Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerita. Tampilkan semua postingan

16 Desember 2015

#pagiperpustakaan lepas dari tiga bulan :')

Barangkali memang tepat bila ada orang yang berkata “apa yang kita baca mempengaruhi diri kita”. Saat ini saya tengah mengalami hal tersebut, yang praktis dalam tiga setengah bulan ini berkutat dengan buku-buku karangan wartawan tiga zaman, Rosihan Anwar.
Sebelumnya, tidak pernah tersentuh sama sekali oleh saya buku-buku karangan beliau, bahkan sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi saya merasa berdosa tidak pernah mengenal nama beliau sebelumnya. Mungkin masa kejayaan nya sebagai wartawan terlampau jauh dari masa studi saya saat ini. Rosihan Anwar adalah pemimpin harian Pedoman yang menjadi koran nomor wahid di Indonesia kala tahun 50-an. Bila boleh mengutip pendapat Prof Alwi: Pedoman itu sebagaimana Kompas masa kini, yakni koran tempat diskusi dan koran yang mampu membuat tema-tema yang diangkat selalu jadi perbincangan seluruh rakyat Indonesia.
Tiga setengah bulan mencoba bermesra dengan sosok Pak Ros (sapaan akrab beliau) demi mendapatkan inti sari pola pemikirannya terkait Jurnalisme Indonesia yang berguna untuk Tugas Akhir perkuliahaan saya di Universitas Brawijaya, menjadikan saya kemudian tau banyak hal, mengamati dan peduli berbagai hal, yang sebelumnya sama sekali tak terlintas dalam benak.
Judul skripsi ini pula yang kemudian membawa saya melakukan perjalanan ke Jakarta pertama kali seorang diri menggunakan kereta api selama 17 jam, untuk menemui kerabat sekaligus kolega Pak Ros yakni nama yang sebelumnya sudah saya sebutkan diatas: M. Alwi Dahlan. Beliau kemudian akrab di sapa dengan panggilan Prof Alwi sebab menjabat guru besar FISIP Universitas Indonesia.
Perjalanan menemui mantan Mentri Penerangan era Soeharto ini juga perlu perjuangan. Saya harus memulai dengan pendekatan pada sekretaris jurusan UI terlebih dahulu yakni Dr. Eduard Lukman, agar mendapat rekomendasi wawancara pada beliau. Dari pengalaman tersebut ada pelajaran penting dalam hidup yang selama ini tak pernah saya temui secara langsung namun hanya kerap kali saya dengar, yakni kalimat “padi semakin berisi semakin merunduk”. Ini benar saya temukan pada sosok Prof Alwi Dahlan, sebab usai menghubungi beliau via pesan singkat dengan harapan supaya tak menganggu kegiatan, justru ada satu panggilan yang mendarat di handphone saya kala tengah bergulat dengan ratusan lembar koran Pedoman di Perpusnas jalan Salemba. Ada suara yang tak cukup jelas dari sebrang telfon memulai percakapan sebagai berikut: “Halo, saudari Hamidah? Saya Alwi Dahlan. Saya persilahkan ke rumah saya jika hendak wawancara terkait Pak Rosihan Anwar”
Seketika kemudian haru menguasai dada dan mata, ini bukan sekedar perasaan bahagia sebab proses wawancara skripsi saya terjamin lancar, namun sebab sikap seorang “Manusia Komunikasi” (buku Manusia Komunikasi adalah kumpulan tulisan rekan Alwi Dahlan dalam rangka memperingati ulang tahun beliau ke-75 tahun) yang kemudian sangat rendah hati dan memberikan saya pelajaran maha berharga.
Dari sosok Prof Alwi, kemudian saya kembali lagi pada sosok Pak Rosihan. Muncul wajah beliau yang ‘terlalu’ sering saya tatap di sampul buku “Menulis dalam Air: sebuah otobiografi”. Saya sangat terharu. Betapa, Pak Ros andai saya sempat bertemu, barangkali saya hanya bisa merunduk malu.... belum apa-apa yang saya lakukan terkait skripsi ini namun keluhan demi keluhan tak henti terlontar pagi siang malam. Sepanjang tiga setengah bulan ini saya baru sadar, munafik memang bicara tentang skripsi tanpa peduli ijazah dan gelar, tapi dibalik kedua hal tersebut kemudian saya temukan soul dalam tugas akhir ini. Bukan, bukan hanya tentang S.Ikom semata, tapi lebih dari pada itu, pengalaman, pelajaran, cara pandangan, perjuangan, dan semua tentang Pak Ros dan koleganya yang kini sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu atau masih hidup dalam usia udzur, semuanya menginspirasi saya... semua nya kemudian menjadi cambuk bagi saya, bahwa hidup memang akan selalu berakhir, sehingga pertanyaan nya bukan kapan akan berakhir, tapi apa yang bisa dilakukan sebelum berakhir?

Sebagai penutup tulisan yang tanpa sengaja saya ketik dalam keadaan mata berkaca-kaca ini, saya hendak kutip petuah dari Buya Hamka (rekan Pak Ros juga), sebagai berikut:
Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga Hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja.

Sebab itulah mari kita sama-sama cari makna dalam hidup ini. Semoga kita bukan golongan orang-orang yang hanya hidup sekedar hidup. Amin.  / 121215

1 Oktober 2014

Duduk

Aku berniat memosting tulisan ini semalam, sebab momennya sunggu pas, yaitu akhir dari bulan september dan awal dari musim hujan. Ya.. kemarin 30 september adalah rintik hujan pertama yang ku tahu jatuh di tanah Malang. Sungguh.. musim hujan tentu memiliki banyak cerita menyenangkan :)

Minggu lalu, kaki kananku sekit sekali, selama berhari hari. Sudah kupijat pijat sendiri, sudah pula kuolesi balsem, dan berbagai cara lain kutempuh demi menghilangkan rasa linu yang tak kunjung reda.
Bahkan, aku sering menggantungkan kakiku di tembok, sembari merebahkan badan di kasur, beberapa orang mengatakan itu akan membantu meredakan nyeri.
Kaki yang sakit itu 'dipicu' oleh kebiasaan duduk ku yang mungkin kurang tepat. Kegiatan didalam ruangan kelas dan berbagai aktivitas seabrek lainnya memaksaku mau tak mau harus lebih banyak duduk, ketimbang berdiri atau jalan jalan.
Duduk, akan memuat berbagai macam gaya yang dapat menimbulkan makna makna. Misal, seorang laki-laki akan cenderung duduk dibangku dengan membuka lebar kaki nya, agar terkesan gagah dan manly. Terkadang laki-laki dewasa, juga akan duduk dibangku dengan menopangkan satu kakinya ke kaki yang lain hingga membentuk angka empat atau sudut lancip.
Nah.. begitupun dengan seorang wanita, yang memiliki gaya tersendiri dalam duduknya. Wanita kerap duduk dibangku dengan menopangkan salah 1 kakinya ke kaki yang lain, dengan posisi kaki merapat tertutup. Hal ini akan menimbulkan kesan anggun, feminim dan seterusnya. Hingga, saking lekatnya makna tersebut terhadap masing masing gaya duduk, bisa jadi seorang pria yang duduk dengan gaya wanita akan dianggap tidak keren, banci, dan lain sebagainya.

