23 Agustus 2018
Para Pendulang Pujian
6 September 2017
Right to be Forgotten
Sebagai contoh kasus terkait konsep ini adalah: seseorang yang pernah melakukan percobaan pembunuhan, maka beritanya di ekspos besar-besar di media massa baik cetak maupun digital. Bahkan, hingga anak dan istri pelaku pun diketahui identitasnya oleh masyarakat luas. Kemudian, beberapa tahun kemudian, setelah hukumannya selesai dan keluar dari penjara, namanya tidak akan bisa bersih karena media digital masih menyimpan rapi apa yang dilakukannya meski sudah bertahun-tahun berlalu. Parahnya, anak dan istri pelaku yang bisa jadi tidak terlibat sama sekali akan hal tersebut, namanya juga terekam dalam media digital. Right to be Forgotten adalah upaya permintaan dari yang bersangkutan untuk "misalnya" menghapus namanya atau minimal nama anak istrinya dari informasi elektronik, agar anak dan istrinya bisa hidup normal sebagaimana masyarakat lain tanpa direkam dalam informasi elektronik sebagai orang yang memiliki anggota keluarga dengan catatan kriminal, inilah mengapa disebut dengan hak untuk dilupakan.
21 Agustus 2017
Bijak Bermedia
3 Mei 2017
Belajar Manajemen Waktu dengan Membaca "Menata Kala"
2 Mei 2017
Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’
Masih di lokasi yang sama yakni Museum Gunung Merapi, aku menemukan gambar ini, lengkap dengan keterangan sebagaimana berikut:
Referensi: Buku Riwayat Peradaban, karya Larry Gonick.
Mitologi Gunung Bromo
![]() |
| Gambar Rara Anteng dan Joko Seger yang Kehilangan Anaknya |
Mitologi Merapi
![]() |
| Mitologi Merapi |
Menghabiskan long weekend di Kota Budaya Jogja tentu saja bagiku tak pernah membosankan. Beruntung sekali aku berkesempatan domisili di Provinsi ini. Setelah beberapa saat lalu memilih untuk jalan-jalan ke Puncak Suroloyo sebagaimana sempat kuceritakan melalui caption di Instagramku adalah tempat bertapa Pangeran Diponegoro, dan hingga kini masih menjadi tempat dilakukannya upacara adat tiap malam 1 Suro. Berbeda dengan minggu ini, aku dan temanku memilih untuk berjalan-jalan ke Museum Gunung Merapi.
![]() |
| Replikas Gunung Merapi dengan Simulasi letusannya |
![]() |
| Pintu Masuk atau Bagian Depan Museum Gunung Merapi |
Mitos Merapi. “Nyai Gadung Melati”
19 April 2017
Buya Hamka bicara Tuhan
Dikutip dari Buku karangan Buya Hamka
Anai-anai (lelatu, semut bersayap, laron dalam Bahasa Jawa) "Berilah aku izin mendekatimu hai lampu, aku ingin cahayamu yang terang benderang itu."
"Sia-sia... semata-mata sia-sia permintaanmu. Sebab keinginanmu itu mesti bertemu dengan bahaya" Jawab lampu.
"Bahaya apakah gerangan itu, tuan lampu?"
"Di dalam perjalanan engkau akan bertemu dengan burung layang-layang, engkau dijadikannya mangsa."
"Itu bukan bahaya, tuanku. Itu adalah keberuntungan, mati dalam menempuh cita-cita."
"Sia-sia, semata-mata sia-sia perbuatanmu itu."
"Mengapa tuan katakan sia-sia orang yang mencintai cahaya tuan?"
"Tidakkah engkau lihat, bangsamu telah jatuh tersungkur, mati bertimbun-timbun di bawah naunganku, lantaran mencari cahayaku?"
"Itu bukanlah sia-sia, ya tuanku. Itu adalah keberuntungan. Kami datang dari tempat yang jauh-jauh mencari cahaya karena kami tak tahan gelap. Kami datang ke dekatmu, berkeliling mencari cahaya. Berilah kami mati lantaran panasnya cahaya itu, bagi kami kematian itulah kelezatan."
"Tidakkah kamu ngeri melihat bangkai yang tertimbun itu?"
"Biarlah bangkai bertimbun,ya tuanku. Bertimbun dan mati di bawah naunganmu. Kami cari cahayamu, setelah maksud kami hasil, biarlah kematian datang, asal kami diridhakan datang."
Maka bertimbunlah bangkai, sedang yang datang masih banyak, dan yang akan datang, masih dalam perjalanan.
(Syair dari seorang Sufi, memisalkan seorang mukmin mencari Nur Tuhannya)
18 April 2017
Rosihan di mata Ina Ratna
Sejak masa muda saya tidak pernah mempercayai "kesan pertama" tentang seseorang. Selalu saya berikan orang kesempatan untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Hal ini selalu saya tanamkan kepada yang lebih muda-muda, termasuk mahasiswa-mahasiswa saya di fakultas. Rasanya memang tidak bijaksana untuk cepat-cepat menjatuhkan penilaian atas diri seseorang. Inipun saya kemukakan ketika mereka mengemukakan kecaman yang sama mengenai Uda Cian (Rosihan Anwar).
--- Kutipan tulisan Ina Ratna Mariani S. (Dosen FISIP UI) dalam buku Wartawan Aneka Citra, buku 70 tahun Rosihan Anwar




