22 Juli 2020

Anakmu bukanlah Anakmu



Anakmu bukanlah anakmu
Mereka putera-puteri Kehidupan yang rindu kehidupan itu sendiri
Mereka datang melaluimu namun bukan darimu
Dan meski mereka bersamamu namun mereka bukan milikmu
Kau boleh memberi mereka cinta tapi bukan pikiranmu
Sebab mereka punya pikiran sendiri
Kau bisa memberi tempat bagi raga tapi tidak bagi jiwa mereka
Sebab jiwa mereka hidup di rumah esok yang takkan mampu kau singgahi sekalipun dalam mimpi
Kau boleh berikhtiar untuk menjadi diri mereka namun jangan pernah berupaya menjadikan mereka seperti dirimu
Sebab hidup tak berjalan mundur ataupun teronggok di masa silam
Kau adalah busur yang melesatkan anak-anakmu, sebagai anak panah kehidupan yang meluncur ke masa depan
Lengkung busur itu mencari tanda di atas jalan lurus yang tak berujung, dan Dia melengkungkanmu dengan dayaNya agar panah-panahNya melesat cepat dan jauh
Berlengkunglah dengan riang bersama lengan busur itu
Sebab Dia bukan hanya mencintai anak panah yang melesat, tapi juga sang busur yang diam


Petikan prosa Kahlil Gibran dalam buku The Prophet, diterjemahkan oleh Hamid Basyaib.

8 Juli 2020

Senja di Selat Sunda

Di atas kapal penyeberangan Bakauheni-Merak

Sore itu pendar matahari di selat sunda amat  romantisnya. Kami duduk bersebelahan dalam perahu yang baru lepas dari Bakauheni. Tak ada kata yang terucap, bibir kami terkatup rapat. Kami memang tak ingin menyampaikan apapun dalam bentuk kalimat, sebab diam ini saja sudah menggambarkan segalanya. Masih terbayang jelas dalam benak kami, kota yang baru saja kami singgahi di Lampung selatan tadi. Jalanannya yang sepi, hanya sesekali kendaraan berpapasan dengan kami, bukit-bukitnya yang dibelah oleh alat besar entah hendak dijadikan apa, dan toko-toko kecil beratap pendek yang berjajar rapi disepanjang perjalanan kami. Dari atas kapal ini kami masih melihat puncak gunung Rajabasa, yang sedari siang tadi berselimut awan seolah tak bergerak. Ada apa gerangan di sana, adakah rahasia yang tersembunyi. Penuh tanya benak ini, tapi kami masih diam. Bibir kami tetap terkatup rapat, kami tak ingin kata merusak imaji kami. Biarkan diam ini tetap mewakili segala tanya maupun kagum kami.

2 November 2019

Serang

Serang adalah rumah, entah yang keberapa, karena begitu banyaknya tempat singgah yang menjelma jadi istimewa. Aku kehabisan kata-kata, karena kuselipkan di mana-mana. Di bunderan Ciceri untuk menggambarkan lalu lalangnya. Di alun-alun kota hingga Pasar Lama untuk menggambarkan riuh rendahnya. Bahkan di jalan raya Serang-Pandeglang untuk menggambarkan padatnya truk antar kota. Semua indah. Tak untuk dilupakan tentu saja.

3 Mei 2020

19 Juni 2020

Karantina Mandiri dan Tahanan Rumah

Gambar. Sampul Buku Duo Wartawan Senior, terbitan Tempo Publishing

Sekitar pertengahan April lalu, kami pindah domisili ke Sumatera Barat. Menempuh perjalanan udara dan darat yang lebih menegangkan dari biasanya, karena kami bepergian di tengah suasana pandemi. Minim interaksi, bermasker rapat, hingga bersarung tangan ketat. Kami nyaris tak bicara pada siapa pun sepanjang perjalanan Jakarta-Padang kecuali dengan petugas-petugas yang berkepentingan mengecek dokumen atau petugas kesehatan di bandara yang mengecek suhu lalu meminta kami mengisi berlembar-lembar form data diri dan riwayat perjalanan.

