16 Maret 2012

-.-"

aku miskin ide. aku masih belum bisa menuliskan apa-apa.
otakku penuh dengan ujian nasional, dan aku tidak bisa membaginya.

6 Maret 2012

---

aku tidak sedang belajar. aku hanya sedang menipu kenyataan. menyembunyikan kebohongan dari Tuhan dan makhluk. dengan pura-pura membaca antrian kata yang bergumpal diatas lembaran!
aku tidak benar-benar menikmati ini, karena aku sendiri yang telah menodai dan mendustai ilmu.
aku membiarkan otakku menjadi budak. dibudak keinginan dan hawa nafsu!
dimana sesungguhnya letak kebenaran dalam diriku?
Ya TUHAN..., Yang Maha Besar
Engkau lihat hambamu ini Tuhan? sibuk bertopeng dalam pandai, tidak menikmati proses, kemudian berdoa dalam harapan kosong. aku hanya ingin entah. aku bukan semata-mata ingin membahagiakan mereka kedua orangtuaku atau takut menciptakan kecewa. namun di sisi lain aku juga tak sungguh-sungguh ingin menjadi penguasa. aku tau tak sebesar itu mampuku!
aku hanya takut menjadi buruk. kemudian aku melakukan kecurangan dan ternyata aku melewati batas. tiba-tiba kudapati aku telah bertengger diposisi atas! kini, kala aku hendak turun kebawah, kenapa terasa enggan sekali? apa kata orang kala melihatku tiba-tiba dari kasta Brahma menjadi Sudra?
aku sibuk mendengar prasangka manusia! aku tidak benar-benar suka berada disini, dalam situasi ini, dengan kehidupan ku yang begini.
aku hanya terbiasa menuliskan fiksi dalam cerita mainanku, dalam karya pendekku. aku sama sekali tak berharap jiwaku-pun ikut hidup dalam ke-fiksi-an dan kebohongan. aku tak ingin berbohong dalam kenyataan, aku hanya terbiasa menciptakan inspirasi fiksi dalam otakku, yang lahir menjadi ide! ah aku benar-benar tak tahu maksudku sendiri. aku belum bisa menyimpulkan!
 Ketika politik memporak-porandakan, seni yang akan menyatukan  
dan puisi yang akan membersihkan (arswendo-budayawan)

6maret2011

masih ingatkah kamu apa yang terjadi tepat satu tahun yang lalu?
tentu. pasti kau sudah lupa. dan tak apa, aku memakluminya.
semua tentangku memang bukan sesuatu yang penting diingat.
selamat berfokus menuju masa depanmu, lets fight!

5 Maret 2012

5maret2012

5 maret 2012/03:35 pm

Kembali ke peradaban.
Setelah aku seharian penuh membolos atau bahasa halusnya melibur, sore ini aku harus kembali menuju kota malang.
Tadinya dirumah hanya makan, tidur-tiduran, nonton tv, dan tak menatap rutinitas yang membosankan. Serasa surga.
Semua manusia pasti akan merasakan kejenuhan, kejengahan, dan istilah lainnya semacam itu. Maka saat seperti itu, refresing dan penyegaran otak sangatlah dibutuhkan.
Dan jika kejenuhan dan rasa gundah, bosan dan yang sepaket dengan itu belum juga lari dalam benak dan perasaan, maka ingatlah kembali kata-kata Mario Teguh yang kurang lebih seperti ini ”anggaplah hidup ini indah, maka kau benar akan mendapatkan keindahan hidup. Anggaplah semua mudah, maka benar kemudahan akan menyambutmu.”
Right! Let it flow, mengalir kemana saja sesuai jalan takdir. Namun harus tetap dibarengi usaha dan doa. Selanjutnya tinggalah ikhtiar dan tawakkal.
/semangat mid, hidup ini hanya mampir ngopi, kata pak ustad.wkwk

teori ekonomi dalam perasaan manusia

Entah aku terlalu ilmiah, atau sok tahu, atau malah terlalu ter-sugesti pelajaran ekonomi yang akhir-akhir ini menjejali otakku? Mungkin aku terlalu percaya dengan hukum cetusan David Ricardo pada teori produksi, yang berjudul “The Law of Diminishing Return”. Hukum ini membagi tahap produksi menjadi seperti ini:

