutkan: ini adalah perjuangan, sehingga tak ada pejuang yang bermalas-malas. Pejuang tak boleh manja meminta tukang sapu membersihkan kantornya, sebab gajinya sendiri bulan lalu bahkan belum pula turun dan dapat dinikmati.
Setelah membantu membersihkan ruang guru, aku menemui murid-murid yang juga disibukkan di hari pertama masuk sekolah. Mereka menyapu ruang ruang kelas sembari bersenda gurau dengan rekan. Melebur rindu yang menggumpal setelah berminggu minggu tak bersua.
Segera setelah kelas-kelas bersih, para murid kelas 1 hingga kelas 3 pun diarahkan menuju ruangan yang paling besar, kemudian mereka mendapatkan wejangan wejangan mengenai kurikulum 2013 sebagai acuan terbaru, juga mengenai peraturan peraturan sekolah yang diperketat.
Sembari menyimak pula apa yang tengah disampaikan bapak guru yang saat itu menjadi rekan ku, aku memandangi satu persatu wajah murid murid itu, yang sejatinya usia mereka hanya selisih dua sampai tiga tahun lebih muda dariku.
Oh... mereka sungguh muda.. anak anak muda... aku juga pernah menjadi mereka, duduk diam diatas bangku bangku kayu yang kaku, kemudian mendengar petuah petuah guru yang dulu aku sebut kolot dan membosankan. Oh... mereka sungguh muda, bahkan aku masih ingat betul pernah menjadi remaja remaja berseragam abu abu putih seperti mereka, aku pernah menjadi seperti mereka yang merasa mulai dewasa dan paling benar. Ya.. beberapa tahun yang lalu aku adalah mereka, dan aku menyesali masa masa itu.
Kuamati lagi satu persatu murid murid itu, mereka cantik, mereka hitam, mereka pendek, tinggi, para gadis berjilbab, para lelaki berambut cepak, beberapa yang lain rambutnya panjang bergaya anak band. Menyedihkan... menyenangkan... kasihan...
Beberapa rasa tiba tiba serentak beradu dalam batinku, hingga tak mampu menciptakan mimik muka yang menarik di wajahku pagi itu.
Aku ingat betul.... justru karena aku ingat betul pernah menjadi manusia setengah setengah seperti mereka, justru karena aku tau betapa merugi membuang masa sma hanya dengan bermain main atau sibuk gengsi dan gaya belaka, justru itu aku tau.. aku terlalu tau hingga kini aku telah sadar.. betapa banyak kutumpahkan waktuku diperjalanan dengan sia sia, betapa aku pernah lama sekali mendholimi diriku sendiri... Karena itulah aku merasa cukup aku yang pernah begitu, jangan kalian.
Aku ingin kalian sadar, murid murid manisku.., bahwa percuma sibuk dengan kawan, lawan, suka palsu, main main, dan haha hihi mu itu... percuma.. sungguh lebih baik kau rintis masa depan dan kau bangun istana mimpimu, hingga saat dewasa yang sesungguhnya telah tiba.. kau tak merasa kosong, kau tak melompong.
Berhentilah menipu orang lain terlebih menipu dirimu, berhenti murid murid sayangku.. cukup aku... cukup aku sebagai gurumu kali ini, yang pernah merasa sia sia di masa lalu, jangan kalian./ Hamidah 08:18 pm
Tampilkan postingan dengan label pelajaran. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelajaran. Tampilkan semua postingan
27 Agustus 2014
19 Juni 2014
The Fish and A Ring
;![]() |
| sumber: weheartit.com/entry/80339964/ |
I had a story titled
"The Fish And A Ring"
"The Fish And A Ring"
this story tell us
about King that can guess what will happen in the future, or maybe its known
with a fortune teller.
One day, the King seeing something about what will happen with his son,
that still child. and he is very surprised and dismey (worry) because in the
future his son will marry with a poor girl.
so the king decided to go tho the poor girl's house. after found the
home, he saw a doleful (very sad;
murung) man in front of the door. so he asked to the man, "What happened
to you, why you look so doleful?"
"Its because i had a six child, and i cant give them some
food." said the man.
"Dont be sad again, i will bring your last child, and i will keep
your child. dont worry, i promise" The king looks very wise.
of course the old man happy when hear that, finally he give his child.
but, when the king pass the river, he throw away the child, because he
dont want his son married with the poor girl in the future.
Nice fate happened to the poor child, he floating in the river and a
fisherman found her.
then, someday when the king going to fishing in the river with his
friend, they are very thirsty, and then stopped in fisherman hut.
The King very surprised when know a girl that he throw away in the past
still alive. so he planning to throw the girl to the forest far away from the
city.
the next day, the king's son going to hunting animals in the forest, and
the fate happened, he meet with the poor girl, and falling in love. he wed the
girl, and live happily ever after.
(I get this story from digital book stories in "Play Store", so if you wanna read another story, grab that fast! enjoy)
8 Agustus 2013
Di ambang Pintu Perjuangan.
Entah kala itu tanggal berapa pertama kali kuinjakkan kaki
ditanah basah desa kucur. Desa asri nan sejuk yang jauh dari hiruk pikuk kota.
Basi mungkin menggambarkan setting desa subur seperti ini, namun takkan basi
jika kau berkunjung sendiri. Sungguh, teramat benar, jika ada yang bilang
“Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke Bumi” dan bahkan dengan melihat
nuansa alami ini seolah-olah saja dulu surga pernah bocor dan menumpahkan keindahan nya di tanah desa kucur.
Mobil biru itu berhenti dihalaman mungil masjid yang belum
jadi. Aku mengernyitkan kening dan menyipitkan mata menyaksikan sekeliling.
Terlalu sederhana. Bukan aku butuh mewah, tapi ini terlalu sederhana jika
dibandingkan mushola-mushola mungil yang bertebaran di kota yang selama ini aku
dan teman-teman tinggali. Kontras sekali. Bahkan mushola desa ini belum pula
jadi. Temboknya masih berwarna abu-abu semen, hingga nyaris lumutan, entah..
mungkin karena terlalu lama tak segera disentuh cat.
Namun seketika lamunanku buyar,
saat guru ku meminta aku dan beberapa orang teman yang ikut tinjau lokasi, untuk bergegas menjajari langkah beliau memasuki masjid. Disana sudah
ada beberapa pria dewasa yang disebut ustad dan beberapa wanita dewasa pula
yang disebut ustadzah. Kami berjalan perlahan-lahan, sedikit kikuk, kami
dihujani tatapan oleh ustadz, ustdzah dan santri-santri kecil berwarna-warni
bagai pelangi.
Berbagai corak, bajunya maksudku. Tapi kala itu aku merasa
mereka semua kembar, muka mereka semua nyaris sama tak ada beda. Aku masih
ingat betul itu, mereka melongo melihat muka-muka kami, dengan polos minim
ekspresi, dan jika aku boleh menerka, maka kalimat inilah yang mungkin sedang
berkeliling tawaf di benak mereka, “Siapa gerangan muda mudi datang dari dalam
mobil biru itu? Asing sekali mereka, dengan tatapan nya yang mencoba
bersahabat. Hendakkah mereka ikut mengaji bersama kami? Ah… mana mungkin,
mereka sudah terlalu besar. Atau… mungkin benar, siapa tahu mereka belum bisa
mengaji?”
