Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label diary. Tampilkan semua postingan

5 April 2019

Pelukan Si Kampung Halaman yang Dingin


Pulang ke kampung halaman adalah hal yang menyenangkan, sebab di sanalah tempat tangis kita pertama kali pecah, di sana tempat kita pertama kali jatuh dari belajar sepeda roda dua, dan di sana pula tempat kita pertama kali mengerti betapa bermaknanya arti sebuah keluarga.

Kemudian pulang kampung menjadi sebuah ritual yang dinanti-nantikan setiap jiwa yang merantau. Bisa jadi ritual tersebut dilakoni hanya setahun sekali kala lebaran atau hari besar agama lain. Bisa juga ritual tersebut dilakukan dua kali, kala lebaran dan akhir tahun. Macam-macam. Aku sendiri yang merantau 246 kilometer jauhnya dari rumah, merasakan pulang kampung adalah momen luar biasa menyenangkan yang hanya bisa dirasakan 2 hingga 3 kali dalam setahun, sebab libur anak kuliahan tidak banyak, hanya tiap akhir semester saja.

Tapi pulang kampungku kali ini membawa rasa berbeda, selain menjadi momen bahagia, ada pula momen menyedihkannya. Aku baru menyadari bahwa diriku mulai berubah. Benar-benar baru menyadari. Kampung halamanku, Malang, Jawa Timur, memang daerah yang terletak di dataran tinggi, sehingga hawa dingin adalah sahabat kami. Bagiku, suhu belasan derajat dan mandi dingin menjelang subuh bukanlah mustahil, sangat kuat tubuh ini menahan gigil. Namun, baru dua tahun aku menetap di Jogja, tubuhku ternyata sudah berubah. Aku pulang kampung dan merasakan dingin sekujur tubuh, dengan ujung jari tangan dan kaki yang sedikit beku tak nyaman.

Wahai kampung halaman, darah yang mengalir di nadiku seharusnya masih darah Malang, namun ternyata Jogja sudah cukup mengurat di tubuhku. Baiklah, aku terima dengan suka cita segala perubahan itu. Aku siap dengan segala perubahan-perubahan lainnya, dan kota-kota lain yang harus kutaklukkan. Kini, aku mungkin telah melebur dalam Jogja, namun aku tidak akan pernah mau tenggelam, tanpa membawa Malang.

16 Desember 2015

#pagiperpustakaan lepas dari tiga bulan :')

Barangkali memang tepat bila ada orang yang berkata “apa yang kita baca mempengaruhi diri kita”. Saat ini saya tengah mengalami hal tersebut, yang praktis dalam tiga setengah bulan ini berkutat dengan buku-buku karangan wartawan tiga zaman, Rosihan Anwar.
Sebelumnya, tidak pernah tersentuh sama sekali oleh saya buku-buku karangan beliau, bahkan sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi saya merasa berdosa tidak pernah mengenal nama beliau sebelumnya. Mungkin masa kejayaan nya sebagai wartawan terlampau jauh dari masa studi saya saat ini. Rosihan Anwar adalah pemimpin harian Pedoman yang menjadi koran nomor wahid di Indonesia kala tahun 50-an. Bila boleh mengutip pendapat Prof Alwi: Pedoman itu sebagaimana Kompas masa kini, yakni koran tempat diskusi dan koran yang mampu membuat tema-tema yang diangkat selalu jadi perbincangan seluruh rakyat Indonesia.
Tiga setengah bulan mencoba bermesra dengan sosok Pak Ros (sapaan akrab beliau) demi mendapatkan inti sari pola pemikirannya terkait Jurnalisme Indonesia yang berguna untuk Tugas Akhir perkuliahaan saya di Universitas Brawijaya, menjadikan saya kemudian tau banyak hal, mengamati dan peduli berbagai hal, yang sebelumnya sama sekali tak terlintas dalam benak.
Judul skripsi ini pula yang kemudian membawa saya melakukan perjalanan ke Jakarta pertama kali seorang diri menggunakan kereta api selama 17 jam, untuk menemui kerabat sekaligus kolega Pak Ros yakni nama yang sebelumnya sudah saya sebutkan diatas: M. Alwi Dahlan. Beliau kemudian akrab di sapa dengan panggilan Prof Alwi sebab menjabat guru besar FISIP Universitas Indonesia.
Perjalanan menemui mantan Mentri Penerangan era Soeharto ini juga perlu perjuangan. Saya harus memulai dengan pendekatan pada sekretaris jurusan UI terlebih dahulu yakni Dr. Eduard Lukman, agar mendapat rekomendasi wawancara pada beliau. Dari pengalaman tersebut ada pelajaran penting dalam hidup yang selama ini tak pernah saya temui secara langsung namun hanya kerap kali saya dengar, yakni kalimat “padi semakin berisi semakin merunduk”. Ini benar saya temukan pada sosok Prof Alwi Dahlan, sebab usai menghubungi beliau via pesan singkat dengan harapan supaya tak menganggu kegiatan, justru ada satu panggilan yang mendarat di handphone saya kala tengah bergulat dengan ratusan lembar koran Pedoman di Perpusnas jalan Salemba. Ada suara yang tak cukup jelas dari sebrang telfon memulai percakapan sebagai berikut: “Halo, saudari Hamidah? Saya Alwi Dahlan. Saya persilahkan ke rumah saya jika hendak wawancara terkait Pak Rosihan Anwar”
Seketika kemudian haru menguasai dada dan mata, ini bukan sekedar perasaan bahagia sebab proses wawancara skripsi saya terjamin lancar, namun sebab sikap seorang “Manusia Komunikasi” (buku Manusia Komunikasi adalah kumpulan tulisan rekan Alwi Dahlan dalam rangka memperingati ulang tahun beliau ke-75 tahun) yang kemudian sangat rendah hati dan memberikan saya pelajaran maha berharga.
Dari sosok Prof Alwi, kemudian saya kembali lagi pada sosok Pak Rosihan. Muncul wajah beliau yang ‘terlalu’ sering saya tatap di sampul buku “Menulis dalam Air: sebuah otobiografi”. Saya sangat terharu. Betapa, Pak Ros andai saya sempat bertemu, barangkali saya hanya bisa merunduk malu.... belum apa-apa yang saya lakukan terkait skripsi ini namun keluhan demi keluhan tak henti terlontar pagi siang malam. Sepanjang tiga setengah bulan ini saya baru sadar, munafik memang bicara tentang skripsi tanpa peduli ijazah dan gelar, tapi dibalik kedua hal tersebut kemudian saya temukan soul dalam tugas akhir ini. Bukan, bukan hanya tentang S.Ikom semata, tapi lebih dari pada itu, pengalaman, pelajaran, cara pandangan, perjuangan, dan semua tentang Pak Ros dan koleganya yang kini sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu atau masih hidup dalam usia udzur, semuanya menginspirasi saya... semua nya kemudian menjadi cambuk bagi saya, bahwa hidup memang akan selalu berakhir, sehingga pertanyaan nya bukan kapan akan berakhir, tapi apa yang bisa dilakukan sebelum berakhir?