Selain perjalanan itu, yang lebih menarik adalah cerita karantina mandiri kami selama 14 hari ketika tiba di Sumbar. Di tempat yang cukup asing ini, kami tiba-tiba terpaksa harus berdiam diri sepanjang hari di dalam rumah, makan dari jasa catering, dan mengikuti serangkaian prosedur sebagai pendatang dari luar daerah yakni melapor via telepon ke petugas kesehatan setempat dan wali nagari (setara kepala desa). Kesuntukan mengurung diri itu tiba-tiba menjadikanku teringat pada kisah Mochtar Lubis dalam buku berjudul Duo Wartawan Senior Tiga Zaman Indonesia: B.M. Diah & Mochtar Lubis terbitan Tempo Publishing. Dalam buku itu dikisahkan tentang Mochtar Lubis yang pernah menjadi tahanan rumah selama 4.5 tahun di masa pemerintah Soekarno, karena ia tak henti mengkritik pemerintah melalui koran yang dipimpinnya, Indonesia Raya. Koran tersebut memang masih boleh terbit, Mochtar Lubis juga masih rajin menulis tajuk rencana di dalamnya, berkat sang istri yang membawakan naskah itu ke kantor sementara ia tetap di rumah. Mochtar Lubis mengisahkan:

“Saya di jaga oleh dua CPM bersenjata penuh setiap hari. Bulan pertama, saya tidak boleh menerima tamu. Bulan berikutnya saya mulai bisa merayu para penjaga. Saya bercerita tentang alasan saya mengkritik Bung Karno. Akhirnya mereka mengerti kalau saya mau keluar rumah. “Pokoknya kami tutup mata deh, Pak..” kata mereka. Mereka percaya saya tak melarikan diri dan saya memang tak berencana melarikan diri ke mana-mana. Suatu hari, malah para penjaga CPM itu yang permisi mau pergi sebentar. “Pak, kalau letnan kontrol, tolong dong bilang kami di belakang. Kami mau ke Jakarta, cari duit..” mereka pun pergi. Ketika letnannya datang, saya bilang anak buahnya sedang di belakang. Pernah pula suatu malam, mereka minta izin pulang, “Pak, sudah dua minggu kami tidak tidur sama sekali, jadi minta pulang ya..”. Nah, karena itu para penjaga CPM tersebut bisa kompak dengan saya. Setelah tiga bulan, saya bilang, “Eh, sudah lama saya tidak nonton film. Nonton yuk..” Mereka mau dan katanya, “Tapi belakangan saja datangnya biar tidak kelihatan. Bapak terlalu dikenal orang, kalau ketahuan, kami yang susah”. Saya setuju. Maka saya menunggu di mobil sampai kira-kira penonton sudah masuk semua, lantas kedua CPM itu mengurus tiketnya di Globe Teater. Ternyata tidak pakai karcis karena ada tempat duduk gratis buat anggota pemadam kebakaran yang dapat dipakai. “Pak, kolonel mau nonton,” kata CPM itu pada manajer bioskop. “O, beres..”. Saya segera diantar ke dalam dan orang-orang memberi hormat pada saya. Saya menahan ketawa geli. Dulu, jabatan kolonel itu sangat tinggi. Begitulah kehidupan saya selama empat setengah tahun, sementara itu Indonesia Raya tetap beredar dan tetap laku.”.  

Haru tapi juga lucu. 4,5 tahun tentu bukan waktu yang singkat, di tambah Mochtar Lubis juga pernah menjadi tahanan sel beberapa kali salah satunya di Madiun. Jadi, tak ada apa-apanya jika kami melalui 14 hari sebagai “tahanan rumah” karena pandemi. Dahulu, para orang besar itu juga terpaksa menahan diri berbaur dengan dunia luar, demi menyelamatkan negeri ini. Dalam keadaan yang berbeda, namun cara yang hampir sama.