Dan jika itu pertanyaanya, maka kami akan menjawab, “Mungkin
kami sudah bisa mengaji, namun kami belum bisa membaca. Kami sungguh belum bisa
membaca hati-hati suci kalian, adik-adik. Kami belum bisa membaca tatapan
kalian, kami sungguh buta akan bahasa tubuh kalian. Dan kini kami sedang
mencoba, kami memulai nya dari sini, perjalanan dakwah dan perjuangan untuk
mencerdaskan.”
Selamat datang di
desa Kucur, untuk memulai langkah tegap perjuangan. Perjuangan ini bukan
tentang seberapa pintar kalian, bukan seberapa hebat jurusan di perkuliahan,
bukan seberapa banyak prestasi yang diraih, tapi setangguh apa kalian mampu menghadapi
kemalasan, ketidakpedulian, dan seleksi alam.
Innalallaha ma’ana.
-Hamidah Izzatu Laily for @CMCmalang
31 Oktober 2012
RANGKUMAN BUKU "ILMU KOMUNIKASI SUATU PENGANTAR" karangan PROF. DEDDY MULYANA, M.A.,Ph.D.
Bab I. Mengapa kita berkomunikasi: Fungsi-fungsi komunikasi
Fungsi komunikasi menurut William I. Gordon:
1.
Fungsi social
Orang yang tidak pernah berkomunikasi
dengan manusia bisa dipastikan akan “tersesat”, karena ia tidak sempat menata
dirinya dalam suatu lingkungan social.
2.
Fungsi ekspresif
Komunikasi ekspresif dapat dilakukan baik
sendirian ataupun dalam kelompok. Orang dapat menyalurkan marah dengan
mengumpat, berdecak pinggang, mengepalkan tangan seraya melototkan matanya.
3.
Fungsi ritual
Komunikasi ritual biasanya dilakukan secara
kolektif (berkelompok). Sebagai contohnya dalam buku ini disebutkan ketika
ibadah shalat kaum Muslim mengarah ke Ka’bah, ini melambangkan kesatuan dan
persatuan umat muslim yang ber-Tuhan satu (Allah).
Ritual menciptakan perasaan tertib (a sense
of order) dalam dunia yang tanpanya kacau balau.
4.
Fungsi instrumental
Komunikasi instrumental mempunyai beberapa
tujuan umum: menginformasikan, mengajar, mendorong, dan mengubah sikap dan
keyakinan, dan mengubah perilaku atau menggerakkan tindakan dan juga menghibur.
Bila diringkas maka semuanya itu dapat disebut membujuk (bersifat persuasif).
Komunikasi disini diartikan sebagai instrument atau alat untuk mempersuasi
orang lain.
BAB II. Hakikat, Definisi, dan Konteks Komunikasi
·
Komunikasi manusia berbeda dengan komunikasi
hewan (dalam hal makna)
Komunikasi manusia lebih memiliki makna
(meaningful) sedangkan komunikasi hewan tidak memiliki makna apalagi komunikasi
tumbuhan.
·
Definisi komunikasi
Harus ada penafsiran dalam hal yang disebut komunikasi.
·
3 kerangka pemahaman komunikasi
1.
Tindakan satu arah
Pengiriman pesan dari komunikator ke komunikan tanpa ada timbal balik
2.
Sebagai
interaksi
Pengiriman pesan dari komunikator ke komunikan dengan adanya
feedback/timbal balik
3.
Sebagai transaksi
Semua pihak dianggap sumber juga penerima (dinamis) ada timbal balik yang
terus menerus, hingga sulit membedakan mana komunikator dan mana yang
komunikan.
·
Konteks komunikasi
1.
Aspek fisik :
iklim, cuaca, suhu udara
2.
Aspek psikologis :
sikap, prasangka, emosi
3.
Aspek social :
norma kelompok, nilai social dan budaya
4.
Aspek waktu :
kapan berkomunikasi (jam, hari, tanggal)
·
Tingkat komunikasi
1.
Intrapribadi :
dengan diri sendiri, contohnya berfikir
2.
Antarpribadi :
diadik, memungkinkan tatap muka secara langsung
3.
Kelompok :
sekumpulan orang dalam jumlah besar, bersifat pasif
4.
Organisasi :
kelompok dari kelompok-kelompok
5.
Massa :
komunikasi menggunakan media massa
Konteks komunikasi lainnya
Komunikasi media (pertengahan) : antara tatap
muka dengan komunikasi massa. Contohnya telepon, faximile, radio CB, E-mail.
BAB III. Prinsip-prinsip komunikasi
1.
Komunikasi adalah proses simbolik
Symbol = sesuatu yang digunakan untuk
menunjukkan sesuatu lainnya
Sifat symbol/lambang adalah bersifat
sembarang, suka-suka bergantung kesepakatan bersama, lambang tidak mempunyai
makna dan kitalah yang memberi nya makna, lambang itu bervariasi.
2.
Setiap perilaku mempunyai potensi komunikasi.
Bahkan diam adalah sebuah komunikasi. Orang
diam secara tidak sengaja telah mengirimkan pesan pada orang lain yang orang
tsb dapat menafsirkan bahwa mungkin dia diam karena marah, malas, atau yang
lainnya.
3.
Komunikasi memiliki dimensi isi dan dimensi
hubungan
Dimensi isi: apa yang dikatakan (pesan
verbal)
Dimensi hubungan: apa jenis salurannya,
bagaimana cara mengatakannya (pesan non verbal)
4.
Komunikasi berlangsung dalam berbagai tingkat
kesengajaan
Mulai dari komunikasi yang tidak sengaja
sama sekali sampai komunikasi terencana. Kesengajaan bukan merupakan syarat
utama untuk berkomunikasi.
5.
Komunikasi terjadi dalam konteks ruang dan waktu
Konteks ruang: memakai baju merah saat
pemakaman tidaklah sopan karena akan mengirimkan pesan bahwa kita tidak ikut
berduka.
Konteks waktu: dering telepon malam hari
atau tengah malam akan dipersepsikan berbeda dibandingkan jika telepon itu
bordering siang hari.
6.
Komunikasi melibatkan prediksi peserta
komunikasi
Siapa yang diajak bicara dan bagaimana
sikap kita?
7.
Komunikasi bersifat sistemik
Sistem internal : kepribadian, pola pikir, sikap kita.
Sistem eksternal : unsure diluar individu (kegaduhan, cahaya, dll)
8.
Semakin mirip latar belakang social budaya,
semakin efektif-lah komunikasi
9.
Komunikasi bersifat Non sekuensial (komunikasi
sirkuler/ dua arah)
1. Komunikasi bersifat prosesual, dinamis, dan
transaksional.