Sebagai penutup tulisan yang tanpa sengaja saya ketik dalam keadaan mata berkaca-kaca ini, saya hendak kutip petuah dari Buya Hamka (rekan Pak Ros juga), sebagai berikut:
Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga Hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja.

Sebab itulah mari kita sama-sama cari makna dalam hidup ini. Semoga kita bukan golongan orang-orang yang hanya hidup sekedar hidup. Amin.  / 121215

18 September 2015

Penjaja Koran dan Free Wifi


#pagiperpustakaan kali ini lagi ogah bahas skripsi hehehe, sebenernya bukan apa-apa sih, tapi karena ada hal lain yang lebih menarik perhatianku pagi ini di perpustakaan, selain berlembar-lembar kisah hidup Pak Rosihan Anwar :)
Di teras depan perpustakaan yang mulai sesak dengan mahasiswa ini, aku melihat lelaki bertopi abu-abu tengah menjajakan sesuatu sambil memekikkan kata “Koran.. koran”, kemudian menunjukkan sampul depan kertas tersebut, sebuah foto bencana alam banjir dan tanah longsor di Aceh.
Berbicara tentang berita tersebut, sebenarnya aku sudah membaca dari internet sejak beberapa waktu yang lalu. Dapat dengan lengkap kuperoleh informasinya, bahkan link berita lanjutannya pun langsung muncul dibagian akhir berita. Dengan sangat mudah, runtut, dan rinci, dalam sekejap aku bisa mengetahui kronologi kejadian apapun di belahan dunia manapun, hanya dengan bantuan Internet, dan... tentu wartawannya (hehe, ini yang paling penting. Ada internet tanpa ada wartawan, mustahilkan kan menjadi sebuah berita?)
Kembali kulihat si bapak penjaja koran, sejenak kemudian ku terbangkan pandangan ke bagian atas teras perpustakaan. Di sana tergantung sebuah benda berbentuk bulat pipih yang tak henti berkedip-kedip dengan lampu warna hijaunya. Kita semua sepakat menyebutnya wifi.
Jadi.... kira-kira mana yang lebih dipilih manusia masa kini, terutama dalam lingkup kecil perpustakaan universitas? Membeli kertas koran seharga 4000 rupiah, atau mengeluarkan laptop yang dibelikan Ayah kemudian menekan tombol turn on wifi dan selanjutnya dapat berselancar di dunia tanpa batas.
Penjaja koran dan wifi gratis, menjadikanku miris. Ternyata, tanpa kita sadari, dunia telah perlahan-lahan menelan manusia-manusia setia seperti si bapak penjaja koran. Perlahan-lahan dunia modern telah membatasi kita berinteraksi secara langsung atau tatap muka dengan orang lain. Kita terkadang memilih untuk lebih praktis, apatis, dan menganggap bahwa meninggalkan komentar berupa tulisan di kolom pembaca digital sudah bisa disebut sebagai salah satu jenis interaksi.

Coba bayangkan, alangkah indahnya jika di pagi se dingin ini di Kota Malang, kita hangatkan diri dan hati (terutama) untuk sejenak menyapa penjaja koran, berbasa-basi menanyakan apa headline koran A dan koran B? Kemudian membagikan senyuman sembari menyodorkan uang 5000-an.
“Kembaliannya ambil saja, Pak.”
“Terimakasih Mbak, terimakasih :)”
Ah.... alangkah indahnya dunia, kala mendengar ungkapan terimakasih nan tulus diiringi rekah senyum yang nampak simetris di bibir pekerja keras seperti nya. Barangkali, ketika pulang nanti si Bapak bisa ceritakan pada anaknya bahwa manusia-manusia yang duduk dibalik gedung kokoh perkuliahan bukanlah orang-orang apatis yang ‘sok serius’ dan ‘sok sibuk’, tapi mereka adalah orang-orang baik yang ikhlas berbagi, walau hanya senyum di pagi hari. Siapa tau si Bapak akhirnya punya mimpi, menyekolahkan anaknya hingga ke universitas nanti?
Haha aku terlalu panjang berangan ya?
Setidaknya, pagi ini aku sudah memutuskan membeli koran itu dan berusaha membagikan senyum semangat terbaik yang kumiliki :)

#pagiperpustakaan, jangan lupa tersenyum dan bagikan kebaikan 

1 Oktober 2014

Duduk

Aku berniat memosting tulisan ini semalam, sebab momennya sunggu pas, yaitu akhir dari bulan september dan awal dari musim hujan. Ya.. kemarin 30 september adalah rintik hujan pertama yang ku tahu jatuh di tanah Malang. Sungguh.. musim hujan tentu memiliki banyak cerita menyenangkan :)

Minggu lalu, kaki kananku sekit sekali, selama berhari hari. Sudah kupijat pijat sendiri, sudah pula kuolesi balsem, dan berbagai cara lain kutempuh demi menghilangkan rasa linu yang tak kunjung reda.
Bahkan, aku sering menggantungkan kakiku di tembok, sembari merebahkan badan di kasur, beberapa orang mengatakan itu akan membantu meredakan nyeri.
Kaki yang sakit itu 'dipicu' oleh kebiasaan duduk ku yang mungkin kurang tepat. Kegiatan didalam ruangan kelas dan berbagai aktivitas seabrek lainnya memaksaku mau tak mau harus lebih banyak duduk, ketimbang berdiri atau jalan jalan.
Duduk, akan memuat berbagai macam gaya yang dapat menimbulkan makna makna. Misal, seorang laki-laki akan cenderung duduk dibangku dengan membuka lebar kaki nya, agar terkesan gagah dan manly. Terkadang laki-laki dewasa, juga akan duduk dibangku dengan menopangkan satu kakinya ke kaki yang lain hingga membentuk angka empat atau sudut lancip.
Nah.. begitupun dengan seorang wanita, yang memiliki gaya tersendiri dalam duduknya. Wanita kerap duduk dibangku dengan menopangkan salah 1 kakinya ke kaki yang lain, dengan posisi kaki merapat tertutup. Hal ini akan menimbulkan kesan anggun, feminim dan seterusnya. Hingga, saking lekatnya makna tersebut terhadap masing masing gaya duduk, bisa jadi seorang pria yang duduk dengan gaya wanita akan dianggap tidak keren, banci, dan lain sebagainya.