Lubuk Sikaping, 19 Juni 2020

23 Mei 2020

Idul Fitri 1441 H

Ini adalah kali pertama dalam hidupku selama 26 tahun di muka bumi, lebaran tanpa mencium tangan orang tua. Rasanya..... Tak usah dijelaskan, karena aku yakin banyak yang sama sepertiku dalam keadaan saat ini, di tengah ujian pandemi. Tapi yang jauh lebih tak terbayangkan adalah, aku tidak berlebaran di rumah dan itu justru di sini, di kaki bukit barisan. Tempat nun jauh dari peradaban asal. Tiada sanak tiada saudara. Benar-benar tak pernah ada dalam rencana hidup. Tapi apalah aku yang hanya makhluk kecil nan lemah. Allah lah yang Maha Besar, Maha Tau Segalanya, bahkan tiada satu daun pun yang jatuh tanpa kehendakNya. Maka... Ini tentulah takdir terbaik dari Allah. Merasakan rindu bercampur pilu. Ternyata, nikmat berkumpul bersama keluarga itu luar biasa indah. Semoga kelak aku juga bisa menjadi orang tua yang demikian, tempat anak-anakku rindu untuk pulang dan berhambur merengek pelukan.


Aia Manggih, Lubuk Sikaping, 30 Ramadhan 1441 H. 

2 Mei 2020

Ketenangan

Rasa-rasanya kita hidup memang tidak akan pernah tenang. Jadi jika masih merasa bernyawa dan tinggal di alam ini, jangan pernah mendamba ketenangan. Yang bisa kita lakukan bukanlah mendambakannya, tapi memilihnya.
Ya. Tenang atau risau adalah pilihan, sebagaimana mau makan atau memilih lapar. Beras sudah ada di atas meja, tinggal mau kita olah atau kita biarkan saja sembari berharap tetap kenyang. Pilihan kedua jelas mustahil kan.

Cara kita mengolah beras pun berbeda-beda, ada yang langsung dimasukkan mesin penanak dan membiarkannnya hingga matang. Ada pula yang memasukkannya ke dalam janur yang telah dirangkai sehingga jadilah ketupat. Dan lain-lain.

Begitu pula dengan ketenangan dan rasa bahagia, kita mengolahnya dengan cara yang berbeda-beda. Ada yang dengan mendengarkan murottal, sholat malam dengan sujud yang panjang lagi khusyu', ada yang dengan memilih berkumpul dengan keluarga, ada yang memutuskan makan-makan saja, atau yang lainnya. Semuanya sah, semuanya boleh saja, asal masih sesuai aturan agama, tidak melanggar norma sosial, dan tentunya tidak merugikan orang lain.

Di bulan Ramadhan ini, kita diberi kesempatan oleh Allah untuk semakin mendekatkan diri padaNya, untuk memperbanyak ibadah, untuk memahami arti kehidupan dan mengapa kita diciptakan.

Pastikan kita memilih ketenangan dan kebahagiaan, bukan sebaliknya. Selamat menunaikan ibadah bulan suci Ramadhan.

31 Maret 2020

Public Speaking itu Penting!

Beberapa saat yang lalu dalam kelas Public Speaking yang saya ampu, ada jawaban yang cukup menarik dari salah seorang mahasiswa. Ia menjelaskan betapa pentingnya public speaking, hingga hampir semua pemimpin besar dunia ini merupakan public speaker yang handal. Saya pun tertarik untuk posting ulang jawabannya di web pribadi ini, sekedar sebagai pengetahuan bersama. 

Public Speaking adalah kemampuan dasar yang harus dimiliki oleh para pemimpin dan pembentuk opini publik karena tugas mereka adalah memberikan informasi, mendidik, menghibur serta memberikan kesadaran bagi publik.

Secara empiris, bisa kita pelajari dalam sejarah bahwa semua pemimpin adalah public speaker yang baik. Mereka membaca dan mendengarkan fenomena/permasalahan yang terjadi di masyarakat, mengolahnya serta menjadikannya bahan untuk gagasan yang kemudian disampaikan ke publik. Bisa kita lihat bahwa sejumlah pidato hebat telah mengubah jalannya sejarah dunia, antara lain pidato "I have a dream"-nya Martin Luther King yang akhirnya mendorong gerakan persamaan hak sipil di AS dan dunia.

Menurut sejarahnya, public speaking bisa dilacak awalnya pada tradisi "Retorika" yang tercatata pertama kailinya dalam sejarah Mesopotamia Kuno (circa 2285 S.M.). Hal tersebut berlanjut pada tradisi kaum Sofis di Yunani Kuno di mana pra pemikir tersebut juga ahli merumuskan kata-kata dan menyampaikannya ke publik. Gorgias, Socrates dan Aristroteles membangun dasar tradisi itu.