Prosesual :
terus berubah (orang tidak akan melintas disungai yang sama ke-2 kalinya)
Dinamis :
terus berubah
Transaksional : pengiriman-penerimaan pesan terus terjadi (bersamaan)
11.
Komunikasi bersifat irreversible (tidak dapat
diubah)
Seperti kalimat to forgive but not forget. Maka berhati-hatilah dalam berkomunikasi
dan berbicara karena apa yang telah kita ucapkan mungkin dapat dicabut dan
dimaafkan namun takkan pernah bisa dilupakan.
12.
Komunikasi bukan panasea untuk menyelesaikan
berbagai masalah
Panasea= obat mujarab. Maksudnya adalah,
jangan jadikan komunikasi jalan utama untuk mengatasi masalah. Contohnya:
meskipun pemerintah bersusah payah menjalin komunikasi yang baik dengan warga
aceh, itu takkan berhasil bila pemerintah memperlakukan masyarakat di
wilayah-wilayah itu secara tidak adil, dengan merampas kekayaan alam mereka dan
mengangkutnya kepusat.
BAB IV. Model-model komunikasi
Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Menurut Sereno dan Mortensen model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.
FUNGSI DAN MANFAAT MODEL
Gordon Wiseman dan Larry Barker mengemukakan ada tiga fungsi model komunikasi: pertama, melukiskan proses komunikasi; kedua, menunjukan hubungan visual; ketiga, membantu dalam mengemukakan dan memperbaiki kemacetan komunikasi. Deutch menyebutkan bahwa model memiliki empat fungsi: mengorganisasikan (kemiripan antara data dan hubungan), prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga yang kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan berapa banyak, heuristik (menunjukan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui), pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi.
Fungsi-fungsi tersebut pada gilirannya merupakan basis untuk menilai suatu model:
Seberapa umum (general) model tersebut? Seberapa banyak bahan yang diorganisasikannya, dan seberaa efektif?
Seberapa heuristik model tersebut? Apakah ia membantu menemukan hubungan-hubungan baru, fakta, atau metode?
Seberapa penting prediksi yang dibuat dari model tersebut bagi bidang penelitian? Seberapa strategis prediksi itu pada tahap perkembangan bidang tersebut?
Seberapa akurat pengukuran yang dapat dikembangkan dengan model tersebut?
Irwin D.J. Bross menyebutkan beberapa keuntungan model. model menyediakan kerangka rujukan untuk memikirkan masalah, bila model awal tidak berhasil memprediksi. keuntungan lain pembuatan model adalah terbukanya problem abstraksi.
TIPOLOGI MODEL
Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Model yang lebih penting adalah model simbolik yang terdiri dari model matematik dan model verbal; lalu model fisik yang terdiri dari model ikonik dan model analog.
Model verbal adalah model atau teori yang dinyatakan dengan kata-kata, meskipun bentuknya sangat sederhana. Model verbal sangat berguna terutama untuk menyatakan hipotesis atau menyajikan hasil penelitian. Model verbal ini sering dibantu dengan grafik, diagram, atau gambar. Contohnya adalah model struktur organisasi, yang dilihat dari perspektif komunikasi organisasi, tingkat-tingkat jabatan dan hubungan kerja (komunikasi formal) berbagai jabatan tersebut.
Model fisik secara garis besar terbagi dua, yakni model ikonik yang penampilan umumnya (rupa, bentuk, tanda) menyampaikan objek yang dimodelkan. Seperti model pesawat terbang, maket sebuah gedung atau kompleks. Sebagan model ikonik, selain menyerupai objek aslinya juga menunjukan sebagian fungsi penting objek yang dimodelkan. Contoh terbaik model ikonik ini adalah model kendaraan seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api. Menurut Bross, model menyajikan suatu proses abstraksi. Pesawat terbang yang sebenarnya menyajikan proses suatu abstraksi.
Perkembangan model simbolik, khususnya model matematik penting dalam profesi ilmuwan. Pembuatan model adalah upaya penting dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kuantitas model yang dihasilkannya menandai kematangan ilmiah disiplin tersebut.
Berdasarkan model-model kounikasi Lasswell, Shannon dan Weaver serta Schramm, yang linier namun terkenal itu misalnya, muncul model-model yang sirkuler. Dilihat dari jumlah unsur yang mengidentifikasi dalam fenomena komunikasi, model-model lebih mutahir menambahkan unsur-unsur baru yang dalam model lama tidak disebut. Misalnya lingkungan fisik, seperti dalam model Gudykunst dan Kim. dan konteks waktu dalam model Tubbs.
Model Gerbner merupakan perluasan dari model Lasswell, model Westley dan MacLean dari model Newcomb dan model DeFleur dari model Shannon dan Weaver. Schramm yang mengemukakan teori peluru komunikasi (the bullet theory of communication) sebagai model verbal mengenai efel komunikasi pada tahun 1950-an harus merevisi modelnya tersebut dalam dekade berikutnya.
MODEL-MODEL KOMUNIKASI: SUATU PERKENALAN
Komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi telah dibuat oleh para pakar.
Model S – R
Model stimulus – respon (S – R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini depengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan stimulus – respons. Model ini menunjukan komunikasi sebagai aksi reaksi yang sederhana. Bila seorang lelaki berkedip kepada seorang wanita, dan wanita itu kemudian tersipu malu, itulah pola S – R.
Pola S – R dapat pula berlangsung negatif, misalnya orang pertama menata kedua orang dengan tajam, dan kedua orang itu balik menatap, atau enunduk malu, atau malah memberontak.
Model Aristoteles
Model Aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, yang sering juga disebut model retoris. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar dalam proses komunikasi, yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).
Model Lasswell
Model komunikasi Lasswell berupa ungkapa verbal, yakni
Who
Says What
In Which Channel
To Whom
With What Effect?
Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya alam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pengawasan lingkungan, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. Lasswell mengaku bahwa tidak semua komunikasi bersifat dua arah.
Model Lasswell sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan ahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Model Lasswell dikritik karena model itu tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.
Model Shannon dan Weaver
Model awal komunikasi dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949. Model ini sering disebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalah model yang pengaruhnya paling kuat atas model dan teori komunikasi lainnya. Model Shannon dan Weaver ini menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Dengan kata lain, model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran (channel) adalah medium yang mengirim sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver).
Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.
Model Schramm
Menurut Wilburg Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber boleh jadi seorang individu atau suatu organisasi seperti surat kabar, stasiun televisi. Menurut Schramm, setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai enkoder dan dekoder. Kita secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut.
Model Newcomb
Theodore Newcomb memandang komunikasi sebagai perspektif psikologi-sosial. Modelnya menyerupai diagram jaringan kelompok yang dibuat oleh para psikolog sosial dan menyerupai formulasi awal mengenai konsistensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut sering juga disebut model ABX atau model simetri Newcomb menggambarkan bahwa seseorang A, menyampaikan informasi terhadap seorang lainnya, B, mengenai sesuatu, X, model tersebut mengasumsikan bahwa orientasi A kepada B dan terhadap X saling bergantung dan ketiganya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi.
1. Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap tehadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif)
2. Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama
3. Orientasi B terhadap X
4. Orientasi B terhadap A
Model Westley dan MacLean
Westley dan MacLean ini dipengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh Lasswell dan yang lainnya. Mereka menambahkan jumlah peristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatass yang kesemuanya merupakan ”objek orientasi” menempatkan suatu peran C diantara A dan B, dan menyediakan umpan balik. Model Westley dan MacLean mencakup beberapa konsep penting yaitu umpan balik, perbedaan kemiripan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa, dan pemimpin endapat yang penting sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa.
Model Gerbner
Model Gerbner adalah merupakan perluasan dari model Lasswell. Model ini terdiri dari model verbal dan model dragmatik. Model verbal Gerbner adalah sebagai berikut:
Seorang sumber
mempersepsi suatu kejadian
dan bereaksi
melalui suatu alat (maluran, media, rekayasa fisik, fasilitas administratif dan kelembagaan untuk distribusi dan kontrol)
untuk menyediakan materi
dalam suatu bentuk
dan konteks
yang mengandung isi
yang mempunyai suatu konsekuensi
Model Gerbner menunjukan bahwa sesorang mempersepsi suatu kejadian dan mengirimkan pesan kepadan suatu transmitter yang pada gilirannya mengirimkan sinyal pada pemerima (receiver), dalam transmisi itu sinyal menghadapi gangguan dan mucul sebagai SSS bagi sasaran (destination)
Model Berlo
Model ini dikenal dengan model SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber (source) adalah pihak yang menciptakan pesan baik seseorang maupun suatu kelompok.
Pesan (message) adalah terjemahan gagasan kedalam kode simbolik seperti bahasa atau isyarat saluran (channel) adalam medium yang membawa pesan dan penerima (receiver) adalam orang yang menjadi sasaran komunikasi.
Model DeFleur
Menggambarkan komunikasi massa ketimbang komunikasi antar pribadi. Modelnya merupakan perluasan dari model yang dikemukakan para ahli lain khususnya Shannon dan Weaver dengan memasukan perangkan media massa (mass medium service) dan peragkat umpan balik (feedback).
Model Tubbs
Menggambarkan komunikasi yang paling mendasar yaitu komunikasi dua orang (diadik). Model komunikasi Tubbs sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi yang mengasumsikan kedua peserta sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Model Tubbs melukiskan baik komunikator satu atau dua terus menerus memperoleh masukan yakni rangsangan baik luar dalam maupun luar dirinya yang sudah berlalu baik yang sudah berlangsung juga semua pengalaman fisik maupun sosial.
Model Interaksional
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik dengan tokoh utamanya Herbert dan muridnya Blumer. Model interaksional sangat sulit digambarkan dengan diagramatik. Model verbal lebih disesuaikan dengan model ini.(http://icaherliafifah.blogspot.com/2010/11/resume-bab-4-buku-pengantar-ilmu.html)
BAB IV. Model-model komunikasi
Model adalah representasi suatu fenomena, baik nyata ataupun abstrak, dengan menonjolkan unsur-unsur terpenting fenomena tersebut. Menurut Sereno dan Mortensen model komunikasi merupakan deskripsi ideal mengenai apa yang dibutuhkan untuk terjadinya komunikasi. Sedangkan B. Aubrey Fisher mengatakan model adalah analogi yang mengabstraksikan dan memilih bagian dari keseluruhan, unsur, sifat atau komponen yang penting dari fenomena yang dijadikan model.
FUNGSI DAN MANFAAT MODEL
Gordon Wiseman dan Larry Barker mengemukakan ada tiga fungsi model komunikasi: pertama, melukiskan proses komunikasi; kedua, menunjukan hubungan visual; ketiga, membantu dalam mengemukakan dan memperbaiki kemacetan komunikasi. Deutch menyebutkan bahwa model memiliki empat fungsi: mengorganisasikan (kemiripan antara data dan hubungan), prediktif, memungkinkan peramalan dari sekedar tipe ya atau tidak hingga yang kuantitatif yang berkenaan dengan kapan dan berapa banyak, heuristik (menunjukan fakta-fakta dan metode baru yang tidak diketahui), pengukuran, mengukur fenomena yang diprediksi.
Fungsi-fungsi tersebut pada gilirannya merupakan basis untuk menilai suatu model:
Seberapa umum (general) model tersebut? Seberapa banyak bahan yang diorganisasikannya, dan seberaa efektif?
Seberapa heuristik model tersebut? Apakah ia membantu menemukan hubungan-hubungan baru, fakta, atau metode?
Seberapa penting prediksi yang dibuat dari model tersebut bagi bidang penelitian? Seberapa strategis prediksi itu pada tahap perkembangan bidang tersebut?
Seberapa akurat pengukuran yang dapat dikembangkan dengan model tersebut?
Irwin D.J. Bross menyebutkan beberapa keuntungan model. model menyediakan kerangka rujukan untuk memikirkan masalah, bila model awal tidak berhasil memprediksi. keuntungan lain pembuatan model adalah terbukanya problem abstraksi.
TIPOLOGI MODEL
Kita dapat menggolongkan model dengan berbagai cara. Model yang lebih penting adalah model simbolik yang terdiri dari model matematik dan model verbal; lalu model fisik yang terdiri dari model ikonik dan model analog.
Model verbal adalah model atau teori yang dinyatakan dengan kata-kata, meskipun bentuknya sangat sederhana. Model verbal sangat berguna terutama untuk menyatakan hipotesis atau menyajikan hasil penelitian. Model verbal ini sering dibantu dengan grafik, diagram, atau gambar. Contohnya adalah model struktur organisasi, yang dilihat dari perspektif komunikasi organisasi, tingkat-tingkat jabatan dan hubungan kerja (komunikasi formal) berbagai jabatan tersebut.
Model fisik secara garis besar terbagi dua, yakni model ikonik yang penampilan umumnya (rupa, bentuk, tanda) menyampaikan objek yang dimodelkan. Seperti model pesawat terbang, maket sebuah gedung atau kompleks. Sebagan model ikonik, selain menyerupai objek aslinya juga menunjukan sebagian fungsi penting objek yang dimodelkan. Contoh terbaik model ikonik ini adalah model kendaraan seperti pesawat terbang, kapal laut, kereta api. Menurut Bross, model menyajikan suatu proses abstraksi. Pesawat terbang yang sebenarnya menyajikan proses suatu abstraksi.
Perkembangan model simbolik, khususnya model matematik penting dalam profesi ilmuwan. Pembuatan model adalah upaya penting dalam memajukan ilmu pengetahuan dan kuantitas model yang dihasilkannya menandai kematangan ilmiah disiplin tersebut.
Berdasarkan model-model kounikasi Lasswell, Shannon dan Weaver serta Schramm, yang linier namun terkenal itu misalnya, muncul model-model yang sirkuler. Dilihat dari jumlah unsur yang mengidentifikasi dalam fenomena komunikasi, model-model lebih mutahir menambahkan unsur-unsur baru yang dalam model lama tidak disebut. Misalnya lingkungan fisik, seperti dalam model Gudykunst dan Kim. dan konteks waktu dalam model Tubbs.