Aku, melakukan hal yang sama sebagai seorang wanita. Sebenarnya aku duduk dengan gaya wanita seperti yang dijelaskan diatas, bukan untuk mengesankan apa apa. Sebab, mungkin sudah lazimnya seorang wanita duduk demikian, maka secara alamiah aku melakukan hal yang sama, yaitu duduk dengan posisi kaki menopang pada salah satu kaki lainnya.
Karena terlalu sering melakukan posisi tersebut dalam dudukku. Walhasil kaki kananku pun sakit, linu, dan pegal tak reda reda.

Dari tragedi kaki sakit ini, membuatku merenung sesaat. Betapa, kaki saja bisa sakit jika ditimpa, kaki saja bisa pegal tak karuan jika harus menopang kaki yang lain, padahal mereka sepasang, sudah seharusnya beriringan dan saling membantu dalam segala hal. Bagaimana dengan manusia, yang walaupun berkasih sejatinya bukanlah benar benar sepasang. Bagaimana dengan manusia yang terkadang terlalu bergantung pada yang lain, terlalu menekan, terlalu menuntut dan lain sebagainya, bukankah lama kelamaan akan ada satu belah pihak yang merasa tersakiti? Merasa linu, ngilu, pegal dan lelah? Belajarlah dari filosofi sepasang kaki wanita yang tengah duduk. Belajarlah. Mari kita belajar, memahami, bijaksana, dan mandiri. / hamidah 27 september 2014

27 Agustus 2014

Cukup aku, Jangan kalian!

Senin, 4 agustus 2014 (sedikit terlambat kuposting tulisan ini, sebab sebelumnya kusimpan saja di memo handphone)

Ini adalah awal bulan agustus yang semoga berfaedah untukku dan orang orang sekelilingku.
Alhamdulillahirabbilalamin, hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sebuah sekolah sma islam yang dirintis orang tua ku dan teman temannya.
Sebenarnya, aku mengajar di sma tersebut hanya dalam waktu singkat, barang sebulan atau dua bulan saja, sebab hanya untuk menggantikan guru mata pelajaran yang tengah cuti melahirkan.
Namun.. hari ini adalah pengalaman berharga di usiaku yang ke 20 tahun. Mengenakan seragam keki berwarna kuning tua, kemudian memasangkan jilbab di kepalaku, mengendarai motor dan lima belas menit kemudian memasuki gerbang sebuah sekolah yang terbilang cukup sepi di hari senin pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran.
Kutarik nafas panjang, berharap segala keberkahan dan kebaikan mengiringi setiap langkah langkah ini. Sebab ada hal yang lebih penting dan mulia dari sebuah pengalaman yang dikejar kejar jiwa muda, yaitu semangat perjuangan.

Tak lama, aku pun segera menemui seorang guru yang sudah lebih dulu datang di ruang kantor. Beliau tengah membersihkan ruangannya sendiri, sebab seperti yang telah ku sebutkan: ini adalah perjuangan, sehingga tak ada pejuang yang bermalas-malas. Pejuang tak boleh manja meminta tukang sapu membersihkan kantornya, sebab gajinya sendiri bulan lalu bahkan belum pula turun dan dapat dinikmati.
Setelah membantu membersihkan ruang guru, aku menemui murid-murid yang juga disibukkan di hari pertama masuk sekolah. Mereka menyapu ruang ruang kelas sembari bersenda gurau dengan rekan. Melebur rindu yang menggumpal setelah berminggu minggu tak bersua.

Segera setelah kelas-kelas bersih, para murid kelas 1 hingga kelas 3 pun diarahkan menuju ruangan yang paling besar, kemudian mereka mendapatkan wejangan wejangan mengenai kurikulum 2013 sebagai acuan terbaru, juga mengenai peraturan peraturan sekolah yang diperketat.
Sembari menyimak pula apa yang tengah disampaikan bapak guru yang saat itu menjadi rekan ku, aku memandangi satu persatu wajah murid murid itu, yang sejatinya usia mereka hanya selisih dua sampai tiga tahun lebih muda dariku.
Oh... mereka sungguh muda.. anak anak muda... aku juga pernah menjadi mereka, duduk diam diatas bangku bangku kayu yang kaku, kemudian mendengar petuah petuah guru yang dulu aku sebut kolot dan membosankan. Oh... mereka sungguh muda, bahkan aku masih ingat betul pernah menjadi remaja remaja berseragam abu abu putih seperti mereka, aku pernah menjadi seperti mereka yang merasa mulai dewasa dan paling benar. Ya.. beberapa tahun yang lalu aku adalah mereka, dan aku menyesali masa masa itu.

Kuamati lagi satu persatu murid murid itu, mereka cantik, mereka hitam, mereka pendek, tinggi, para gadis berjilbab, para lelaki berambut cepak, beberapa yang lain rambutnya panjang bergaya anak band. Menyedihkan... menyenangkan... kasihan...
Beberapa rasa tiba tiba serentak beradu dalam batinku, hingga tak mampu menciptakan mimik muka yang menarik di wajahku pagi itu.

Aku ingat betul.... justru karena aku ingat betul pernah menjadi manusia setengah setengah seperti mereka, justru karena aku tau betapa merugi membuang masa sma hanya dengan bermain main atau sibuk gengsi dan gaya belaka, justru itu aku tau.. aku terlalu tau hingga kini aku telah sadar.. betapa banyak kutumpahkan waktuku diperjalanan dengan sia sia, betapa aku pernah lama sekali mendholimi diriku sendiri... Karena itulah aku merasa cukup aku yang pernah begitu, jangan kalian.
Aku ingin kalian sadar, murid murid manisku.., bahwa percuma sibuk dengan kawan, lawan, suka palsu, main main, dan haha hihi mu itu... percuma.. sungguh lebih baik kau rintis masa depan dan kau bangun istana mimpimu, hingga saat dewasa yang sesungguhnya telah tiba.. kau tak merasa kosong, kau tak melompong.

Berhentilah menipu orang lain terlebih menipu dirimu, berhenti murid murid sayangku.. cukup aku... cukup aku sebagai gurumu kali ini, yang pernah merasa sia sia di masa lalu, jangan kalian./ Hamidah 08:18 pm

27 April 2014

Merhaba Rajab! 