Selanjutnya, tradisi retorika dikembangkan oleh orator ulung Cicero pada masa Romawi yang merumuskan lima hukum retorika yakni Penemuan (inventio), Pengaturan (dispositio), Gaya (elucutio), Ingatan (memoria) dan Penyampaian (Pronuntiatio). Lebij jauh, tradisi public speaking ini menjadi semacam ciri khas hadirnya pemimppin yang berkualitas, a.l Mahatma Gandhi, John F. Kennedy, Adolf Hitler, Winston Churchill, Soekarno, Charles de Gaulle, Nelson Mandela, dan Barrack Obama,

Semua pemipin tersebut memiliki kemampuan luar biasa dalam mendengarkan serta menyerap fenomena di masyarakat. Bisa kita lihat pada Soekarno yang menemukan kosa kata Marhaen dalam interaksinya dengan seorang petani penggarap di Jawa Barat di masa mudanya. Interaksinya dengan Marhaen tersebut membentuk gagasan Soekarno akan marhaenisme, sebuah pemikiran plotik peduli rakyat kecil.

28 Januari 2020

Mengakhiri LDM


Dibalik foto berdua ke pernikahan teman ini, ada banyak cerita. Sebab percaya atau tidak, ini adalah pertama kalinya kami berdua datang ke perhelatan pernikahan bersama-sama setelah menikah lebih dari satu tahun. Umumnya, pasca menikah sepasang suami istri akan bersama-sama menyambangi pernikahan-pernikahan kawan lainnya, mengabadikan foto berdua bersama sebagai pengantin baru, dan begitulah.. ritual-ritual yang jamak dilakukan. Tapi bagi kami yang harus mengawali pernikahan dengan dipisah jarak Jogja-Serang, jangankan pergi berdua ke nikahan teman, bertemu sebulan sekali saja sudah berulangkali syukur kami panjatkan.
Saya pernah menuliskan sebuah kalimat di notes handphone dalam perjalanan menuju domisili suami, begini kira-kira kalimatnya, "Terlalu banyak air mata yang tercecer antara Jogja dan Serang, semoga jarak ini bisa kulipat dan pertemuan itu bisa terus kugandakan"
Bagi yang tidak mengalami Long Distance Married (LDM) kalimat yang saya tulis langsung di dalam bus antar provinsi itu akan terkesan berlebihan, tapi percayalah, bagi pasangan yang pernah mereguk pahit getirnya LDM, mereka akan seketika mengangguk angguk kencang.

Demikianlah, perjuangan LDM itu bagi kami berdua memang telah berakhir, patut kami syukuri dan rayakan. Tapi sekali lagi kami berdua tidak pernah tau apa yang akan terjadi di depan, adakah jalan akan kembali menemui persimpangan? Semuanya kami kembalikan pada Illahi Rabbi, sebaik-baik penentu takdir dan pemberi jalan keluar. 

10 Januari 2020

Tawakkal

Pulang ke kampung halaman suami di pesisir pantai utara jawa selalu membuahkan berbagai cerita menarik. Pulang kali ini, kami diajarkan tawakkal oleh Bapak. Sebelum mengakhiri kisahnya dengan kalimat, "Semuanya sudah ada yang ngatur", Bapak menyebutkan dua nama, misal saja si A dan si B. Keduanya adalah penjual ikan asap. Si A membakar ikan sejak sebelum maghrib hingga adzan subuh berkumandang, jadi semalam suntuk ia akan terus membakar ikan. Jika pertanyaannya kenapa harus malam-malam, sebab pagi harinya ia harus menjual ikan-ikan tersebut, waktu terbaik memasarkan dagangan. Sedangkan si B, sama-sama penjual ikan asap, tapi bekerja lebih santai, bekerjanya tidak sekeras si A, tapi ternyata justru si B lah yang lebih laris, sebelum siang hari menjelang dagangannya sudah ludes terjual, bahkan ada yang harus pay order dulu, demi tidak kehabisan ikan asap buatannya.
Begitulah. Sekali lagi mengulang kalimat Bapak, "Semuanya sudah ada yang ngatur". Iya, tentu saja tugas kita adalah berusaha, selanjutnya tawakkal, sepenuhnya, hanya kepada Allah. 