Model Gerbner merupakan perluasan dari model Lasswell, model Westley dan MacLean dari model Newcomb dan model DeFleur dari model Shannon dan Weaver. Schramm yang mengemukakan teori peluru komunikasi (the bullet theory of communication) sebagai model verbal mengenai efel komunikasi pada tahun 1950-an harus merevisi modelnya tersebut dalam dekade berikutnya.
MODEL-MODEL KOMUNIKASI: SUATU PERKENALAN
Komunikasi bersifat dinamis, sebenarnya komunikasi telah dibuat oleh para pakar.
Model S – R
Model stimulus – respon (S – R) adalah model komunikasi paling dasar. Model ini depengaruhi oleh disiplin psikologi, khususnya yang beraliran behavioristik. Model tersebut menggambarkan stimulus – respons. Model ini menunjukan komunikasi sebagai aksi reaksi yang sederhana. Bila seorang lelaki berkedip kepada seorang wanita, dan wanita itu kemudian tersipu malu, itulah pola S – R.
Pola S – R dapat pula berlangsung negatif, misalnya orang pertama menata kedua orang dengan tajam, dan kedua orang itu balik menatap, atau enunduk malu, atau malah memberontak.
Model Aristoteles
Model Aristoteles adalah model komunikasi paling klasik, yang sering juga disebut model retoris. Komunikasi terjadi ketika seorang pembicara menyampaikan pembicaraannya kepada khalayak dalam upaya mengubah sikap mereka. Tepatnya, ia mengemukakan tiga unsur dasar dalam proses komunikasi, yaitu pembicara (speaker), pesan (message), dan pendengar (listener).
Model Lasswell
Model komunikasi Lasswell berupa ungkapa verbal, yakni
Who
Says What
In Which Channel
To Whom
With What Effect?
Model ini dikemukakan oleh Harold Lasswell tahun 1948 yang menggambarkan proses komunikasi dan fungsi-fungsi yang diembannya alam masyarakat. Lasswell mengemukakan tiga fungsi komunikasi, yaitu: pengawasan lingkungan, korelasi berbagai bagian terpisah dalam masyarakat yang merespon lingkungan, transmisi warisan sosial dari suatu generasi ke generasi lainnya. Lasswell mengaku bahwa tidak semua komunikasi bersifat dua arah.
Model Lasswell sering diterapkan dalam komunikasi massa. Model tersebut mengisyaratkan ahwa lebih dari satu saluran dapat membawa pesan. Model Lasswell dikritik karena model itu tampaknya mengisyaratkan kehadiran komunikator dan pesan yang bertujuan. Model ini juga terlalu menyederhanakan masalah.
Model Shannon dan Weaver
Model awal komunikasi dikemukakan oleh Claude Shannon dan Warren Weaver pada tahun 1949. Model ini sering disebut model matematis atau model teori informasi itu mungkin adalah model yang pengaruhnya paling kuat atas model dan teori komunikasi lainnya. Model Shannon dan Weaver ini menyoroti problem penyampaian pesan berdasarkan tingkat kecermatannya. Dengan kata lain, model Shannon dan Weaver mengasumsikan bahwa sumber informasi menghasilkan pesan untuk dikomunikasikan dari seperangkat pesan yang dimungkinkan. Pemancar (transmitter) mengubah pesan menjadi sinyal yang sesuai dengan saluran yang digunakan. Saluran (channel) adalah medium yang mengirim sinyal (tanda) dari transmitter ke penerima (receiver).
Model Shannon dan Weaver dapat diterapkan kepada konteks-konteks komunikasi lainnya seperti komunikasi antarpribadi, komunikasi publik, dan komunikasi massa.
Model Schramm
Menurut Wilburg Schramm, komunikasi senantiasa membutuhkan setidaknya tiga unsur: sumber (source), pesan (message), dan sasaran (destination). Sumber boleh jadi seorang individu atau suatu organisasi seperti surat kabar, stasiun televisi. Menurut Schramm, setiap orang dalam proses komunikasi adalah sekaligus sebagai enkoder dan dekoder. Kita secara konstan menyandi balik tanda-tanda dari lingkungan kita, menafsirkan tanda-tanda tersebut.
Model Newcomb
Theodore Newcomb memandang komunikasi sebagai perspektif psikologi-sosial. Modelnya menyerupai diagram jaringan kelompok yang dibuat oleh para psikolog sosial dan menyerupai formulasi awal mengenai konsistensi kognitif. Dalam model komunikasi tersebut sering juga disebut model ABX atau model simetri Newcomb menggambarkan bahwa seseorang A, menyampaikan informasi terhadap seorang lainnya, B, mengenai sesuatu, X, model tersebut mengasumsikan bahwa orientasi A kepada B dan terhadap X saling bergantung dan ketiganya merupakan suatu sistem yang terdiri dari empat orientasi.
1. Orientasi A terhadap X, yang meliputi sikap tehadap X sebagai objek yang harus didekati atau dihindari dan atribut kognitif (kepercayaan dan tatanan kognitif)
2. Orientasi A terhadap B, dalam pengertian yang sama
3. Orientasi B terhadap X
4. Orientasi B terhadap A
Model Westley dan MacLean
Westley dan MacLean ini dipengaruhi oleh model Newcomb, selain juga oleh Lasswell dan yang lainnya. Mereka menambahkan jumlah peristiwa, gagasan, objek dan orang yang tidak terbatass yang kesemuanya merupakan ”objek orientasi” menempatkan suatu peran C diantara A dan B, dan menyediakan umpan balik. Model Westley dan MacLean mencakup beberapa konsep penting yaitu umpan balik, perbedaan kemiripan komunikasi antarpribadi dengan komunikasi massa, dan pemimpin endapat yang penting sebagai unsur tambahan dalam komunikasi massa.
Model Gerbner
Model Gerbner adalah merupakan perluasan dari model Lasswell. Model ini terdiri dari model verbal dan model dragmatik. Model verbal Gerbner adalah sebagai berikut:
Seorang sumber
mempersepsi suatu kejadian
dan bereaksi
melalui suatu alat (maluran, media, rekayasa fisik, fasilitas administratif dan kelembagaan untuk distribusi dan kontrol)
untuk menyediakan materi
dalam suatu bentuk
dan konteks
yang mengandung isi
yang mempunyai suatu konsekuensi
Model Gerbner menunjukan bahwa sesorang mempersepsi suatu kejadian dan mengirimkan pesan kepadan suatu transmitter yang pada gilirannya mengirimkan sinyal pada pemerima (receiver), dalam transmisi itu sinyal menghadapi gangguan dan mucul sebagai SSS bagi sasaran (destination)
Model Berlo
Model ini dikenal dengan model SMCR (source, message, channel, receiver). Sumber (source) adalah pihak yang menciptakan pesan baik seseorang maupun suatu kelompok.