1. Produksi marjinal terus meningkat sampai maximal
2. Mulai produksi marjinal maximal sampai produksi marjinal = 0
3. Mulai produksi marjinal 0 sampai produksi marjinal negative

Jika digambar dalam grafik adalah sebagai berikut:


Atau mungkinkah aku terlalu percaya juga pada Hukum Gossen I, yang mengomentari perilaku konsumen. Dalam teorinya dikatakan ”nilai guna suatu barang/jasa jika dikonsumsi terus menerus mula-mula akan meningkat, dan secara perlahan-lahan akan menurun, dan akhirnya terjadi kejenuhan (kepuasan vertikal)”

Sebenarnya aku ini bahas apa sih, kenapa tiba-tiba menjadi sok ilmiah dan membawa-bawa teori ekonomi segala?
Sesungguhnya dan sejatinya, pikiran ini memang muncul saat aku sedang belajar ekonomi. Biasalah ya, anak kelas 3 SMA bawaan sok mantengin buku padahal nglamun hehe. Setelah kupikir, ke-dua teori tadi tak beda jauh dengan perasaan manusia, especially in terms of love and attraction.
One day, someone met someone, call they are MR.X and MRS.Y
  1. awalnya mereka bertemu dalam suasana biasa, atmosfer yang biasa, dan tentunya perkenalan biasa (disini tidak sedang bicara tentang cinta pada pandangan pertama, so anggap aja pertemuan mereka berdua awalnya flat sekali)
  2. mulailah tumbuh perasaan cinta karena terbiasa, atau karena alasan lainnya. Dan ternyata keduanya saling menyambut perasaan itu. Cinta mereka-pun terealisasikan, masih dalam hubungan pacaran.
  3. titik klimaks. Saat MR.X dan MRS.Y teramat dalam mencintai satu sama lainnya (serasa dunia milik berdua gitu deh)
  1. rasa cinta mulai pudar seiring berjalannya waktu karena sudah terlalu lama, hingga mencapai titik jenuh. Akhirnya putus deh. Dan saat seperti ini, soundtrack lagu yang paling ngena adalah:
-        versi dalam negri           : killing me inside (biarlah)
-        versi barat                    : my chemical romance (i don’t love you)

bener gak? Bener kaaaan…hahaha
so, cinta emang beda dengan drugs.
Kalo drugs dikonsumsi makin lama makin candu. Tapi kalo cinta, awalnya sih bikin candu, tapi lama-lama jenuh juga.
That’s all, itu sih pandanganku wek! Gak tau kalo yang laen. Heheee
5maret2012/saat aku sedang mainmain dirumah dan meninggalkan sejenak tentang sekolah

4 Maret 2012

suara hujan

Masih ingatkah kau, kala hujan berduyun-duyun turun dari langit.
Air menyampaikan pesan rindu dari langit pada tanah, yang tak pernah bisa berjabat.
Suara tetesnya yang menerpa jalanan, menjadikan basah kuyup tak karuan.
Hilangkan gerah aspal dari kalor dan debu
Menyapu sepanjang jalanan yang kita lalui  berdua,
dan memandikan sekujur pohon, dari ranting hingga merasuk dalam akarnya.

Aku mendengarnya
Suara derap hujan itu masih terekam rapi.
Kemudian kau dan aku berbagi hangat,
diantara dingin yang menelanjangi seluruh kota.

Masih ingatkah kau, kala hujan dan suaranya
Menjadikan kita berangan tentang masa depan.
Namun ternyata, sebelum masa depan impian itu tiba, Tuhan menggariskan yang lain dari mau kita.
Kita terpisah dipersimpangan pendapat yang berbeda. :)
4maret2012/sesaat setelah hujan berhenti menerpa atapku

Kepada Tuhan

Tuhan, aku tahu kini tengah berdiri di atas tanah yang salah.
berbaring diatas ranjang yang tak tepat. 
karena setua ini aku terlalu hafal dengan teori yang berkata "berbohong adalah dosa"
namun malah kuabaikan.

semua manusia pasti ingin melihat dosa, berikut pahala nya.
begitupula aku,  Ya Tuhan
setidaknya jika pahalaku lebih banyak satu gram saja dari dosa, aku masih bisa berhembus lega.

