15 November 2019
Sunset di Selat Sunda
Pendidikan dan Lapangan Kerja
![]() |
| Source: https://tekno.tempo.co/ |
14 November 2019
MOVE
30 Oktober 2019
Yet it still moves
25 Oktober 2019
Syukur
23 Oktober 2019
Triumvirate
Nama-nama Menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin telah diumumkan, setelah beberapa hari ini kita disuguhkan pemandangan tokoh-tokoh negara yang silih berganti memasuki istana memenuhi panggilan presiden, tentunya dengan kostum yang sama, atasan putih!
Yang menarik perhatian tentu saja nama Prabowo Subianto. Dua kali menjadi rival Jokowi dalam memperebutkan kursi RI 1, kini ia justru berlabuh pada posisi Menteri Pertahanan 2019-2024.
Politik memang secair itu, jadi tidak usah heran jika yang di akar rumput masih kebakaran jenggot dengan nol satu dan nol duanya, sedangkan yang di atas sudah konsolidasi.
Menteri Pertahanan sendiri bukanlah posisi yang main-main. Bersama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri, ketiganya kerap disebut triumvirate, yakni yang bertugas menjalankan pemerintahan dalam kondisi darurat. Lalu mengapa Jokowi mempercayakan posisi vital tersebut pada Prabowo? Entahlah.
Namun dari ketiga menteri ini, sebagian orang berpendapat bahwa Menteri Luar Negeri lah yang paling bergengsi, sebab merupakan jabatan paling penting nomor tiga, setelah Presiden dan Wakil Presiden.
Apapun itu, selamat bertugas untuk para menteri yang terpilih. Selamat meramu Indonesia menjadi negara maju, damai, dan berkeadilan!
Adil
18 Oktober 2019
Lupakan ini dan itu, sekaligus ani dan inu
Sebenarnya siapa sih ani dan inu? Orang lain? Bukan keluarga? Bukan inner circle?
Ini yang bahaya.
Kita memilih sebuah jurusan kuliah karena si ani terlihat keren di jurusan tersebut, makanya kita ngikut.
Kita ambil kerjaan beken di kota jauh, karena si inu terlihat oke di instagram dengan seragam kantornya.
Atau lebih lanjut kita buru-buru nikah karena si ini terlihat cantik dalam balutan baju akad.
Bahkan parahnya, kita terburu-buru pengen punya anak hanya karena melihat si itu yang nikah tidak lebih dulu dari kita sudah menimang momongan.
Padahal kita sejatinya belum siap. Belum siap kuliah di jurusan tsb, belum siap kerja di tempat tsb, belum siap menikah, belum siap sepenuhnya jadi orangtua yang baik. Kapan siapnya? Allah yang tau. Kita yang tau. Orang lain tidak. Jadi jangan dijadikan ukuran.
Kita punya ukuran masing-masing. Takaran kita beda-beda. Kalau sekali makan bisanya cuma sepiring ya jangan masak nasi banyak-banyak. Gak ke makan nanti. Bisa jadi muntah kalau maksa ditelan. Atau lebih-lebih nasinya basi kalau dibiarkan.
Santai saja. Allah Maha Tau yang terbaik. Kita tugasnya ikhtiar - berdoa - dan tawakkal. Bukan ikhtiar - lamat-lamat mengintip media sosial - mengutuki nasib kehidupan - lupa berdoa - dan sengaja memilih untuk tidak tawakkal.
19 Agustus 2019
Merawat Basa-Basi ala Orang Jawa
26 Juli 2019
Sakinah Mawaddah wa Rahmah
Tampaknya kita harus paham betul dan memaknainya hingga mendalam supaya tak sambil lalu hanya kita ucapkan dan kita amin amin kan saja dari satu perhelatan pernikahan ke pernikahan lainnya.
Sakinah mawaddah wa rahmah dimulai sejak dari sebelum akad diucap. Kala dimulai khitbah, lamaran, dan serangkaian kegiatan menuju sebuah pernikahan.