Aku, melakukan hal yang sama sebagai seorang wanita. Sebenarnya aku duduk dengan gaya wanita seperti yang dijelaskan diatas, bukan untuk mengesankan apa apa. Sebab, mungkin sudah lazimnya seorang wanita duduk demikian, maka secara alamiah aku melakukan hal yang sama, yaitu duduk dengan posisi kaki menopang pada salah satu kaki lainnya.
Karena terlalu sering melakukan posisi tersebut dalam dudukku. Walhasil kaki kananku pun sakit, linu, dan pegal tak reda reda.

Dari tragedi kaki sakit ini, membuatku merenung sesaat. Betapa, kaki saja bisa sakit jika ditimpa, kaki saja bisa pegal tak karuan jika harus menopang kaki yang lain, padahal mereka sepasang, sudah seharusnya beriringan dan saling membantu dalam segala hal. Bagaimana dengan manusia, yang walaupun berkasih sejatinya bukanlah benar benar sepasang. Bagaimana dengan manusia yang terkadang terlalu bergantung pada yang lain, terlalu menekan, terlalu menuntut dan lain sebagainya, bukankah lama kelamaan akan ada satu belah pihak yang merasa tersakiti? Merasa linu, ngilu, pegal dan lelah? Belajarlah dari filosofi sepasang kaki wanita yang tengah duduk. Belajarlah. Mari kita belajar, memahami, bijaksana, dan mandiri. / hamidah 27 september 2014

19 Juni 2014

The Fish and A Ring


;
sumber: weheartit.com/entry/80339964/
I had a story titled
"The Fish And A Ring" 
this story tell us about King that can guess what will happen in the future, or maybe its known with a fortune teller. 


One day, the King seeing something about what will happen with his son, that still child. and he is very surprised and dismey (worry) because in the future his son will marry with a poor girl. 

so the king decided to go tho the poor girl's house. after found the home, he saw a doleful  (very sad; murung) man in front of the door. so he asked to the man, "What happened to you, why you look so doleful?"

"Its because i had a six child, and i cant give them some food." said the man.

"Dont be sad again, i will bring your last child, and i will keep your child. dont worry, i promise" The king looks very wise.

of course the old man happy when hear that, finally he give his child.

but, when the king pass the river, he throw away the child, because he dont want his son married with the poor girl in the future.

Nice fate happened to the poor child, he floating in the river and a fisherman found her. 

then, someday when the king going to fishing in the river with his friend, they are very thirsty, and then stopped in fisherman hut.

The King very surprised when know a girl that he throw away in the past still alive. so he planning to throw the girl to the forest far away from the city. 

the next day, the king's son going to hunting animals in the forest, and the fate happened, he meet with the poor girl, and falling in love. he wed the girl, and live happily ever after.

(I get this story from digital book stories in "Play Store", so if you wanna read another story, grab that fast! enjoy)

4 Mei 2014

Seutuhnya ●

Menjadi "seutuhnya" itu memanglah indah.

Seutuhnya Jawa, kau akan bahagia dengan campursari nya yang bercerita tentang angliyak numpak prau layar, tentang tamasya hingga sore hari, dan tentang lambaian wit klopo yang serasa memanggilmu untuk segera merapat kembali ke darat.

Seutuhnya menjadi Indonesia, akan membuatmu bangga menyanyikan Lagu Indonesia Raya. Tak sekedar mengangkat telapak tanganmu dan menempelkan ujungnya ke pelipis. Tapi lebih dari itu, kau akan bergidik mendengar lantunan hawa kemerdekaan yang bagai sihir terkandung dalam lirik "Indonesia Raya".

Seutuhnya menjadikan kita setia.
Tiada malu dengan apa, siapa, kenapa, bagaimana dia.
Seutuhnya, menjadikan kita TOTAL, mustahil mendua!

Hamidah/ latepost 1 april 2014/ #NP angliyak numpak prau layar

11 Februari 2014

buku anak smp itu berjudul "indahnya masa pubertas"

Siang ini ditengah-tengah liburan semester yang kuhabiskan di kampung halaman, aku harus ke Kota Malang untuk menyelesaikan urusan technical meeting mc. Seperti biasa, aku akan lebih memilih naik angkutan umum colt daripada bus. Kebetulan siang ini angkutan yang kunaiki penuh sesak dengan anak-anak berseragam yang baru pulang sekolah. Para pelajar itu nampak mengenakan baju putih dan bawahan berwarna putih pula, karena ini adalah hari senin. Di lengan sebelah kanan mereka ada sebuah badge bertuliskan "SMPN 4", tentu saja itu adalah sekolah dimana aku menempuh ilmu kurang lebih 5 tahun yang lalu. 
Ku amati saja muka-muka polos mereka, yang barangkali tak jauh beda dengan "hamidah 5 tahun lalu", hmmm aku mengulum senyum di bibir yang sengaja kutahan. 
Pelajar kecil berjilbab yang duduk bersebrangan denganku, bahkan masih menggunakan badge berwarna hijau dan tertera cukup besar angka VII Romawi disana, itu menunjukkan ia masih duduk di bangku kelas 7 atau 1 SMP. Ia memangku sebuah buku berjudul "Indahnya Masa Pubertas". 

Kali ini masih bisakah aku menahan senyum? Tentu saja judul di sampul buku itu membuatku kelimpungan karena berusaha menahan senyum didalam angkutan sesak ini. 
Aku pun berhasil menenangkan diri.
Pada awalnya aku memang menganggap judul buku itu cukup "konyol" dan bahkan "kontroversial", namun aku tiba-tiba termangu... mengeja kembali buku yang berbentuk seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) yang kini masih diatas pangkuan bocah manis itu. 