Tiba-tiba sudah Bulan Rajab saja, tiba-tiba pula sudah usia 20 saya hahaha, sebentar lagi bulan puasa, bulan bulan penuh lomba, lomba meraih ridho-Nya, lomba meraih surga, lomba menjadi lebih baik, dan... berlomba-lomba pula mencapai hajatan-hajatan yang belum diizinkan Allah Ta'ala. Barangkali jika kita rajin merayu pada Tuhan lewat doa dan perangai yang mulia, Beliau akan iba kemudian bimsalabim :)
aku masih akan terus percaya "MAN JADDA WA JADDA". usaha keras takkan pernah berkhianat, Hamidah. /27 april 2014, disela hiruk pikuk kehidupan, ditengah karomah dan kasih sayang-Nya. Innallaha ma'ana

21 April 2014

Generasi yang dibungkam mulutnya dan haram bertanya

Hari ini aku ke pasar minggu kota malang, pasar yang hanya akan ada pada hari minggu pagi ini menjual berbagai macam barang dengan harga miring.
Ada satu cerita yang kubawa dari jalan jalan pagi yang membuat gerah itu..
Ketika ada seorang penjual mainan anak berupa tikus tikusan, katak, cicak, dan hewan hewan semacam itu yang berbentuk lentur sekali seperti jeli, jika mainan itu dilempar maka akan melentur seolah hendak pecah, tapi akan kembali lagi ke bentuk semula. Sontak beberapa anak kecil sibuk melongokkan wajahnya melihati mainan ajaib tersebut, jangan kan mereka yang masih kecil, aku dan kakakku yang sudah dewasa saja cukup terkesima melihatnya, dan inilah kalimat yang muncul dari seorang anak kecil laki laki berkaus lengan pendek.
Mungkin kini dia masih duduk di sd kelas 1 atau 2, "pak.. ini cara buat nya gimana?" Itulah pertanyaan sederhana darinya, sungguh sederhana bukan.
Bapak penjual mainan yang bertopi seperti bang ocit ala sctv itu pun menjawab "ya nggak buat, ini bapak juga beli" jawabnya enteng. Tatapan anak kecil itupun masih penuh tanya, dahinya mengkerut sedikit, tanda tanya masih menyeruak di kepalanya, tentu saja aku tau sebabnya, karena pertanyaannya tak membuahkan jawab.
Aku pun merenung sejenak, inilah generasi kita.. generasi kecil.. daun muda indonesia yang kelak memimpin bangsa. Mereka pandai, mereka cerdas, banyak pertanyaan pertanyaan hebat didalam benak, namun sekian banyak itu pula yang tak mendapatkan jawab.

Sadarkah, kita di didik untuk tidak bertanya. Kita di didik untuk tidak tahu asal mula, kita di cetak menjadi generasi yang suka praktis, apatis, dan tau final saja. Kita tak pernah diajari proses, yang penting adalah hasil. Generasi konsumen bukan produsen. Seperti halnya mainan tadi, andaikan si penjual bukanlah distributor akhir dari china atau manusia manusia berlabel luar negeri, andaikan si penjual tadi adalah produsen nya, maka tentu pertanyaan bocah kecil itu mudah terjawab, pertanyaan yang bisa membuahkan pengetahuan dan ilmu berharga. Siapa tahu anak kecil itu mampu berinovasi dan melahirkan ide lebih cemerlang, melakukan perbaikan terhadap produk yang sudah ada. Menyenangkan bukan. Jika sudah begini salah siapa? Sebenarnya aku tak benar benar ingin tahu siapa subjek yang salah, mungkin lebih tepat jika kita memperbaiki kesalahan yang sudah berlangsung cukup lama. Mari menciptakan generasi produktif yang inovatif dan berkualitas./Hamidah 20 april 2014, menjelang lahirnya pejuang yang membuka sekat sekat kebodohan di masyarakat pribumi, salam kemerdekaan yang hakiki RA. Kartini

11 Februari 2014

Bahu Jalan

Lagi-lagi aku mengomentari benda benda mati yang membubuhkan bagian tubuh manusia sebagai kata penjelasnya.
Jika aku sempat menanyakan dimanakah letak leher langit jika ada yang biasa kita sebut kaki langit, kini aku menanyakan seberapa besar ukuran tubuh jalan raya, karena kemarin sore kala aku menunggu angkutan di pinggiran trotoar, aku mengamati bahu jalan yang nampak muram menyedihkan. 
Bahu jalan, dimana sampah-sampah menepi dari hembus laju bus kota yang tak pernah bisa santai.  
Bahu jalan, dimana aku berdiri menunggu motor-motor itu mau berbaik hati, memberi sedikit kesempatan pada ku untuk berpindah posisi ke sebrang jalan. 
Bahu jalan, rupanya juga tempat untuk bersandar sambil menangis pilu kala lelah hidup menghinggapi mu. 
Bahu jalan, mungkinkah bisa sama dengan bahu manusia?
Maukah ia menerima keluh, air mata, bahkan ingus kita?
Bahu jalan, semoga sebaik bahu-bahu manusia yang tulus menerima sandaran kawannya.
/Hamidah 10 Februari2014 Catatan perjalanan hari ini

buku anak smp itu berjudul "indahnya masa pubertas"

Siang ini ditengah-tengah liburan semester yang kuhabiskan di kampung halaman, aku harus ke Kota Malang untuk menyelesaikan urusan technical meeting mc. Seperti biasa, aku akan lebih memilih naik angkutan umum colt daripada bus. Kebetulan siang ini angkutan yang kunaiki penuh sesak dengan anak-anak berseragam yang baru pulang sekolah. Para pelajar itu nampak mengenakan baju putih dan bawahan berwarna putih pula, karena ini adalah hari senin. Di lengan sebelah kanan mereka ada sebuah badge bertuliskan "SMPN 4", tentu saja itu adalah sekolah dimana aku menempuh ilmu kurang lebih 5 tahun yang lalu. 
Ku amati saja muka-muka polos mereka, yang barangkali tak jauh beda dengan "hamidah 5 tahun lalu", hmmm aku mengulum senyum di bibir yang sengaja kutahan. 
Pelajar kecil berjilbab yang duduk bersebrangan denganku, bahkan masih menggunakan badge berwarna hijau dan tertera cukup besar angka VII Romawi disana, itu menunjukkan ia masih duduk di bangku kelas 7 atau 1 SMP. Ia memangku sebuah buku berjudul "Indahnya Masa Pubertas". 

Kali ini masih bisakah aku menahan senyum? Tentu saja judul di sampul buku itu membuatku kelimpungan karena berusaha menahan senyum didalam angkutan sesak ini. 
Aku pun berhasil menenangkan diri.
Pada awalnya aku memang menganggap judul buku itu cukup "konyol" dan bahkan "kontroversial", namun aku tiba-tiba termangu... mengeja kembali buku yang berbentuk seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) yang kini masih diatas pangkuan bocah manis itu. 