Pesan (message) adalah terjemahan gagasan kedalam kode simbolik seperti bahasa atau isyarat saluran (channel) adalam medium yang membawa pesan dan penerima (receiver) adalam orang yang menjadi sasaran komunikasi.
Model DeFleur
Menggambarkan komunikasi massa ketimbang komunikasi antar pribadi. Modelnya merupakan perluasan dari model yang dikemukakan para ahli lain khususnya Shannon dan Weaver dengan memasukan perangkan media massa (mass medium service) dan peragkat umpan balik (feedback).
Model Tubbs
Menggambarkan komunikasi yang paling mendasar yaitu komunikasi dua orang (diadik). Model komunikasi Tubbs sesuai dengan konsep komunikasi sebagai transaksi yang mengasumsikan kedua peserta sebagai pengirim sekaligus penerima pesan. Model Tubbs melukiskan baik komunikator satu atau dua terus menerus memperoleh masukan yakni rangsangan baik luar dalam maupun luar dirinya yang sudah berlalu baik yang sudah berlangsung juga semua pengalaman fisik maupun sosial.
Model Interaksional
Model interaksional merujuk pada model komunikasi yang dikembangkan oleh para ilmuwan sosial yang menggunakan perspektif interaksi simbolik dengan tokoh utamanya Herbert dan muridnya Blumer. Model interaksional sangat sulit digambarkan dengan diagramatik. Model verbal lebih disesuaikan dengan model ini.(http://icaherliafifah.blogspot.com/2010/11/resume-bab-4-buku-pengantar-ilmu.html)
BAB V. PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
-
Persepsi adalah proses menafsirkan rangsangan
dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
-
Persepsi adalah INTI KOMUNIKASI à interpretasi adalah
INTI PERSEPSI.
-
Persepsi terdiri dari 3 aktivitas
1.
Seleksi
2.
Organisasi
3.
Interpretasi
-
Persepsi:
1.
Lingkungan fisik
a.
Lambang fisik
b.
Sifat luar ditanggapi
c.
Tidak bereaksi
2.
Lingkungan sosial (manusia)
a.
Lambang verbal dan non verbal
b.
Sifat luar dan dalam ditanggapi
c.
Bereaksi
A.
PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Latar belakang pengalaman, budaya, dan
suasana psikologis yang berbeda membuat kita berbeda dalam suatu objek
(lingkungan fisik)
B.
PERSEPSI SOSIAL
1.
Persepsi didasarkan pengalaman
2.
Persepsi selektif
3.
Persepsi dugaan
4.
Persepsi evaluatif
5.
Persepsi kontekstual
C.
PERSEPSI DAN BUDAYA
1.
Kepercayaan, nilai, sikap
2.
Pandangan dunia
3.
Organisasi sosial
4.
Tabiat manusia
5.
Orientasi kegiatan
6.
Persepsi tentang diri dan orang lain
D.
KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
1.
Kesalahan atribusi (memahami penyebab perilaku
orang lain)
2.
Efek halo (kesan awal yang menjadikan kita
menebak-nebak sifat orang lain)
3.
Stereotipe (menilai orang lain berdasarkan
kelompoknya, bukan individunya)
4.
Prasangka (penilaian berdasarkan pengalaman)
5.
Gegar budaya (ketidakmampuan menyesuaikan diri
dengan budaya baru)
BAB VI. KOMUNIKASI VERBAL
-
Bahasa verbal adalah sarana utama untuk
menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan
kata-kata.
A.
ASAL USUL BAHASA
Bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Ketika
belum mampu berbahasa verbal mereka berkomunikasi lewat gambar. 500 tahun lalu,
manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, dan bahasa
lisan mulai banyak berkembang.
B.
FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
-
Untuk merancang solusi untuk memecahkan masalah
hidup
-
Paling mendasar berfungsi utnuk menamai atau
memberi julukan pada orang, objek, peristiwa.
-
Tiga fungsi bahasa (menurut Lary Barker):
1.
Penamaan: usaha untuk mengidentifikasi
2.
Interaksi: berbagi gagasan, emosi
3.
Trnasimisi Informasi: bertukar informasi
-
Tiga fungsi bahasa (menurut Book):
1.
Mengenal dunia disekitar kita
2.
Sarana untuk menghubungkan antar manusia
3.
Untuk hidup lebih teratur, saling memahami,
percaya, satu tujuan.
C.
KETERBATASAN BAHASA
1.
Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk
mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial (tidak melukiskan sesuatu secara
eksak). Contoh: mata kita bisa membedakan tujuh juta warna, tapi untuk
menyediakan nama satu persatu untuk semuanya itu, tentu sulit karena berarti
kita harus menyediakan tujuh juta nama.
2.
Kata-kata bersifat ambigu (tidak jelas) dan
kontekstual (tergantung konteks). Karena kita berasal dari latar belakang
sosial budaya yang berbeda-beda, ruang dan waktu dapat mengubah makna kata.
3.
Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa adalah PERLUASAN BUDAYA. Setiap bahasa menunjukkan suatu dunia
simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pemikiran, pengalaman batin, dan
kebutuhan pemakainya.
4.
Percampur adukan fakta, penafsiran (dugaan), dan
penilaian (kekeliruan persepsi).
Bedakan FAKTA dengan DUGAAN agar PENILAIAN MENJADI BENAR. Kita sering
mengganggap suatu peristiwa yang sebenarnya dugaan, kita anggap sebuah fakta.
D.
KERUMITAN MAKNA KATA (contoh: anak yang kencing
disebut menyanyi)
Kitalah yang memberi makna pada kata. Makna
dibagi menjadi dua:
1.
Makna denotatif: makna yang sebenarnya (murni)
2.
Makna konotatif: makna bercampur aduk dengan
berbagai sebab dan alasan
Makna muncul dari berbagai
hubungan khusus antara kata dengan manusia. Kita dapat menciptakan kata apa
saja dengan arti apa saja, sejauh berdasarkan KESEPAKATAN.
-
Macam-macam rival bahasa:
1.
Bahasa daerah VS bahasa daerah
Karena lagi-lagi sosial budaya (sosbud) yang berbeda, kata yang sama pun
bisa dimaknai berbeda. Contoh: “atos” dalam bahasa sunda bermakna “sudah”,
sedangkan dalam bahasa jawa bermakna “keras”.
2.
Bahasa daerah VS Bahasa Indonesia
Contoh: “sok” dalam bahasa indonesia artinya “sombong”, sedangkan dalam
bahasa sunda berarti “silahkan”. Setaip orang mempunyai gagasan pribadi
mengenai suatu konsep. Kondisi emosional dan motivasional individu juga
mempengaruhi makna yang ia berikan pada konsep tersebut.
3.
Bahasa Indonesia VS Bahasa Malaysia
Suatu negara menganggap bahasanya yang paling baik. Contoh: kereta di
Malaysia artinya mobil di Indonesia.
4.
Bahasa daerah/ Bahasa Indonesia VS Bahasa asing
lainnya
Contoh : Cincin dalam bahasa jepang artinya –alat kelamin- laki-laki.
E.