Ya, bukankah masa pubertas memang indah. Bukankah masa-masa SMP seperti mereka memang menyenangkan? Berangkat sekolah pukul setengah tujuh, kemudian belajar hingga siang dan pulang. Tidur siang dan bangun berangkat mengaji ke TPQ lantas malamnya mengerjakan PR dan kembali bermimpi indah. Tidakkah kau merindukan schedule yang dulu kau anggap sedemikian monoton itu? 
Belum lagi jika hari minggu, pergi bermain kerumah teman dengan dalih mengerjakan tugas kelompok yang pada akhirnya justru berganti agenda menjadi sarana bermain dan bercerita. Berenang ke kolam renang umum yang tentu saja sangat akrab di telinga anak-anak kecil di Kepanjen. 
Tentu berbeda dengan sekarang, kau seorang mahasiswa yang harus berkejaran dengan jadwal tak menentu. Harus sibuk luar biasa hingga tengah malam bahkan sesekali tanpa tidur sedetikpun, namun kau juga tak boleh kaget kala harus menganggur tanpa kerjaan sama sekali hingga tiga bulan karena libur semester genap. 
Sekali lagi "indahnya masa pubertas" boleh jadi benar, masa itu memang indah, masa-masa mulai mengenal mana yang tampan dan masa dimana mulai malu-malu karena rasa suka terhadap lawan jenis.

Tapi, jangan tertipu kemasan, karena kebanyakan yang platinum otaknya akan jauh lebih memukau kala dewasa, ketimbang yang platinum wajahnya. Benar begitu bukan? :)
Hamidah 10Februari2014 #kisahangkutan

8 Agustus 2013

Di ambang Pintu Perjuangan.


Entah kala itu tanggal berapa pertama kali kuinjakkan kaki ditanah basah desa kucur. Desa asri nan sejuk yang jauh dari hiruk pikuk kota. Basi mungkin menggambarkan setting desa subur seperti ini, namun takkan basi jika kau berkunjung sendiri. Sungguh, teramat benar, jika ada yang bilang “Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke Bumi” dan bahkan dengan melihat nuansa alami ini seolah-olah saja dulu surga pernah bocor dan menumpahkan  keindahan nya di tanah desa kucur.

Mobil biru itu berhenti dihalaman mungil masjid yang belum jadi. Aku mengernyitkan kening dan menyipitkan mata menyaksikan sekeliling. Terlalu sederhana. Bukan aku butuh mewah, tapi ini terlalu sederhana jika dibandingkan mushola-mushola mungil yang bertebaran di kota yang selama ini aku dan teman-teman tinggali. Kontras sekali. Bahkan mushola desa ini belum pula jadi. Temboknya masih berwarna abu-abu semen, hingga nyaris lumutan, entah.. mungkin karena terlalu lama tak segera disentuh cat.
Namun seketika lamunanku buyar, saat guru ku meminta aku dan beberapa orang teman yang ikut tinjau lokasi, untuk bergegas menjajari langkah beliau memasuki masjid. Disana sudah ada beberapa pria dewasa yang disebut ustad dan beberapa wanita dewasa pula yang disebut ustadzah. Kami berjalan perlahan-lahan, sedikit kikuk, kami dihujani tatapan oleh ustadz, ustdzah dan santri-santri kecil berwarna-warni bagai pelangi.
Berbagai corak, bajunya maksudku. Tapi kala itu aku merasa mereka semua kembar, muka mereka semua nyaris sama tak ada beda. Aku masih ingat betul itu, mereka melongo melihat muka-muka kami, dengan polos minim ekspresi, dan jika aku boleh menerka, maka kalimat inilah yang mungkin sedang berkeliling tawaf di benak mereka, “Siapa gerangan muda mudi datang dari dalam mobil biru itu? Asing sekali mereka, dengan tatapan nya yang mencoba bersahabat. Hendakkah mereka ikut mengaji bersama kami? Ah… mana mungkin, mereka sudah terlalu besar. Atau… mungkin benar, siapa tahu mereka belum bisa mengaji?” 

Dan jika itu pertanyaanya, maka kami akan menjawab, “Mungkin kami sudah bisa mengaji, namun kami belum bisa membaca. Kami sungguh belum bisa membaca hati-hati suci kalian, adik-adik. Kami belum bisa membaca tatapan kalian, kami sungguh buta akan bahasa tubuh kalian. Dan kini kami sedang mencoba, kami memulai nya dari sini, perjalanan dakwah dan perjuangan untuk mencerdaskan.”
Selamat datang di desa Kucur, untuk memulai langkah tegap perjuangan. Perjuangan ini bukan tentang seberapa pintar kalian, bukan seberapa hebat jurusan di perkuliahan, bukan seberapa banyak prestasi yang diraih, tapi setangguh apa kalian mampu menghadapi kemalasan, ketidakpedulian, dan seleksi alam.  
Innalallaha ma’ana.


-Hamidah Izzatu Laily for @CMCmalang

29 Juli 2013

Ketika orang ketiga bicara

"Ya okelah oke oke....
Belum waktunya aku dapat! Oke...
Setiap orang punya masa lalu, mungkin itu juga masa depanmu.
Sudahlah, behenti berharap. Stalking gak jelas sedangkan dia aja Big No sama kamu.
Ah kamu gak berubah, selalu pungguk merindukan rembulan. Ah, sama sekali gak berubah."

Aku meringkuk di balik bantal piglet ku, adegan ftv ini selalu menjadi pilihanku ketika mulai galau. Ini karena seharian aku menjelajah dunia maya, sosial media, dan media media bajingan lainnya,
Ah! Aku menggurutu lagi, entah menggerutui siapa, menggerutui waktu, Tuhan, kesempatn yang tak jua berpihak padaku, atau padaku sendiri yang nampaknya lebih pantas digerutui.

Oh tidak, menyukai kakak tingkat dan dia memiliki special relation dengan teman seangkatanmu. Mereka tidak pacaran! Hei, justru karena mereka tidak pacaran itulah yang membuatku terusik dan hatiku terus meronta menjajar harapan demi harapan, khayalan demi khayalan, mimpi demi mimpi, dan BUK... aku harus jatuh lagi. Menyedihkan,
Kenapa mereka berdua tak pacaran sekalian? Mengapa harus Hts-an, itu hanya membuka celah setan setan sepertiku untuk menganggu hubungan kalian.
Aku tak tahan menjadi orang ketiga, sekalipun sesungguhnya tak pernah ada yang menobatkan aku sebagai pihak ketiga, bahkan aku sendiri yang menyebutku begitu. Terlalu menyedihkan bukan, ketika kau mencinta tapi tak ada yang tahu, ketika kau merindu tapi tak terbalas, hendak siapakah yang membalas, sedang surat saja tak kunjung kau kirim,

"Wahai pecundang ketiga, berhentilah menggumam dari balik bilik tua itu. Kalau ingin dapat, keluarlah. Kalau tidak, yasudah tidurlah... bukankah nampaknya mimpimu jauh lebih mempesona penuh gelora kasih dibanding kenyataan yang miskin belai cinta.
Bercumbulah dengan bayang, kau tak dosa, kau pun tak mengusik siapa.
Bercumbulah dengan bayang, mudamu tak harus dinikmati dengan menjadi yang ketiga,
Kau layak menjadi yang pertama, mengapa hrus mendaftar untuk menjadi peserta kedua ketiga dan seterusnya. Hentikan langkahmu," Bisik wanita ketiga.