30 Desember 2019

Waktunya Memberi

Selalu siap menerima, tapi sulit untuk memberi.
Ini bukan bicara mengenai uang atau harta benda. Lain daripada beri memberi dalam topik tersebut, saya justru sedang membicarakan mengenai memberi dalam hal ilmu.
Ya. Kita terbiasa "ready to receive" not "ready to give", karena barangkali sejak kecil sudah dibiasakan untuk menerima dan menerima saja. Mengeluarkannya pun bukan dalam konteks memberi, tapi dalam konteks ya.. menyelesaikan rangkaian dari proses pemberian tersebut. Sehingga ketika sampai di usia yang memaksa kita untuk memberi, kita bingung, belum siap. "Apa yang mau diberikan, aku kosong belum terisi. Ilmu mana yang mau diberikan, kan kemarin aku diberi untuk aku muntahkan kembali dalam lembar ujian akhir semester. Kemudian sudah, aku kosong kembali."

Maka barangkali, sebagaimana kita dipaksa untuk terus menerima, begitupula kita harus dipaksa untuk memberi. Memberi apapun, asal pilih yang baik-baik. Beri bungkus yang masih ada isinya dan pastikan itu enak. Bukan memberi bungkusnya saja kan, itu namanya sampah. 

20 November 2019

Dari Vital Menjadi Viral


Terkadang pening betul kepala ini melihat informasi yang berhambur tak karuan di media-media. Ini sudah macam anak SD yang jengah dengan pelajaran sekolah di siang bolong, lalu dikuasai kantuk tak tertahan, namun seketika terdengar bunyi bel nyaring ditelinga. Maka berhamburlah mereka menyerbu gerbang, ingin segera pulang, entah untuk makan atau main di lapangan. Begitulah kira-kira ilustrasinya. Sesak bejubel tak karuan informasi jaman sekarang. Semua orang bisa melaporkan, lalu kebohongan saling berkelindan dengan kenyataan, fakta pun terabaikan, pokok masalah pun kabur jadi samar-samar.

Kini untuk mendapatkan berita apa yang paling penting saja, kita harus susah payah dulu menemukan media atau portal online yang akurat, berimbang. Untuk betul-betul melihat isu apa yang kini sedang dan harus mendapat perhatian, kita harus perang dulu melewati ribuan lapisan hoax dan  berbagai informasi viral yang tak jarang nirfaedah. Jadi sekarang, apa yang viral segera naik ke permukaan, sedangkan yang vital bisa saja malah terabaikan.

Sebut saja beberapa waktu yang lalu CNN melakukan liputan khusus bersama tim peneliti ke puncak Jayawijaya di Papua. Mereka mengabadikan “salju terakhir” untuk sesuatu yang selama ini kita sebut-sebut sebagai “salju abadi”. Nyatanya, karena pemanasan global yang semakin tak terbendung, es di puncak Jayawijaya terus mencair dan diprediksi akan segera menghilang selamanya dalam beberapa waktu ke depan. Tanpa ada media yang mengabarkan informasi ini, jangan heran jika tiba-tiba ada anak bangsa yang dengan bangga di 50 tahun mendatang menyebut bahwa “Indonesia juga punya salju. Salju abadi bahkan, di puncak gunung di Papua”, padahal salju itu telah mencair, hilang, gone puluhan tahun yang lalu.

Tayangan eksklusif tentang salju terakhir di Jayawijaya itu sayangnya disiarkan oleh media asing yang membuka kantor di Indonesia, namun justru sepi dari perhatian media dalam negeri. Ke mana yang lainnya? Isu lingkungan memang kerap menjadi anak tiri di sini. Masyarakat kita lebih gemar dengan isu politik yang tiada usainya. Bahkan seorang teman saya pernah bilang, “Baru juga Pilpres 2019 digelar, media kita sudah sibuk membahas Pilpres 2024”. Ada benarnya. Lalu kapan isu yang lain kebagian tempat kalau yang bertengger di atas panggung: politik lagi politik lagi.

Berdamai dengan Diri Sendiri

Menaklukkan batin yang berkecamuk bukan ihwal mudah. Pertama-tama harus kendalikan nafsu, lalu pikiran, kata, dan perbuatan. Tahap demi tahapnya haram dilewati. Sebab batin adalah makhluk abstrak. Bersemayam di balik lapisan daging yang dibalut baju dan segala pernik. Sulit mengendalikannya. Tapi kita pasti bisa. Sebab itu dalam tubuh kita. Menyatu dengan darah dan udara dalam tubuh. Bagian dari kita. 