Ya, bukankah masa pubertas memang indah. Bukankah masa-masa SMP seperti mereka memang menyenangkan? Berangkat sekolah pukul setengah tujuh, kemudian belajar hingga siang dan pulang. Tidur siang dan bangun berangkat mengaji ke TPQ lantas malamnya mengerjakan PR dan kembali bermimpi indah. Tidakkah kau merindukan schedule yang dulu kau anggap sedemikian monoton itu? 
Belum lagi jika hari minggu, pergi bermain kerumah teman dengan dalih mengerjakan tugas kelompok yang pada akhirnya justru berganti agenda menjadi sarana bermain dan bercerita. Berenang ke kolam renang umum yang tentu saja sangat akrab di telinga anak-anak kecil di Kepanjen. 
Tentu berbeda dengan sekarang, kau seorang mahasiswa yang harus berkejaran dengan jadwal tak menentu. Harus sibuk luar biasa hingga tengah malam bahkan sesekali tanpa tidur sedetikpun, namun kau juga tak boleh kaget kala harus menganggur tanpa kerjaan sama sekali hingga tiga bulan karena libur semester genap. 
Sekali lagi "indahnya masa pubertas" boleh jadi benar, masa itu memang indah, masa-masa mulai mengenal mana yang tampan dan masa dimana mulai malu-malu karena rasa suka terhadap lawan jenis.

Tapi, jangan tertipu kemasan, karena kebanyakan yang platinum otaknya akan jauh lebih memukau kala dewasa, ketimbang yang platinum wajahnya. Benar begitu bukan? :)
Hamidah 10Februari2014 #kisahangkutan

8 Februari 2014

Melangitkan doa



Selesai. Aku selesai menyimak habis-habisan dari akhir hingga awal
Aku membaca terbalik fragmen fragmen hidupmu yang kau selipkan lewat kata demi kata yang aku tak tahu kesungguhan dan kenyataan itu.
Nyatanya kita jauh.
Aku hanya pengintip yang tak hendak muncul kepermukaan,
Terus saja berdiam dibalik selimut kulit domb,a dan mencoba menghangatkan diri dari kemenggigilan ini.
Jika jodoh, takkan kemana, ingatlah Tuhan akan menghimpun segala yang terserak. 
Sejauh apapun jarak, bahkan andai seluruhnya beda tiada sama, jika Allah “Ya”, semua akan “Ya”.

“Stalking itu adalah siap tau masa lalunya dan tidak boleh ada kecewa setelahnya”

29 Agustus 2013

#quotesoftheday

Dan jika kau biarkan dirimu mengalir seperti air, maka kau tak ada beda dengan sampah.
Terjang! Bongkar! Jadilah air yang besar! Air yang kuat.

Inilah dunia simbol. Ketika kau seolah disembah sujudi karena mahkota yang menghias batok kepalamu, bukan apa yang ada didalam situ.

BERSYUKURLAH UNTUK SETIAP HAL KECIL DALAM HIDUP KITA :)

Seharusnya yang perlu kita tau bukanlah kehidupan selebritis, tapi kehidupan wakil rakyat. Siapa mereka, bagaimana latar belakang keluarganya, bagaimana gaya hidupnya, kemana saja mereka pergi dan berkunjung, dan apa saja yang mereka lakukan untuk rakyat. Itu bisa menjadi media monitoring, sekaligus mengenal lebih dekat siapa orang yang kita sebut "wakil rakyat" itu/hamidah 29 agustus 2013/ pemilihan gubernur jatim.

belajar menghargai

Semua yang lama pernah menjadi baru.
Semua yang hina pada awalnya pernah dipuja.
Semua yang usang dulu pernah merasa mengkilat.
Semua yang lama pasti terlahir dari kebaruan.
Tak ada yang tiba tiba buruk.
Tak ada yang mendadak lawas. 
Cintailah sebagaimana ia menjadi baru,
Pujilah sebagaimana ia tak patut dicaci.
Jangan lupakan manis, walau kini telah menjadi sepah.
Setidaknya sepah tak berubah menjadi pahit.
Belajarlah menghargai.
Hamidah 29 agustus 2013/di tempat penambal ban memungut "bagiannya" dari Tuhan

8 Agustus 2013

Di ambang Pintu Perjuangan.


Entah kala itu tanggal berapa pertama kali kuinjakkan kaki ditanah basah desa kucur. Desa asri nan sejuk yang jauh dari hiruk pikuk kota. Basi mungkin menggambarkan setting desa subur seperti ini, namun takkan basi jika kau berkunjung sendiri. Sungguh, teramat benar, jika ada yang bilang “Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke Bumi” dan bahkan dengan melihat nuansa alami ini seolah-olah saja dulu surga pernah bocor dan menumpahkan  keindahan nya di tanah desa kucur.

Mobil biru itu berhenti dihalaman mungil masjid yang belum jadi. Aku mengernyitkan kening dan menyipitkan mata menyaksikan sekeliling. Terlalu sederhana. Bukan aku butuh mewah, tapi ini terlalu sederhana jika dibandingkan mushola-mushola mungil yang bertebaran di kota yang selama ini aku dan teman-teman tinggali. Kontras sekali. Bahkan mushola desa ini belum pula jadi. Temboknya masih berwarna abu-abu semen, hingga nyaris lumutan, entah.. mungkin karena terlalu lama tak segera disentuh cat.
Namun seketika lamunanku buyar, saat guru ku meminta aku dan beberapa orang teman yang ikut tinjau lokasi, untuk bergegas menjajari langkah beliau memasuki masjid. Disana sudah ada beberapa pria dewasa yang disebut ustad dan beberapa wanita dewasa pula yang disebut ustadzah. Kami berjalan perlahan-lahan, sedikit kikuk, kami dihujani tatapan oleh ustadz, ustdzah dan santri-santri kecil berwarna-warni bagai pelangi.
Berbagai corak, bajunya maksudku. Tapi kala itu aku merasa mereka semua kembar, muka mereka semua nyaris sama tak ada beda. Aku masih ingat betul itu, mereka melongo melihat muka-muka kami, dengan polos minim ekspresi, dan jika aku boleh menerka, maka kalimat inilah yang mungkin sedang berkeliling tawaf di benak mereka, “Siapa gerangan muda mudi datang dari dalam mobil biru itu? Asing sekali mereka, dengan tatapan nya yang mencoba bersahabat. Hendakkah mereka ikut mengaji bersama kami? Ah… mana mungkin, mereka sudah terlalu besar. Atau… mungkin benar, siapa tahu mereka belum bisa mengaji?” 

Dan jika itu pertanyaanya, maka kami akan menjawab, “Mungkin kami sudah bisa mengaji, namun kami belum bisa membaca. Kami sungguh belum bisa membaca hati-hati suci kalian, adik-adik. Kami belum bisa membaca tatapan kalian, kami sungguh buta akan bahasa tubuh kalian. Dan kini kami sedang mencoba, kami memulai nya dari sini, perjalanan dakwah dan perjuangan untuk mencerdaskan.”
Selamat datang di desa Kucur, untuk memulai langkah tegap perjuangan. Perjuangan ini bukan tentang seberapa pintar kalian, bukan seberapa hebat jurusan di perkuliahan, bukan seberapa banyak prestasi yang diraih, tapi setangguh apa kalian mampu menghadapi kemalasan, ketidakpedulian, dan seleksi alam.  
Innalallaha ma’ana.