Ketika orang ketiga bicara, itu hanya akan menjadi percakapan dengan diri sendiri. Segala protes dan problema yang menyeruak dalam dada, hanya deritanya. Ketika orang ketiga bicara, dia akan bicara ditengah percakapan orang pertama dan orang kedua, dan itu akan sangat menyakitkan jika keduanya saling sibuk sendiri dan tak ada yang mendengar suara orang ketiga.


3 Januari 2013

NOL kepedulian sosial

Siapa bilang orang merokok itu solidaritas nya tinggi? dengan alasan karena mereka akan saling membagi rokok dengan cuma-cuma pada sesama perokok? dengan dalih saling meminjami korek adalah cermin dari solidaritas tinggi? ARGUMEN JONGKOK! mereka solid dengan sesama perokok tapi merugikan yang non-perokok. bandel banget ya emang, tema ini udah jadul lho sebenarnya, tapi serasa masih hot topic.dan kali ini aku punya sebuah cerita tentang perokok, yang membuktikan bahwa mereka bukanlah manusia dengan solidaritas tinggi.

sore itu disebuah angkutan umum Kota Malang, yang kecil, sesak, dan pengap, bertepatan saat itu hujan turun cukup deras. Jendela kaca angkutan ini pun sengaja ditutup agar air hujan tidak masuk. kali ini aku duduk di bangku belakang tepatnya paling pojok didekat jendela.
Rasa gerah didalam angkutan ini benar-benar terasa, walau diluar sana hujan namun karena sesaknya angkutan ini dan keadaan jendela yang ditutup rapat, aku benar-benar merasa pengap kekurangan oksigen. bayangkan mobil angkutan sekecil ini ditumpangi oleh banyak orang namun tanpa ada pertukaran udara yang baik. walhasil, kita seolah berebut oksigen disini.
dan masuklah seorang pria dengan temannya yang terlihat cukup basah karena hujan, sembari mengibas-kibaskan bajunya yang basah dia mulai duduk di bangku depanku. rupanya dia membawa rokok sejak dari luar sana, dan entah kenapa dia tak jua mematikan rokok berasap itu ketika masuk kedalam angkutan ini.
aku yang cukup terganggu dengan asap rokok inipun mulai berinisiatif untuk membuat batuk bohongan yang sengaja kujadikan berlebihan, kuharap agar Bapak si perokok ini akan merasa tersindir dengan batukku dan mematikan rokoknya.
akupun membuat batuk yang pertama, namun bapak ini masih tak tersindir. dia tetap saja mengihisap batang rokoknya.
batuk yang kedua ku keluarkan, sampai batuk kelima kuranglebih, bapak ini masih tetep stay cool dengan rokoknya, kali ini dia malah terlihat asyik, terlihat dari posisi duduknya yang nyaman dan tak terlihat ada beban sedikitpun.
akupun mulai jengkel, disini itu banyak sekali orang, angkutan ini sudah cukup pengap sebelum datangnya bapak ini bersama rokok sialannya itu. dan lebih parahnya disini ada anak bayi yang masih dalam gendongan, dia terus menangis mungkin karena memiliki keluhan yang sama dengan semua penumpang yang ada disini yaitu "gerah".
suasana kacau! aku penat! pengap! dan bapak ini gak sadar sadar, emosiku memuncak.
"Pak permisi, bisa tolong dimatikan rokoknya." aku langsung nerocos karena hati ini sudah dongkol dan tak kuasa menahan, kalau masih dipaksakan untuk nahan bisa meledak.
"Lho, kenapa mbak?" dengan enteng tak merasa bersalah dia malah bertanya.
sebenarnya aku ingin membantu nya membuka mata, mungkin dia kesulitan melihat keadaan dan orang disekelilingnya yang tersiksa dengan kelakukan rokok nya itu!
"Pak, mohon maaf ya, ini sudah pengap, kita semua sesak pak, itu juga kasian ada anak bayi. Saya coba tahan e kok ya nggak kuat akhirnya" sedikit jutek kali ini kalimatku, namun kuusahan agar tetap sopan walau aku harus bicara dengan orang yang menurutku "TIDAK SOPAN".
"Iya pak saya juga nahan dari tadi, sesek" seorang ibu disampingku berargumen juga.
"iya nih" mbak mbak yang ada di samping bapak itu, juga bicara.
dengan muka jengkel bersungut, bapak ini pun akhirnya menekan ujung rokoknya yang menyala, ke lantai angkutan umum, kemudian binasalah si laknat rokok itu.
aku tersenyum simpul, kemudian bersorak dalam hati "yes, menang", cukup puas melihatnya menggerutu tak terima, yang akhirnya mematikan juga rokok itu.


benar-benar suatu pelajaran besar untuk kita semua. cobalah jangan terfokus pada dirimu melulu, hidup ini tak berkutat pada kamu dan apa keinginanmu. sesekali cobalah tengok sekelilingmu, dan katakan "aku peduli dengan lingkunganku". maka lingkunganmu akan ikut peduli pula padamu, kemudian membantumu mencapai apa yang menjadi keinginanmu. dua keuntungan sekaligus akan didapat jika menjadi seorang yang peduli akan lingkungan, yang pertama tentu saja dapat membantu sesama, dan yang kedua sebagai bonus dari sikap baik kita adalah mendapatkan apa yang kita inginkan.
sip! mulai sekarang, matikanlah rokok anda, kebaikan untuk anda dan lingkungan anda!:D
merokoklah di dalam kamar mandi, hirup sendiri asapnya, dan mati sendirian disana, kalo mau mati hangus jangan ajak-ajak ya plis.