Tuhan, Engkau harus percaya masih ada iman di dalam dadaku.
masih ada kesungguhan tulus dalam hatiku, kala men-sujud-kan kepalaku rata dengan tanah. 
aku memang berdosa pada-Mu, pada manusia, dan pada diriku.
tapi menyudahi yang sudah kujalani kenapa begitu menyesakkan?

aku tanpa arah terus berjalan dalam lorong bisu tiada cahaya. dingin dan lembab.
benar-benar tak ada seorangpun mengarahkan ku jalan menuju rumah.
aku berkali-kali terjerembab pada jalan yang salah, dan tersandung dalam gelap.

Tuhan, percayalah padaku aku masih memiliki iman dalam dadaku.
aku tidak pernah menduakan-Mu, Tuhan.
aku sepenuh hatiku menyembah-Mu dan tak pernah terlintas untuk menyekutukan Engkau.
aku sepenuh hatiku menyerahkah diriku, karena akulah milik-Mu yang akan kembali pada-Mu
aku berusaha ber-iman dan tak pernah terpikir menjadi kafir.
aku takut akan dosa, aku sama seperti lainnya.
aku bertamak pada pahala, tak berbeda pula dengan hambamu disana.

Ya Tuhanku, harus minta pada siapa lagi-kah aku?
manusia, hanyalah sama dengan diriku, tak punya kuasa dan wewenang.
mereka takkan tahu apa yang kurasakan,
yang Maha Tahu hanyalah Dirimu Ya Tuhan.
tentang segala yang menyelinap dibalik hatiku dan entah berbentuk apa itu.
kegelisahan dan ketakutan.

benarkah Kau marah besar Ya Rabbi?
benarkah tiada ampun lagi untukku?
semurka itukah Kau Ya Allah?
benarkah tiada guna aku berpuasa dan berdoa?
benarkah ibadahku bernilai NOL dalam pengadilan-Mu kelak?
benarkah semua amalanku hanya akan mendamparkanku di pantai kemurkaan?
menjebloskanku dalam neraka terbawah?
melemparku dalam lelehan api mendidih?
seburuk itukah nasibku kelak di akhirat? setragis itukah Tuhan?
aku belum bisa berhenti dari berbuat dosa, aku memang jauh dari sempurna.
mungkin aku bukan hamba yang Kau harapkan.

(Selama apapun, akan kutunggu jawaban atas tanyaku./4 maret 2012) 

bukankah aku sedang berdongeng dan cerita? kini kisah kancil sudah menua ditelan zaman, maka aku mendongengkan kisahku sendiri. bahwa semalam aku dirundung duka.
Tuhan membuka luka baru diantara luka lama.
menunjukkan aku sebuah ketidaktampakan yang nyata.
masih haruskah aku mengobatinya, jika ini sudah memasuki stadium akhir.
detik-detik pencabutan nyawa sudah merangkak mendekap.
kurasa biarkan saja, mengalir begitu adanya.
bagaikan pil sudah tak berguna, satu-satunya jalan adalah amputasi dan habis sudah perkara.

selama ini aku tengah memperjuangkan kebodohan.
berjihad ditanah tandus tak mau gembur, percuma diguyur hujan, bahkan dia tetap stagnan kala pasang atau direndam banjir setinggi lutut dan pinggang.
keegoisan atau kemurkaan?
memahami jenismu memang tak semudah menyembul doa dalam pinta pada Tuhan./4 maret 2012
suatu hari aku melewati taman, kulihat setangkai bunga segar berkelopak jingga sedang dimanjakan sang kumbang. interkasi penuh diam, yang bahasa nya-pun tak ku tahu.
Esoknya aku melintasi taman lagi, kulihat sebatang bunga masih ada disana, namun berbeda seperti pemandangan sebelumnya, kini ia seorang diri tanpa kumbang disampingnya.
warna jingga di kulitnya menjelma hitam pekat seperti warna baju pelayat. mungkinkah sang bunga berkabung karena kumbang mati dalam perjalanan nya sore lalu?/29 februari 2012, kabisat