-Hamidah Izzatu Laily for @CMCmalang

22 Januari 2013

Leher langit.


Jika kau pernah dengar kaki langit, maka kau juga harus dengar leher langit
Kaki langit ada di ujung lautan
Ada di ujung padang rumput nan lengang
Namun, dimana kau bisa temukan leher langit?
Apakah benar langit adalah tubuh, yang punya kaki-lutut-perut-leher-dan kepala?

Langkahkan kakimu sedikit kuat, berat menaiki beberapa anak tangga
Ketika sampai di lantai tiga, duduklah di depan jendela
Pandanglah apa yang didepanmu
Warna blur antara biru muda dan putihnya, itulah leher langit
Rupanya langit sedang menelan kacang
Terlihat lehernya bergerak-gerak cukup membuatku takjub dan tergoda

Leher langit, mustahil tapi ini nyata.
Sayang jika kau tak disini ikut melihatnya.

(lantai 3 rumah sakit wava husada-22 januari 2013-menunggu ibuku yang sedang dalam masa penyembuhannya-get well soon mom)

3 Januari 2013

NOL kepedulian sosial

Siapa bilang orang merokok itu solidaritas nya tinggi? dengan alasan karena mereka akan saling membagi rokok dengan cuma-cuma pada sesama perokok? dengan dalih saling meminjami korek adalah cermin dari solidaritas tinggi? ARGUMEN JONGKOK! mereka solid dengan sesama perokok tapi merugikan yang non-perokok. bandel banget ya emang, tema ini udah jadul lho sebenarnya, tapi serasa masih hot topic.dan kali ini aku punya sebuah cerita tentang perokok, yang membuktikan bahwa mereka bukanlah manusia dengan solidaritas tinggi.

sore itu disebuah angkutan umum Kota Malang, yang kecil, sesak, dan pengap, bertepatan saat itu hujan turun cukup deras. Jendela kaca angkutan ini pun sengaja ditutup agar air hujan tidak masuk. kali ini aku duduk di bangku belakang tepatnya paling pojok didekat jendela.
Rasa gerah didalam angkutan ini benar-benar terasa, walau diluar sana hujan namun karena sesaknya angkutan ini dan keadaan jendela yang ditutup rapat, aku benar-benar merasa pengap kekurangan oksigen. bayangkan mobil angkutan sekecil ini ditumpangi oleh banyak orang namun tanpa ada pertukaran udara yang baik. walhasil, kita seolah berebut oksigen disini.
dan masuklah seorang pria dengan temannya yang terlihat cukup basah karena hujan, sembari mengibas-kibaskan bajunya yang basah dia mulai duduk di bangku depanku. rupanya dia membawa rokok sejak dari luar sana, dan entah kenapa dia tak jua mematikan rokok berasap itu ketika masuk kedalam angkutan ini.
aku yang cukup terganggu dengan asap rokok inipun mulai berinisiatif untuk membuat batuk bohongan yang sengaja kujadikan berlebihan, kuharap agar Bapak si perokok ini akan merasa tersindir dengan batukku dan mematikan rokoknya.
akupun membuat batuk yang pertama, namun bapak ini masih tak tersindir. dia tetap saja mengihisap batang rokoknya.
batuk yang kedua ku keluarkan, sampai batuk kelima kuranglebih, bapak ini masih tetep stay cool dengan rokoknya, kali ini dia malah terlihat asyik, terlihat dari posisi duduknya yang nyaman dan tak terlihat ada beban sedikitpun.
akupun mulai jengkel, disini itu banyak sekali orang, angkutan ini sudah cukup pengap sebelum datangnya bapak ini bersama rokok sialannya itu. dan lebih parahnya disini ada anak bayi yang masih dalam gendongan, dia terus menangis mungkin karena memiliki keluhan yang sama dengan semua penumpang yang ada disini yaitu "gerah".
suasana kacau! aku penat! pengap! dan bapak ini gak sadar sadar, emosiku memuncak.
"Pak permisi, bisa tolong dimatikan rokoknya." aku langsung nerocos karena hati ini sudah dongkol dan tak kuasa menahan, kalau masih dipaksakan untuk nahan bisa meledak.
"Lho, kenapa mbak?" dengan enteng tak merasa bersalah dia malah bertanya.
sebenarnya aku ingin membantu nya membuka mata, mungkin dia kesulitan melihat keadaan dan orang disekelilingnya yang tersiksa dengan kelakukan rokok nya itu!
"Pak, mohon maaf ya, ini sudah pengap, kita semua sesak pak, itu juga kasian ada anak bayi. Saya coba tahan e kok ya nggak kuat akhirnya" sedikit jutek kali ini kalimatku, namun kuusahan agar tetap sopan walau aku harus bicara dengan orang yang menurutku "TIDAK SOPAN".
"Iya pak saya juga nahan dari tadi, sesek" seorang ibu disampingku berargumen juga.
"iya nih" mbak mbak yang ada di samping bapak itu, juga bicara.
dengan muka jengkel bersungut, bapak ini pun akhirnya menekan ujung rokoknya yang menyala, ke lantai angkutan umum, kemudian binasalah si laknat rokok itu.
aku tersenyum simpul, kemudian bersorak dalam hati "yes, menang", cukup puas melihatnya menggerutu tak terima, yang akhirnya mematikan juga rokok itu.


benar-benar suatu pelajaran besar untuk kita semua. cobalah jangan terfokus pada dirimu melulu, hidup ini tak berkutat pada kamu dan apa keinginanmu. sesekali cobalah tengok sekelilingmu, dan katakan "aku peduli dengan lingkunganku". maka lingkunganmu akan ikut peduli pula padamu, kemudian membantumu mencapai apa yang menjadi keinginanmu. dua keuntungan sekaligus akan didapat jika menjadi seorang yang peduli akan lingkungan, yang pertama tentu saja dapat membantu sesama, dan yang kedua sebagai bonus dari sikap baik kita adalah mendapatkan apa yang kita inginkan.
sip! mulai sekarang, matikanlah rokok anda, kebaikan untuk anda dan lingkungan anda!:D
merokoklah di dalam kamar mandi, hirup sendiri asapnya, dan mati sendirian disana, kalo mau mati hangus jangan ajak-ajak ya plis.