29 Desember 2012

manipulasi.

bicara tentang ayah. itu basi
bicara tentang ibu. apalagi
kita hanya berlomba-lomba mencipta puisi dan merangkai sejuta kata sok suci dengan mendaftar kebaikan ibu setahun sekali, 22 desember kan?
semua sudah tau, hafal barangkali, kalau ibu mengandung sembilan bulan
itu sudah cukup!
kenapa harus diulang lagi. seperti kaset. seperti pertandingan bola. bosan! tak usah diulang
nyatanya tak sebutuh itu pada sosok yang kadang kau cibir dan maki dibalik pintu kamar.
bicara tentang adik. itu basi
bicara tentang kakak. apalagi
belagak baik hanya saat butuh meminjam selembar rupiah bergambar monyet mandi
kesehariannya yang kau peduli hanya teman sebangku dan takut dimusuhi juga takut tak diajak main kekantin.
bedebah.
bicara tentang kakek. itu basi
bicara tentang nenek. apalagi
hanya cerita anak SD yang terus di putar berkali-kali tentang setting waktu liburan sekolah dan latar tempat di desa yang sejuk nan asri.
kemudian kembali mengulang kata-kata "nenekku yang baik hati" secara lebay dan tak wajar.
nyatanya sama sekali mereka -sepasang tua renta yang membebani- itu tak masuk otakmu kala ini.
palsukah cintamu itu? semudah itukah mengatakan sayang kemudian berlalu? dimana letak kasih sayangmu? hanya untuk teman dan pacar kah? be-de-bah! kau anggap apa mereka, yang tiap waktu menyembulkan doa kemudian memukulkan kepalanya ketanah dan berurai air mata meminta dikumpulkan dengan mu disurga. sedang kau? asyik bercanda ria dengan teman dan menciptakan drama diluar sana, agar diakui ke-eksis-an nya!
keluargaku dahulu
banyak dari kita -para muda remaja- yang lebih menuhankan asas persahabatan dan juga menyembah kekasih cinta monyet yang gelantungan. boleh saja berhambur ke dunia mu diluar sana, tapi jangan biarkan dunia memanipulasi siapa kamu yang sesungguhnya. jadilah dirimu! jadilah kamu dan merdekalah diluar sana! tak perlu pura-pura,marah saja jika duniamu salah, jangan diam karena takut tak dibela. takutlah ketika membentak orangtua dan memaki saudara. merekalah yang sesungguhnya akan abadi bersama kita, bukan kawan, lawan, apalagi pacar. hash... kadang kita berlebihan. #pelajaran untukku dan kita /hamidah29des2012

23 Desember 2012

"7cm" VERSUS "5cm"


Jika kita sedang didemamkan oleh film 5cm, maka aku mempunyai sebuah judul yang akan sangat kontroversi menyaingi film itu, judul ini adalah 7cm.
Tadi sore, ketika aku berada di angkutan umum (seperti biasa -__- miss angkot), sepulang dari kegiatan akhir dari seluruh rangkaian OSPEK yang panjangnya melebihi kereta kencana dewa segala dewa, yaitu kegiatan PENGMAS alias pengabdian masyarakat di kecamatan blimbing.
Diangkot tadi aku melihat sepasang lelaki dan perempuan yang jika boleh kutebak mereka adalah suami istri. Mereka nampak sudah berusia senja, terlihat dari keriput yang me-makeup-i  wajah keduanya. Mereka berdua duduk dengan tenang, karena angkutan umum ini tak terlalu sesak, hanya ada empat orang penumpang saja termasuk mereka sehingga akupun bisa duduk dengan leluasa dalam kelonggaran, begitupula dengan kakek nenek ini.  Mereka duduk berjajar-berdampingan, namun kira-kira ada jarak 7cm yang terpaut memisahkan keduanya.
Aku, dalam hati ini tersenyum simpul, tersentuh ringan entah oleh tangan siapa, tangan malaikat barangkali yang dengan sengaja membangunkan aku dengan pemandangan sederhana namun bermakna di depan mataku ini. Tiba-tiba terpikir olehku, sudah berapa lamakah mereka berdua seperti ini? Sudah berapa lama mereka menjalani hidup berdua? Kapankah pertamakali mereka saling jatuh cinta? Dan bla bla bla, tiba-tiba pikiranku menari liar, berlompat lompat mencari sesuatu yang tak nampak di kasat mata telanjang, yang kemudian singkatnya dalam bahasa remaja disebut-sebut dengan istilah “kepo”.
Tapi, terlepas dari semua pertanyaan ku yang terlalu panjang bagai wartawan, hati kecilku membuat kesimpulan. Inilah cinta yang sesungguhnya, yang walau mereka duduk tak lekat berdempetan namun saling yakin hatinya satu sama lain lebih erat dari cengkram akar pada tana, yang walau mereka tak berlaku berlebihan seperti layaknya muda mudi bercinta dalam pacarannya namun mereka saling lebih mesra dari adam dan hawa ketika ditemukan kembali setelah berpisah ratusan tahun lamanya. Inilah cinta yang sesungguhnya. Mereka duduk dengan tenang, menikmati perjalanan dalam angkutan umum disore yang basah sehabis diguyur hujan. Saling member ruang satu sama lain namun tetap berdampingan. Mereka tenang dalam cinta dan kepercayaan yang mereka pelihara didalam hati mereka masing-masing. Aku percaya, dalam hati yang terdalam mereka punya cinta yang besar terhadap pasangannya. Namun mereka eksklusif dalam bercinta. Tak seronok dan berlebihan mengumbar cinta mereka. Cinta itu cukup mereka saja yang tau.
Dan kini ketika aku menengok ke kanan dan kiriku, memang tak sedang ada siapapun disana. Tapi ketika aku telah menemukan”nya” (yang entah siapa), dia akan pula duduk dengan tenang disampingku, dalam jarak yang normal seperti itu, 7 sentimeter, namun benar-benar berjarak nyaris 0 sentimeter lekat dalam hati dan jiwaku.
Hahahahahah, mari kita tonton bersama-sama film terbaru saingan 5cm, inilah film berjudul 7cm. buahahha fiksi belaka kawan.
NB: sebenarnya aku juga kurang tau, apakah benar perkiraan 7cm ku itu, orang aku cuman iseng. Saking nganggurnya di dalem angkutan, sembari lelah dan lunglai, akhirnya aku memandangi saja kedua kakek nenek didepanku duduk. Asik lho, ngepo-in orang hehe:P peace pak! Tapi aku benar-benar yakin, mereka pasti telah melewati asam manis bercinta yang sesungguhnya. Merekalah orang-orang MASTER dan PROFESORnya cinta dalam kesabaran, bertahun-tahun telah dilewati bersama dalam usaha saling memaklumi dan memahami satu sama lain (eAAkkkk…. SOTOY ampun)/hamidah22desember2012