Terwujud dalam upaya menjaga diri dari fitnah atas hubungan yang belum sah, menjaga kesucian diri, kehormatan diri, dan menjaga sikap.
Hingga akad diucap dan sah menjadi suami istri, sakinah mawaddah wa rahmah terwujud dalam upaya menjaga, karena suami istri bagaikan pakaian untuk satu sama lain.
Di era digital dan media sosial saat ini, sakinah mawaddah wa rahmah salah satunya diwujudkan dalam menahan diri mempublikasikan foto2 atau cerita tentang internal rumah tangga yang "bersifat rahasia". Makna rahasia di sini bukan hanya menjaga aib atau keburukan pasangan saja, bahkan dalam menyebarkan hal baik dan bahagia pun ada adabnya. Jangan sampai foto malam pertama justru diumbar-umbar atau tidak bisa menahan diri dalam menceritakan pengalaman malam pertama, baik secara lisan, tulisan, foto, story, dll. Jika ditanya apakah ada yang begitu, tentu saja ada (semoga kita bukan bagian dari yang melakukannya). Tak sekali dua kali saya dibuat risih dengan postingan entah siapa saya tidak kenal karena mendapatinya di bagian Search, yang mengumbar kemesraan suami istri, berdalih itu adalah kemesraan halal. Bhaique. Dengan caption-caption seperti "Sisa tadi malam" (anda tau sendiri maksudnya). Atau tidak sekali dua kali saya dengar kisah dari rekan yang risih teman sekantornya yang pengantin baru mengumbar kisahnya semalam dengan mengatakan "aduh... Keramas sampe capek" (anda tau sendiri maksudnya). Baiklah... Anggap kita sudah cukup dewasa untuk membicarakan hal ini. Pernikahan bukan cuma tentang itu, more than just that, there is a lot of thing. Jadi jika kita memang cukup berpendidikan ditandai dengan pernah sekolah, maka mari bersikap sebagaimana orang terdidik.
Marwah rumah tangga adalah hal yang harus dijaga. Mengumbarnya ke khalayak umum, bukan menjadi hal yang patut dibanggakan dan disanjung-sanjung. Tampaknya budaya kita dewasa ini semakin jauh melenceng. Pengantin baru yang sedikit berkisah mesra di media sosial dianggap tidak romantis dan tidak harmonis, sedangkan yang banyak mengumbar umbar kemesraan berlebihan justru dipuja puji.
Pernikahan adalah hal yang sangat istimewa dan sakral, di sisi lain itu juga hal yang biasa dan begitu-begitu saja, semua orang tanpa memandang status sosial, harta, dan tahta juga punya kesempatan yang sama untuk dapat
menikah, sama saja. Maka yang menjadi tantangan adalah bagaimana keterampilan dan kemampuan kita mengolah atau meramu sesuatu yang istimewa sekaligus juga merupakan hal yang biasa. Yakni dengan cara menjalankan seluruh proses pernikahan dengan penuh hati-hati dan sakral, agar keistimewaan itu tetap terasa dan tak hambar, sekaligus kita menyebarluaskan beritanya dengan tetap tenang dan santun, tidak menggebu berlebihan seolah di dunia ini hanyalah kita seorang yang mengalami hal tsb.
Tulisan ini benar-benar sebagai refleksi diri saya sendiri, barangkali pernah jari, mulut, atau diri ini berlaku demikian dan membuat orang lain tak nyaman. Tak ada secuil upaya dan usaha untuk menyindir siapapun, saya bukan ahli sindir menyindir, wong Malang bilang "lek gak seneng ngomong ae". Hmm. Tulisan ini benar-benar untuk refleksi sekaligus keprihatinan atas ketidaktahuan saya akan makna luas dari sakinah mawadah warahmah tersebut. Smg Allah memaafkan segala kesalahan saya dalam hal ini.