NAMA SEBAGAI SIMBOL
Fungsi pertama dari bahasa adalah penamaan.
Nama dapat mempengaruhi hidup anda. Nama bersifat simbolik, nama memberikan
suatu makna dan dapat mempersepsi cara perlakuan orang lain.
Contoh: anjing, babi à sama-sama nama hewan,
tapi kedua hewan tersebut memiliki konotasi buruk (biasanya digunakan untuk
mengumpat).
Nama juga bisa menyusahkan si empunya,
contohnya ada orang yang bernama khadijah, maka ia secara tidak langsung
harusnya bersikap baik dan santun seperti khadijah istri Nabi Muhammad dalam
agama Islam.
F.
BAHASA GAUL
-
Latar belakang yang berbeda menjadikan cara
berbicara juga berbeda.
-
Bahasa subkultural = Bahasa gaul = bahasa yang
punya arti khusus dalam golongan tertentu.
-
Fungsi dari bahasa gaul:
1.
Sarana pertahanan diri: agar tidak bisa dipahami
kelompok lain, terlebih kelompok lawan.
2.
Argot berfungsi sebagai sarana kebencian
kelompok, terhadap kelompok lain.
3.
Argot sebagai sarana memelihara identitas dan
solidaritas kelompok: membedakan mereka dengan kelompok lain.
-
Macam-macam bahasa gaul:
1.
Bahasa kaum selebritis
2.
Bahasa gay dan waria, bahasa selebritis mirip
bahasa gay.
3.
Bahasa waria
G.
BAHASA WANITA VS BAHASA PRIA
Wanita dan pria memiliki bahasa yang
belainan, ciri bahasa wanita adalah:
1.
Bahasa wanita tidak setegas bahasa pria, mereka
biasa menggunakan kalimat yang mengandung ekor tanya, seperti “isn’t it?’’ “Right?”.
2.
Kurang percaya.
Wanita menggunakan kata penguat, seperti “so”, “very”.
3.
Frase melemahkan, contoh “maybe, perhaps”.
4.
Hiperkorek (resmi)
5.
Lebih sering menggunakan kutipan langsung.
6.
Intonasi pertanyaan.
7.
Kurang rasa humor.
8.
Enggan menyumpah dan memaki.
-
Wanita: pembicaran hubungan (berpusat pada
perasaan, memilihari hubungan dengan orang lain)
-
Pria: pembicaraan laporan (berpusat pada
Informasi faktual)
H.
RAGAM BAHASA INGGRIS
-
Orang inggris: bicara berbunga-bunga, banyak
eufimisme.
-
Amerika: bicara langsung dan lugas.
-
Inggris filipina: khas karena dipengaruhi bahasa
spanyol.
-
Inggris australia.
-
Inggris singapura.
I.
PENGALIHAN BAHASA
Kita perlu menguasai bahasa mitra
komunikasi kita (minimal menguasai bahasa dunia, yaitu inggris)
1.
Kelemahan dalam penguasaan tata bahasa,
struktur, kosakata: menghasilkan terjemahan yang membingungkan. Contoh: dragonfly
bukan bermakna naga terbang tapi capung.
2.
Sejumlah kata serapan dari kata inggris
mengalami perluasan. Contoh: keluarga – famili (padahal dalam bahasa inggris:
family)
3.
Tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, karena
sulit mencari padanannya. Contoh: printer, mouse, file.
4.
Frase atau kalimat bahasa indonesia tidak bisa
diterjemahkan begitu saja secara kata per kata. Contoh: saya ingin buang air
kecil, jika di terjemahkan ke dalam bahasa inggris tentu saja tidak menjadi
begini, “I want to discard small water”.
J.
KOMUNIKASI KONTEKS TINGGI VS KOMUNIKASI KONTEKS
RENDAH
-
Konteks rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya
bicara langsung, lugas, terus terang.
Contoh: komunikasi pada program komputer.
-
Konteks tinggi: bersifat implisit, tidak
langsung, tidak terus terang. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan
non verbalnya.
Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara
berputar-putar tidak langsung pada inti masalah.
-
Orang indonesia cenderung berbicara tidak
langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.
BAB V. PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
-
Persepsi adalah proses menafsirkan rangsangan
dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
-
Persepsi adalah INTI KOMUNIKASI à interpretasi adalah
INTI PERSEPSI.
-
Persepsi terdiri dari 3 aktivitas
1.
Seleksi
2.
Organisasi
3.
Interpretasi
-
Persepsi:
1.
Lingkungan fisik
a.
Lambang fisik
b.
Sifat luar ditanggapi
c.
Tidak bereaksi
2.
Lingkungan sosial (manusia)
a.
Lambang verbal dan non verbal
b.
Sifat luar dan dalam ditanggapi
c.
Bereaksi
A.
PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Latar belakang pengalaman, budaya, dan
suasana psikologis yang berbeda membuat kita berbeda dalam suatu objek
(lingkungan fisik)
B.
PERSEPSI SOSIAL
1.
Persepsi didasarkan pengalaman
2.
Persepsi selektif
3.
Persepsi dugaan
4.
Persepsi evaluatif
5.
Persepsi kontekstual
C.
PERSEPSI DAN BUDAYA
1.
Kepercayaan, nilai, sikap
2.
Pandangan dunia
3.
Organisasi sosial
4.
Tabiat manusia
5.
Orientasi kegiatan
6.
Persepsi tentang diri dan orang lain
D.
KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
1.
Kesalahan atribusi (memahami penyebab perilaku
orang lain)
2.
Efek halo (kesan awal yang menjadikan kita
menebak-nebak sifat orang lain)
3.
Stereotipe (menilai orang lain berdasarkan
kelompoknya, bukan individunya)
4.
Prasangka (penilaian berdasarkan pengalaman)
5.
Gegar budaya (ketidakmampuan menyesuaikan diri
dengan budaya baru)
BAB VI. KOMUNIKASI VERBAL
-
Bahasa verbal adalah sarana utama untuk
menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan
kata-kata.
A.
ASAL USUL BAHASA
Bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Ketika
belum mampu berbahasa verbal mereka berkomunikasi lewat gambar. 500 tahun lalu,
manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, dan bahasa
lisan mulai banyak berkembang.
B.
FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
-
Untuk merancang solusi untuk memecahkan masalah
hidup
-
Paling mendasar berfungsi utnuk menamai atau
memberi julukan pada orang, objek, peristiwa.
-
Tiga fungsi bahasa (menurut Lary Barker):
1.
Penamaan: usaha untuk mengidentifikasi
2.
Interaksi: berbagi gagasan, emosi
3.
Trnasimisi Informasi: bertukar informasi
-
Tiga fungsi bahasa (menurut Book):
1.
Mengenal dunia disekitar kita
2.
Sarana untuk menghubungkan antar manusia
3.
Untuk hidup lebih teratur, saling memahami,
percaya, satu tujuan.
C.
KETERBATASAN BAHASA
1.
Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk
mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial (tidak melukiskan sesuatu secara
eksak). Contoh: mata kita bisa membedakan tujuh juta warna, tapi untuk
menyediakan nama satu persatu untuk semuanya itu, tentu sulit karena berarti
kita harus menyediakan tujuh juta nama.
2.
Kata-kata bersifat ambigu (tidak jelas) dan
kontekstual (tergantung konteks). Karena kita berasal dari latar belakang
sosial budaya yang berbeda-beda, ruang dan waktu dapat mengubah makna kata.
3.
Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa adalah PERLUASAN BUDAYA. Setiap bahasa menunjukkan suatu dunia
simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pemikiran, pengalaman batin, dan
kebutuhan pemakainya.
4.
Percampur adukan fakta, penafsiran (dugaan), dan
penilaian (kekeliruan persepsi).
Bedakan FAKTA dengan DUGAAN agar PENILAIAN MENJADI BENAR. Kita sering
mengganggap suatu peristiwa yang sebenarnya dugaan, kita anggap sebuah fakta.
D.
KERUMITAN MAKNA KATA (contoh: anak yang kencing
disebut menyanyi)
Kitalah yang memberi makna pada kata. Makna
dibagi menjadi dua:
1.
Makna denotatif: makna yang sebenarnya (murni)
2.
Makna konotatif: makna bercampur aduk dengan
berbagai sebab dan alasan
Makna muncul dari berbagai
hubungan khusus antara kata dengan manusia. Kita dapat menciptakan kata apa
saja dengan arti apa saja, sejauh berdasarkan KESEPAKATAN.
-
Macam-macam rival bahasa:
1.
Bahasa daerah VS bahasa daerah
Karena lagi-lagi sosial budaya (sosbud) yang berbeda, kata yang sama pun
bisa dimaknai berbeda. Contoh: “atos” dalam bahasa sunda bermakna “sudah”,
sedangkan dalam bahasa jawa bermakna “keras”.
2.
Bahasa daerah VS Bahasa Indonesia
Contoh: “sok” dalam bahasa indonesia artinya “sombong”, sedangkan dalam
bahasa sunda berarti “silahkan”. Setaip orang mempunyai gagasan pribadi
mengenai suatu konsep. Kondisi emosional dan motivasional individu juga
mempengaruhi makna yang ia berikan pada konsep tersebut.
3.
Bahasa Indonesia VS Bahasa Malaysia
Suatu negara menganggap bahasanya yang paling baik. Contoh: kereta di
Malaysia artinya mobil di Indonesia.
4.
Bahasa daerah/ Bahasa Indonesia VS Bahasa asing
lainnya
Contoh : Cincin dalam bahasa jepang artinya –alat kelamin- laki-laki.
E.
NAMA SEBAGAI SIMBOL
Fungsi pertama dari bahasa adalah penamaan.
Nama dapat mempengaruhi hidup anda. Nama bersifat simbolik, nama memberikan
suatu makna dan dapat mempersepsi cara perlakuan orang lain.
Contoh: anjing, babi à sama-sama nama hewan,
tapi kedua hewan tersebut memiliki konotasi buruk (biasanya digunakan untuk
mengumpat).
Nama juga bisa menyusahkan si empunya,
contohnya ada orang yang bernama khadijah, maka ia secara tidak langsung
harusnya bersikap baik dan santun seperti khadijah istri Nabi Muhammad dalam
agama Islam.
F.
BAHASA GAUL
-
Latar belakang yang berbeda menjadikan cara
berbicara juga berbeda.
-
Bahasa subkultural = Bahasa gaul = bahasa yang
punya arti khusus dalam golongan tertentu.
-
Fungsi dari bahasa gaul:
1.
Sarana pertahanan diri: agar tidak bisa dipahami
kelompok lain, terlebih kelompok lawan.
2.
Argot berfungsi sebagai sarana kebencian
kelompok, terhadap kelompok lain.
3.
Argot sebagai sarana memelihara identitas dan
solidaritas kelompok: membedakan mereka dengan kelompok lain.
-
Macam-macam bahasa gaul:
1.
Bahasa kaum selebritis
2.
Bahasa gay dan waria, bahasa selebritis mirip
bahasa gay.
3.
Bahasa waria
G.
BAHASA WANITA VS BAHASA PRIA
Wanita dan pria memiliki bahasa yang
belainan, ciri bahasa wanita adalah:
1.
Bahasa wanita tidak setegas bahasa pria, mereka
biasa menggunakan kalimat yang mengandung ekor tanya, seperti “isn’t it?’’ “Right?”.
2.
Kurang percaya.
Wanita menggunakan kata penguat, seperti “so”, “very”.
3.
Frase melemahkan, contoh “maybe, perhaps”.
4.
Hiperkorek (resmi)
5.
Lebih sering menggunakan kutipan langsung.
6.
Intonasi pertanyaan.
7.
Kurang rasa humor.
8.
Enggan menyumpah dan memaki.
-
Wanita: pembicaran hubungan (berpusat pada
perasaan, memilihari hubungan dengan orang lain)
-
Pria: pembicaraan laporan (berpusat pada
Informasi faktual)
H.
RAGAM BAHASA INGGRIS
-
Orang inggris: bicara berbunga-bunga, banyak
eufimisme.
-
Amerika: bicara langsung dan lugas.
-
Inggris filipina: khas karena dipengaruhi bahasa
spanyol.
-
Inggris australia.
-
Inggris singapura.
I.
PENGALIHAN BAHASA
Kita perlu menguasai bahasa mitra
komunikasi kita (minimal menguasai bahasa dunia, yaitu inggris)
1.
Kelemahan dalam penguasaan tata bahasa,
struktur, kosakata: menghasilkan terjemahan yang membingungkan. Contoh: dragonfly
bukan bermakna naga terbang tapi capung.
2.
Sejumlah kata serapan dari kata inggris
mengalami perluasan. Contoh: keluarga – famili (padahal dalam bahasa inggris:
family)
3.
Tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, karena
sulit mencari padanannya. Contoh: printer, mouse, file.
4.
Frase atau kalimat bahasa indonesia tidak bisa
diterjemahkan begitu saja secara kata per kata. Contoh: saya ingin buang air
kecil, jika di terjemahkan ke dalam bahasa inggris tentu saja tidak menjadi
begini, “I want to discard small water”.
J.
KOMUNIKASI KONTEKS TINGGI VS KOMUNIKASI KONTEKS
RENDAH
-
Konteks rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya
bicara langsung, lugas, terus terang.
Contoh: komunikasi pada program komputer.
-
Konteks tinggi: bersifat implisit, tidak
langsung, tidak terus terang. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan
non verbalnya.
Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara
berputar-putar tidak langsung pada inti masalah.
-
Orang indonesia cenderung berbicara tidak
langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.
Semoga rangkuman ini bermanfaat untuk kalian,
utamanya mahasiswa yang sedang banyak tugas dan ujian. Rangkuman ini bertujuan
mempermudah dalam proses belajar:) terimakasih banyak/29 oktober 2012/hamidah
mohon saran yang membangun jika memang masih ada kesalahan atau kekurangan :)
Langganan:
Postingan (Atom)