29 Desember 2012

manipulasi.

bicara tentang ayah. itu basi
bicara tentang ibu. apalagi
kita hanya berlomba-lomba mencipta puisi dan merangkai sejuta kata sok suci dengan mendaftar kebaikan ibu setahun sekali, 22 desember kan?
semua sudah tau, hafal barangkali, kalau ibu mengandung sembilan bulan
itu sudah cukup!
kenapa harus diulang lagi. seperti kaset. seperti pertandingan bola. bosan! tak usah diulang
nyatanya tak sebutuh itu pada sosok yang kadang kau cibir dan maki dibalik pintu kamar.
bicara tentang adik. itu basi
bicara tentang kakak. apalagi
belagak baik hanya saat butuh meminjam selembar rupiah bergambar monyet mandi
kesehariannya yang kau peduli hanya teman sebangku dan takut dimusuhi juga takut tak diajak main kekantin.
bedebah.
bicara tentang kakek. itu basi
bicara tentang nenek. apalagi
hanya cerita anak SD yang terus di putar berkali-kali tentang setting waktu liburan sekolah dan latar tempat di desa yang sejuk nan asri.
kemudian kembali mengulang kata-kata "nenekku yang baik hati" secara lebay dan tak wajar.
nyatanya sama sekali mereka -sepasang tua renta yang membebani- itu tak masuk otakmu kala ini.
palsukah cintamu itu? semudah itukah mengatakan sayang kemudian berlalu? dimana letak kasih sayangmu? hanya untuk teman dan pacar kah? be-de-bah! kau anggap apa mereka, yang tiap waktu menyembulkan doa kemudian memukulkan kepalanya ketanah dan berurai air mata meminta dikumpulkan dengan mu disurga. sedang kau? asyik bercanda ria dengan teman dan menciptakan drama diluar sana, agar diakui ke-eksis-an nya!
keluargaku dahulu
banyak dari kita -para muda remaja- yang lebih menuhankan asas persahabatan dan juga menyembah kekasih cinta monyet yang gelantungan. boleh saja berhambur ke dunia mu diluar sana, tapi jangan biarkan dunia memanipulasi siapa kamu yang sesungguhnya. jadilah dirimu! jadilah kamu dan merdekalah diluar sana! tak perlu pura-pura,marah saja jika duniamu salah, jangan diam karena takut tak dibela. takutlah ketika membentak orangtua dan memaki saudara. merekalah yang sesungguhnya akan abadi bersama kita, bukan kawan, lawan, apalagi pacar. hash... kadang kita berlebihan. #pelajaran untukku dan kita /hamidah29des2012

26 Desember 2012

Yesterday, when i was young so many happy song :')

nah! telah sampailah kita  kedepan pintu gerbang kemerdekaan dengan selamat sentosa
*apaan sih inikan bukan  upacara 17-an*
sebenarnya aku sedang bahagia, karena berhasil menemukan lagu yang kucari, setelah melihat film luar negeri berjudul ONCE IN SUMMER bercerita tentang profesor yang hingga tua tidak menikah karena cinta masa lalunya entah kemana, kurang lebih gitusih cerita yang aku tangkap. karena translate nya pake bahasa inggris sih. jadi rada susah dimengerti oleh orang seperti aku -__-"
ber-FLASHBACK-lah cerita itu, kepada masa muda si profesor, yang ternyata dia jatuh cinta dengan gadis desa yang lugu. okay, mungkin itu terdengar klasik dan biasa aja, tapi ketika kalian liat sendiri cerita, asli deh kasian banget. nggak bakal banyak cengeng di sepanjang filmnya sih, tapi pas ending... hiksss.... kasiaaaan nya bukan cuman kasian aja tapi kasian banget.

lagu yang dinyayikan oleh ROY CLARK yang entak gimana mukanya orang ini atau masihkah beliau hidup atau sudah meninggalpun aku gak tahu. tapi lagunya enak kok. sekali lagi, sama seperti pernyataan ku yang  lalu-lalu kalo "lagu jaman dulu emang lebih berbobot daripada lagu-lagu masa kini yang dominan dengan -maaf- lirik lirik sampah walaupun temanya sama-sama tema cinta"
lumayan pendek kok lagu ini cuman berdurasi 03:20 menit, inilah lirik lagunya

Seems the love I've known has always been
The most destructive kind
Yes, that's why now I feel so old
Before my time


Yesterday when I was young
The taste of life was sweet as rain upon my tongue
I teased at life as if it were a foolish game
The way the evening breeze may tease a candle flame
The thousand dreams I dreamed, the splendid things I planned
I'd always built to last on weak and shifting sand
I lived by night and shunned the naked light of the day
And only now I see how the years ran away

Yesterday when I was young
So many happy songs were waiting to be sung
So many wild pleasures lay in store for me
And so much pain my dazzled eyes refused to see
I ran so fast that time and youth at last ran out
I never stopped to think what life was all about
And every conversation I can now recall
Concerned itself with me and nothing else at all

Yesterday the moon was blue
And every crazy day brought something new to do
I used my magic age as if it were a wand
And never saw the waste and emptiness beyond
The game of love I played with arrogance and pride
And every flame I lit too quickly, quickly died
The friends I made all seemed somehow to drift away
And only I am left on stage to end the play

There are so many songs in me that won't be sung
I feel the bitter taste of tears upon my tongue
The time has come for me to pay for
 Yesterday when I was young.
.(sumber:http://songlyric5.blogspot.com/2011/04/yesterday-when-i-was-young-lyrics-roy.html)

kalo udah selesai baca dan ngartiin, sekarang kalian pasti tau kan artinya? hiysss. menyedihkan.
intinya: si orang cerita kalo masa mudanya dulu itu menyenangkan, tapi kini saat masa tua dia merasa sendirian dan semua yang berjudul "keindahan remaja" telah berlalu dan terlewatkan.
so guys, saya dapat menarik benang merah dari sini: selama kini kita masih menggenggam masa muda, gunakan sebaik-baiknya. you only live once, but if you do it right, once is enough. satu lagi quote of the day nya : YOU WILL NEVER AS YOUNG AS YOU ARE TODAY. 