3 Juni 2012

ketika ibu bicara cinta

kamu kasihan sekali.
aku tahu apa yang kau rasakan wahai anak muda.
ketika kau temukan perasaan mu berantakan, hanya ditendang dan di remukkan padahal kau berharap besar itulah masa depanku.
aku tahu apa yang kau rasakan anak muda, ibu pernah menjadi remaja.
rasanya seolah matahari tak sanggup bersinar, dia melemah seiring kamu yang menjadi luluh lantah.
kau mengumpati kenyataan yang kini tak menengok bahkan tak mengintip keberadaan mu sama sekali.
kau menikam jantung mu sendiri dengan perasaan luka yang dalam. kau rasakan kehilangan petuah. habis sudah temaram. kini seolah kau tengah berdiri dalam gelap, karena lentera sudah kehabisan minyak tanahnya.
tapi, berhentilah sebentar sayangku. hentikan sebentar sedu sedanmu, ibu hanya ingin bicara sebentar. bicara tentang masa depanmu yang masih teramat jauh, bicara tentang mimpi-mimpi hebatmu yang tak dimiliki siapapun di dunia ini, bicara tentang kekasih yang terlalu kau cintai itu.
tenanglah sayangku, kemarilah, raihlah pelukan ibu, keringkan air mata mu dalam pelukan ku.
berhentilah berpikir kekanak-kanakan, kau telah dewasa sayang, ibu tak pernah mengajarimu menjadi lemah dan manusia penuh keputus asaan seperti ini. ibu tak pernah memintamu menjadi kuat yang tahan akan segala cercaan dan makian. ibu hanya mengajarimu satu, menjadilah dewasa, menjadi dewasa, menjadilah dewasa.
berterimakasihlah padanya yang telah membiarkan sakit hati, hingga kau merasakan warna warni kehidupan. ucapkan terimakasih padanya yang telah mengenalkanmu sebuah luka dan permasalahan, hingga kelak dimasa depan, kau sudah paham dan mampu mengatasi ini, masalah yang sama.
menjadilah dewasa sayang, dia bukanlah Tuhan, dia juga bukan tujuan akhirmu.
kenapa kau tak menangis sehebat ini kala kau tak sengaja meninggalkan ibadahmu? kenapa kau biasa saja kala kau lupa membaca kitab suci?
biarkan dia pergi, dia milik wanita lain. ada wanita lain dimasa depannya, dan itu bukan kamu nak!
biarkan lelaki dengan nalurinya, jangan cegah mereka, biarkan mereka melakukan apapun sesuka hatinya. wanita hanya perlu menguatkan diri. membangun pertahanan sekokoh mungkin, untuk menghadapi perang sehebat apapun.
kita wanita, kelak kau juga akan menjadi ibu dari anak-anak mu, sama seperti ibu saat ini. tugasmu adalah taat pada suami mu kelak. namun jika dia mengkhianatimu, kau harus punya tempat pelarian dan berteduh teraman, yaitu TUHAN.
jadilah dewasa, jadilah kuat! be mature, be strong! wanita memang diciptakan dari tulang rusuk lelaki, namun tak semua lelaki mampu menjaga tulang rusuk miliknya sendiri. jadilah dewasa, jadilah mandiri, jadilah kuat!-untuk temanku yang mungkin sedang dirundung kegalauan yang melaut :p-

27 Maret 2012

Telah Habis Persimpangan

Ada apa dengan kenyataan yang beberapa hari ini seolah menjadi mimpi burukku?
Aku terbangun kemudian aku bergidik ketakutan. Bukan membayangkan yang baru saja kumimpikan namun ketakutan menatap kenyataan.
Aku seolah kehilangan sesuatu yang sudah lama menghiasi hidupku, ayah.
Ya, dia memang ayah tiriku dan dia menikahi ibuku 4 tahun yang lalu. Ternyata waktu empat tahun terasa amat singkatnya.
Seolah baru kemarin aku akur, berlapang dada, dan mau ikhlas menerima dia sebagai pengganti ayahku dirumah ini, namun kenapa ke-akur-an dan suasana hangat yang baru saja tercipta kini sudah harus hancur lebur berantakan.
Ayah bilang, dia dan ibu sudah tidak cocok. Lantas? Apa saja yang mereka berdua jalani selama empat tahun ini? apakah masih kurang dan belum cukup untuk menyamakan ketidak cocokan itu selama empat tahun? Kurasa semua manusia pasti memiliki ketidak cocokan dalam hubungannya, tapi benarkah sudah tak bisa disatukan lagi?
”Kak, ibu mau kerumah sakit lagi, kau tak mau ikut mengantarnya?’ tiba-tiba adik perempuanku muncul dari balik pintu kamarku, tanpa sebuah ketukan, yang sontok membuatku kaget dan berjingkat.
”Tidak” kujawab lirih.
”Tapi ibu minta kau yang menyopir, ibu tak enak badan” jelas adikku sembari berjalan mengahmpiriku diatas ranjang.
”Katakan pada Ibu, aku tidak mau. Sudah keluarlah, aku tak mau diganggu.”
Adikku-pun berlalu,
Aku memang sedang merasa sakit hati sekali pada Ibu. Apa dia tak tahu perasaanku? Dia pikir aku robot yang dengan gampangnya mengiyakan maunya yang ini dan yang itu? Ibu sendiri yang memilih cerai dengan ayah kandungku dulu, hingga membuat ayah jatuh sakit dan meninggal. Kini, ibuku lagi yang membuat ayah harus memilih meninggalkan nya. Hanya karena ibuku lebih memilih tetap bekerja di kantor DPRD ketimbang mengurus rumah, sedang ayah baruku tak suka wanita karier yang menuhankan pekerjaan dan meninggalkan tugasnya sebagai ibu.
Pemikiran seperti itu aku setuju, aku sebagai laki-lakipun tak mau kelak punya istri seperti itu.
Tapi yang tak habis ku pikir, kenapa orang dewasa begitu kekanak-kanakan nya mengakhiri sebuah hubungan sakral yang diikat dengan ijab kabul atas nama Tuhan? Apakah mereka tak memikirkan akibatnya? Apakah benar rasa cinta diantara mereka telah pudar hanya ditelan perbedaan dan keegoisan mempertahankan prinsip dan pandangan masing-masing? tidakkah ada jalan terang? Sudah habiskan persimpangan yang menyatukan jalan berbeda itu?
Aku masih belum bisa menerima ini semua. Aku beradaptasi dengan makhluk bernama ‘ayah baru’ itu sungguh sulitnya setengah mati, kini kala aku sudah begitu menyayangi dan mencintai sosok ‘ayah baru’ itu, semua malah berubah dan hilang tak kumiliki. Siapa yang salah disini? Manusia? Keegoisan? Perbedaan? Atau malah Tuhan yang telah menciptakan perbedaan dan perpisahan? /hamidah26maret2012

22 Februari 2012

benarkah ini cinta segitiga?