23 Desember 2012

"7cm" VERSUS "5cm"


Jika kita sedang didemamkan oleh film 5cm, maka aku mempunyai sebuah judul yang akan sangat kontroversi menyaingi film itu, judul ini adalah 7cm.
Tadi sore, ketika aku berada di angkutan umum (seperti biasa -__- miss angkot), sepulang dari kegiatan akhir dari seluruh rangkaian OSPEK yang panjangnya melebihi kereta kencana dewa segala dewa, yaitu kegiatan PENGMAS alias pengabdian masyarakat di kecamatan blimbing.
Diangkot tadi aku melihat sepasang lelaki dan perempuan yang jika boleh kutebak mereka adalah suami istri. Mereka nampak sudah berusia senja, terlihat dari keriput yang me-makeup-i  wajah keduanya. Mereka berdua duduk dengan tenang, karena angkutan umum ini tak terlalu sesak, hanya ada empat orang penumpang saja termasuk mereka sehingga akupun bisa duduk dengan leluasa dalam kelonggaran, begitupula dengan kakek nenek ini.  Mereka duduk berjajar-berdampingan, namun kira-kira ada jarak 7cm yang terpaut memisahkan keduanya.
Aku, dalam hati ini tersenyum simpul, tersentuh ringan entah oleh tangan siapa, tangan malaikat barangkali yang dengan sengaja membangunkan aku dengan pemandangan sederhana namun bermakna di depan mataku ini. Tiba-tiba terpikir olehku, sudah berapa lamakah mereka berdua seperti ini? Sudah berapa lama mereka menjalani hidup berdua? Kapankah pertamakali mereka saling jatuh cinta? Dan bla bla bla, tiba-tiba pikiranku menari liar, berlompat lompat mencari sesuatu yang tak nampak di kasat mata telanjang, yang kemudian singkatnya dalam bahasa remaja disebut-sebut dengan istilah “kepo”.
Tapi, terlepas dari semua pertanyaan ku yang terlalu panjang bagai wartawan, hati kecilku membuat kesimpulan. Inilah cinta yang sesungguhnya, yang walau mereka duduk tak lekat berdempetan namun saling yakin hatinya satu sama lain lebih erat dari cengkram akar pada tana, yang walau mereka tak berlaku berlebihan seperti layaknya muda mudi bercinta dalam pacarannya namun mereka saling lebih mesra dari adam dan hawa ketika ditemukan kembali setelah berpisah ratusan tahun lamanya. Inilah cinta yang sesungguhnya. Mereka duduk dengan tenang, menikmati perjalanan dalam angkutan umum disore yang basah sehabis diguyur hujan. Saling member ruang satu sama lain namun tetap berdampingan. Mereka tenang dalam cinta dan kepercayaan yang mereka pelihara didalam hati mereka masing-masing. Aku percaya, dalam hati yang terdalam mereka punya cinta yang besar terhadap pasangannya. Namun mereka eksklusif dalam bercinta. Tak seronok dan berlebihan mengumbar cinta mereka. Cinta itu cukup mereka saja yang tau.
Dan kini ketika aku menengok ke kanan dan kiriku, memang tak sedang ada siapapun disana. Tapi ketika aku telah menemukan”nya” (yang entah siapa), dia akan pula duduk dengan tenang disampingku, dalam jarak yang normal seperti itu, 7 sentimeter, namun benar-benar berjarak nyaris 0 sentimeter lekat dalam hati dan jiwaku.
Hahahahahah, mari kita tonton bersama-sama film terbaru saingan 5cm, inilah film berjudul 7cm. buahahha fiksi belaka kawan.
NB: sebenarnya aku juga kurang tau, apakah benar perkiraan 7cm ku itu, orang aku cuman iseng. Saking nganggurnya di dalem angkutan, sembari lelah dan lunglai, akhirnya aku memandangi saja kedua kakek nenek didepanku duduk. Asik lho, ngepo-in orang hehe:P peace pak! Tapi aku benar-benar yakin, mereka pasti telah melewati asam manis bercinta yang sesungguhnya. Merekalah orang-orang MASTER dan PROFESORnya cinta dalam kesabaran, bertahun-tahun telah dilewati bersama dalam usaha saling memaklumi dan memahami satu sama lain (eAAkkkk…. SOTOY ampun)/hamidah22desember2012

30 November 2012

make a diary before i sleep

sebelum ngantuk ini akut dan aku lupa mau nulis apa jika ditunda esok pagi, maka akan kuceritakan pengalaman kemarin lusa.
sepulang dari melayat budhe ku di Blitar Kota Patria aku memilih untuk pulang sendiri naik bus menuju Malang Kota Bunga. sengaja, karena aku ada acara seusai maghrib, sedangkan orangtuaku masih akan melanjutkan perjalanan ke Kediri (kota apa judulnya?entahlah -_-)
ini pengalaman perdanaku naik angkutan umum dari luar kota. hi... rada serem sih, tapi gimana lagi, perjalanan terjauhku naik bus sendirian ya cuman dari Kota Malang ke Kabupaten Malang. tragis banget kan? akut banget kuper dan gak mandirinya.
thats all, itu sih cerita pengantar aja. intinya adalah aku membayangkan seseorang yang dulu pernah 'make a long trip with me' ke Blitar ini. haha tapi bedanya kita berangkat dan pulang naik kereta. ihi... serukan.
sepanjang perjalanan kemarin aku mendengarkan 3 lagu saja, yang akhir akhir ini benar2 favoritku. pertama, lagu berjudul love rain, kedua sebuah instrumen berjudul shiny love, dan ketiga lagu luar.
setelah transit dlu di kota kelahiranku Kepanjen, aku melanjutkan perjalanan ke Kota Malang. kali ini suasana berbeda, sudah tak sepanas perjalanan Blitar-Kepanjen tadi, karena sekarang aku sudah mandi dan ganti pakaian.
semilir angin pukul lima sore di bus kota benar-benar sukses membuatku bermood baik. masih sambil mendegarkan tiga buah lagu lewat handphone ku dibantu dengan headset putih tulang, aku terus tersenyum di dalam bus yang benar-benar longgar dan nyaman.
perjalanan seharian kemarin benar-benar bermacam warna,
pagi pagi buta kaget karena berita meninggalnya budhe.
pagi menuju siang berhujan air mata (masih karena meninggalnya budhe)
siang menuju sore berdesakan di bus Blitar-Malang dan diserang kantuk yang luar biasa.
sore nya tersenyum simpul dengan tentram di bus Kepanjen-Malang
malamnya bertemu teman-teman baru FORIENT
malamnya makin malam aku berusaha memejamkan mata dan melupakan keburukan hari ini untuk tak mengulangnya esok hari.
hya.. berusaha berbijak ria. when the wicked rise to power, the wise run for cover. haha apa2an. lets take a rest. good night good girl 

8 November 2012

waiting for you


Dan kau pun tiba,

Kala kegelisahan yang melaut menelanjangi kepercayaanku.

Hampir hampir aku bangkit dari dudukku, kemudian memasang jaket kulit

Hendak ku teruskan perjalanan karena ku kira kau takkan datang.

namun dari sudut persimpangan kau tampakkan bayang senja.

derap langkahmu seolah turut meraungkan maaf

kau datang, sebelum aku beranjak ke kota :)



puisi diatas untuk bibit cabe ku di halaman belakang, yang kutanam berminggu-minggu yang lalu. harus mengeringkan bibitnya sendiri dibawah terik matahari kemudian mencari tanah subur. kuharap ini bisa menjadi awal yang baik untuk "ladang cabe" impianku. amiiiin :) terimakasih kamu sudah tumbuh semoga subur:) :) :) :)