Bukankah cinta segitiga itu teramat biasa. Bahkan sebagian orang mengatakan itu sudah basi, dan bau tanah. Sudah biasa semua yang bertopik cinta segitiga. Cinta segitiga yang melibatkan orang ketiga, melibatkan sahabat atau bahkan melibatkan kakak kandung sendiri.
Aku sering memaki penulis yang melulu menyajikan alur cerita cinta segitiga. Namun kenapa kini, kala hal itu terjadi dalam hidupku dan kualami sendiri, ini sangat berbeda. Cinta segitiga tak semudah yang dibayangkan, tak pula sesederhana yang digambarkan. Kali ini aku merasakannya sendiri, sebuah cinta antara 3 manusia.
Bayangkan, ketika kau harus mengikhlaskan orang lain jatuh cinta pada orang yang ingin kau kuasai dan kau miliki sendiri. Benarkah keegoisan masih bisa menang dalam saat-saat seperti itu? Atau apakah prinsip “bahagia ketika melihatnya bahagia”, dan atau “cinta tak harus memiliki” masih berlaku? Benarkah semua teori itu masih layak pakai? Ku rasa tidak. Non sense. ___________

Aku masih meringkuk diatas ranjangku, membiarkan beberapa lembar kertas yang bercampur aduk menjadi satu dengan bantal, guling, juga bedcover merah jambu. Aku meraung dan berjerit dalam bisuku tengah malam ini. Aku kesakitan! Aku kesakitan sekali. Bukan aku kehabisan obat penenang atau membutuhkan narkoba, aku bukan pengguna NAPZA. Aku bukan pengguna drugs, namun rasa sakit ini lebih dari sekedar candu. Semua ini karena kejadian tadi sore, kala aku mendapatkan sepucuk surat dari gadis manis nan cantik, dia adik kelasku.

Bukan aku ingin jauh melangkahi mu, kakak. Bukan aku dengan sengaja ingin merusak semua hari-hari mu yang penuh bunga. Bukan aku lancang memporak-porandakan kasih sayang kalian. Namun sungguh aku tak sanggup lagi menahan dan memendam ini semua. Aku biarkan saja tanganku menuliskan surat ini, tanpa melarangnya sama sekali. Aku hanya melarangnya menuliskan kebohongan diatas kertas ini. Mungkin telah lama kakak dengar jika aku menaruh sesuatu perasaan yang berbeda pada kekasih kakak, dan dengan jujur kukatakan bahwa semua itu benar adanya. Aku memang mengagumi kekasihmu kak, dari sisi  manapun itu. Entah sikapnya, cara pandangnya, pemikirannya, dan semua tentangnya yang teramat sempurna. Bukankah kau juga memikirkan seperti apa yang kupikir ini kak? Kita kan mencintai pria yang sama. bedanya, kakak memilikinya, dan aku tidak. Aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan, hanya bisa membelainya lewat perantara angin. Sedangkan, kakak bisa melihat setiap lekuk wajahnya yang maha sempurna itu,  dari jarak satu senti bahkan lebih dekatpun bisa. Kakak bisa setiap hari mencium aroma parfum masculine nya, dan bahkan bisa memeluk dia erat tanpa pernah melepasnya. Tuhaaaaan, aku ingin menjerit. Aku cemburu sekali. Sangat-sangat cemburu dan iri. Kenapa kakak begitu beruntung? Sedang  aku, hanya bisa  menyalahkan takdir dan waktu. Kenapa waktu yang tidak lebih dulu mempertemukan ku dengannya?
Kakak mungkin akan berpikir aku teramat kurang ajar, berani berkata seperti ini, berani memuji kekasih mu kak, dengan berlebihan. Namun kurasa inilah yang terbaik yang harus kulakukan. Kupikir, akan lebih baik jika kakak mengetahui ini semua, daripada aku mengirimkan surat cintaku pada lelaki yang amat ku kagumi itu. Kak, aku mencintai kekasihmu. Dosakah aku? Kak, biarkanlah aku menyukainya, hanya menyukainya, aku janji takkan lebih. aku aneh, namun ini sungguh kenyataan! Aku memang gila, iya. Maafkan aku kak.

____________Semua kalimat gadis itu masih teringat dalam memori otakku. Bukan perasaan nya pada kekasih ku yang menjadikan aku semurung dan sesedih ini. Segalau dan sesakit ini. Bukan pula karena keberanian nya mengirim surat itu padaku. Tapi lebih pada apa yang ia rasakan, adalah sama seperti yang aku rasakan dulu.
Ya, aku mencintai pria lain, bukan kekasihku yang sekarang. Aku mencintai orang lain.
Dan benar gadis ini membangkitkan memoriku lagi.  Kembali menyadarkanku, bahwa aku tak pernah mencintai yang kini menjadi milikku. Sepertinya dia salah besar jika menebak aku berpikiran sama dengannya? Aku tak pernah merasa dia sempurna, karena dimataku, tak ada yang lebih sempurna dari cintaku yang lalu, yang mungkin masih tertunda itu. /hamidah

28 Desember 2011

cerpen "Sori, Eka"

-->
Hari ini matahari seolah terlalu bersemangat. Terik dan panasnya menggigit kulit dan seluruh tubuh kami. Ditambah sepanjang hari harus kami lewatkan dengan upacara pembukaan pekan olahraga dilapangan sekolah.  
Ujian sekolah yang baru usai dua hari lalu lantas membawa kami harus disibukkan dengan kegiatan class meeting bertumpuk-tumpuk. Selama ini class meeting hanyalah dianggap sebagai serangkaian kegiatan adu pemenang. Sama sekali tiada minat bagi penghuni bangku-bangku SMA ini. Tapi bagiku, lain lagi. justru class meeting seperti ini akan menjadi momen terindah, yang selalu kunanti-nantikan. Apalagi tema class meeting kali ini adalah pekan olahraga. Dan yup, tak salah dan tak lain adalah sepak bola. Satu-satunya cabang olahraga yang amat kuminati. Karena akan kutemukan sosok pria idamanku disana.

Kupandangi lelaki yang sedang membawa dua buku tulis ditangan nya itu. Dia berjalan dari ujung sana, keluar dari kantor guru. Dengan mukanya yang kesal, dia semakin terlihat manis saja. Langkahnya yang tegap pas dengan porsi tinggi badan nya, dia mengacak-acak rambut nya, masih terlihat dengan kesal.

Nyaris saja jantungku lepas dari tempatnya, saat lelaki itu lewat di depan ku. Oh Tuhan, dia bisa membunuhku dengan ketampanan nya. Dia-lah, Eka, kelas 11 SMA satu angkatan dengan ku, anak jurusan IPA, penjaga gawang yang handal, dan prestasinya dalam sepak bola yang tak perlu diragukan lagi.

”Kenape lu?” tanya seorang lelaki yang sedari tadi menunggui Eka keluar dari kantor.

”Tau ah, merah lagi nilai gue” Indra menepukkan buku tulis itu ke punggung temannya. Kalau tak salah nama temannya itu adalah Gio.

”Emang pernah ya nilai loe item? Udah kayak pelangi aja tuh raport lu, hahaha” ledakan tawa dari Gio.

”Sialan, haha” Indra terlihat menginjak kaki temannya, lalu tertawa dan mengulang gayanya yang tadi, ’mengacak rambutnya’.  

Aku masih memperhatikan mereka yang berjalan jauh disana. 
Tuhan... dia benar-benar lelaki. Lelakinya lelaki. Sungguh! Belum lagi ketika dia berdiri didepan gawang dengan kostum kipernya, bernomor punggung satu. Ditambah dengan sarung tangan kiper, dia mengawasi jalannya bola yang mengancam gawang, dengan kedua matanya yang seperti elang. Gila, gila, gila, gila. Sejak kapan aku menjadi pengagum rahasia yang sudah stadium empat seperti ini? Tuhan, aku salah mencintainya, aku salah menyukai nya terlebih dulu. Kodrat ku sebagai wanita adalah menunggu. Akh, Eka, sori.. gue suka sama lo.
hamidah izzatu laily/cuma fiksi belaka hehehe

19 November 2011

jempol

Jempol adalah ibu jari. Kenapa dikatakan ibu jari?  Apakah karena letaknya atau bentuknya? Lantas dimana anak-anak nya, apakah 4 jari lainnya itu? Dimanakah suaminya?
Hahahah, kenapa jadi membahas makna jempol atau ibu jari sih.
Tapi ternyata jempol memang mempunyai banyak makna dan arti ketika kamu mengacungkan nya pada orang lain.
Ketika seseorang mengacungkan jempolnya padamu itu bisa berarti
”Ok, absolutely I will handle all :)”
“Be careful friend, too much can hurt you so much”
“Relax, you’ll be ok. No one can make you cried again.”
Banyak kata yang bisa dimaknakan hanya dengan sebuah acungan jempol.
atau mungkin kata...
”Good job.”
”Bagus, pertahankan yang itu.”
”Ok, aku pasti setia”
”Yes, I got it. Aku berhasil”
Dan.... masih banyak lagi. semua yang ber-aroma positif pasti akan disimbolkan dengan jempol.
Tanpa kita sadari, ternyata kita banyak menggunakan jempol ini untuk menyimbolkan kebaikan dan hal positif yang kita sukai. Bahkan semua orang di dunia ini pasti tau apa makna jempol. Baik seorang bos besar, orang biasa, presiden, tukang ojek, murid, mahasiswa, perampok, pemulung, dan semua orang pasti pernah menggunakan simbol ini atau setidaknya tau bahwa jempol adalah simbol hal positif.
19.11.11

14 November 2011

jeruk pada marimas

di siang yang terik itu aku meneguk segelas es jeruk sachet yang kubeli di warung dekat rumahku.
tiba-tiba jeruk itu meraung...
jeruk : jangaaan, jangan minum aku!
aku : lho hei, kau ini kenapa? aku sudah membelimu, mana bisa kau melarangku
jeruk : ya, kau boleh meminumku asal pertemukan dulu aku dengan anakku
aku : anak? siapa anakmu?
jeruk : dia buah jeruk.
akhirnya kuantarakan dia
sesampainya dipasar, es jeruk bertemu dengan anaknya.
anak : ibu? apa yang terjadi denganmu?
ibu jeruk : ibu sudah menjadi bubuk minuman nak :( jangan sampai nasibmu seperti ibu. jagalah dirimu baik-baik, jangan pernah jadi bubuk jeruk, lebih baik jadilah bibit jeruk yang akan memunculkan tunas baru. berkembang biaklah dengan subur anakku :)
setelah perbincangan singkat antara anak dan ibu jeruk yang mengharukan itu, akupun meneguk segelas es jeruk itu dengan bahagia. kasihan si jeruk, tapi aku tak bisa menolongmu, aku juga sedang kehausan :(

20 Oktober 2011

Tidak Sama Sekali
Oleh : Hamidah Izzatu Laily

Tatapanku berhambur pada seluruh penjuru meja kerja, tak terarah jelas kemana. Diatas meja itu ada bertumpuk-tumpuk lembaran kertas kerja, berwarna-warni map, dan lagi bolpoint-bolpoint hitam berserakan disana. Pandanganku kosong, aku benar-benar sedang tanpa tujuan. Aku sedang kebingungan memastikan kemana pandangan ini harus kuarahkan dan kutujukan.
Semua seakan menjejal otakku. Tak ada yang mau antri, dan tanpa seleksi semua masuk dalam pikiranku. Dan bahkan sampah yang satu ini-pun masih terus mengitari otakku, dengan penasaran dan penuh tanya dia terus mengejar jawabku.
Masih terekam dengan jelas oleh otakku, Rudi temanku dibangku SMA yang kini menjadi temanku dalam bangku kerja. Dia sedang terlilit masalah, yang konon katanya masalah besar, dan tentu masalah besar bagiku pula. Bagaimana tidak, baru beberapa jam yang lalu dia dan pengacaranya menghampiriku kedepan meja kerja ini.
”Aku janji ini terakhir kalinya aku meminta bantuan seperti ini sama kau, Ris. Aku bicara bukan sebagai rekan kerja atau rekan bisnis,

18 Agustus 2011

 What Happen Indonesia?
oleh: Hamidah Izzatu Laily


 Perlahan kususuri jalanan yang becek berlumpur, dalam perjalanan menuju pos kamling, tanpa tenaga dan tanpa gairah. Pandanganku berlari menuju ke atap langit, disana tergantung sebuah bulan yang hanya separuh.
Kulompatkan pandanganku dari langit menuju sebuah pelataran sempit dikiri jalan. Beranda yang berantakan, dengan barang-barang pecah yang porak-poranda. Dari depan, rumah itu masih terlihat normal. Namun jika ditengok sedikit kebelakang, maka akan kau temukan sebuah dapur dengan temboknya yang hitam legam penuh abu dan sudah jebol tak karuan.
Itu rumah majikan Tutik, seorang wanita paruh baya yang menjadi perawan tua.