Abah dan Sebuah Nasihat Kehidupan

Kala masih kecil, aku pernah dengan menggebu2 berhambur ke arah Abahku.. dengan penuh antusias kuceritakan pada Abah bahwa ada seseorang yang sangat sangat rajin, ia membaca banyak buku, bahkan saking rajinnya.. ia tak pernah tak tidur dalam keadaan membawa buku. Itu artinya, dia membaca sepanjang waktu terjaganya, hingga kantuk tiba ia tetap membaca buku. 

Abah dengan tenang menjawab, "ngapain begitu itu... tidur ya tidur, ndak usah bawa buku. Sebelum tidur itu ya wudlu dulu, berdoa dulu, pakai selimut". 

Lalu aku hanya tertegun saat itu, menyadari bahwa cerita hebatku dimentahkan oleh jawaban Abah.

Kini aku sadar, benar juga jawaban Abah, lucu mengingat masa masa kecil. Anak kecil selalu penuh gairah, mudah terperangah. Nah.. jika kita sudah dewasa namun masih mudah silau dengan yang berkilau... mudah kagum pada apa yang tak umum... apa bedanya kita dengan masa kecil dulu? Hehe. 

15 November 2019

Sunset di Selat Sunda


Source: Dokumen pribadi penulis

Beberapa minggu yang lalu saya dan suami berkesempatan melakukan perjalanan ke pulau sebrang, melalui jalur darat. Dari kota Serang menuju ke Pelabuhan Merak, membutuhkan waktu cukup singkat, kurang lebih satu jam. Kami membeli tiket dengan biaya 15 ribu per orang untuk kapal laut kelas ekonomi.
Perjalanan menyeberang dari Merak ke Bakauheni tidak memakan waktu yang lama, kurang dari 3 jam saja. Kala perahu merapat di tepi daratan Lampung Selatan, mata kami seketika berbinar-binar dan ada gembira yang meletup-letup. Ini menjadi kali kedua bagi saya menyeberang antar pulau menggunakan kapal laut, sebelumnya saya pernah menyeberang dari Jawa ke Bali, pelabuhan Ketapang ke Gilimanuk.
Sangat indah. Tentu saja. Memandang lautan yang kehijauan dan langit yang biru, menyatu begitu padu. Diiringi burung-burung camar yang terbang di sepanjang pantai. Juga segarnya bakau yang berjajar dipinggir pulau pulau kecil. Hampir sempurna.
Tapi sungguh, tidak ada yang benar-benar sempurna. Sebab ini dunia bukan surga. Di balik keindahan pemandangan yang memanjakan mata sepanjang perjalanan, kami hampir lupa bahwa ada banyak pelajaran kehidupan yang berharga.  Kenyataannya, perjalanan Merak Bakauheni tak seindah deskripsi para turis atau pelancong dalam buku-buku travelingnya. Sebab ada peluh yang beradu dengan lelah dalam diri para sopir truk antar pulau itu. Setiap hari hidupnya berkutat pada aspal dan laut. Ia seolah tak bisa mengelak, sebab itu bukan pilihan. Ada pula khawatir dalam diri para penjaja pop mie dan rokok eceran di atas perahu. Ada ketakutan dalam diri para perantau yang hendak pulang ke kampung halamannya, sebab gagal mendapat pekerjaan impian. Tak lupa, ada juga rindu diam-diam menyergap hati para karyawan kantoran yang ngelaju tiap akhir minggu. Rindu bertemu keluarga, rindu memeluk orang tua, istri, anak, atau bahkan cucu.  
Semua beradu menjadi satu, di dalam perahu itu.  Dalam tatapan mata mereka, banyak kisah yang diam tak bersuara. Hanya berlinang-linang seperti kerling air laut, tak hendak ke mana-mana. Foto di atas adalah sekelumit keindahan dari perjalanan beberapa waktu lalu. Tak untuk ditafsirkan apa-apa. Tapi percayalah banyak getir yang tidak tertangkap kamera, tapi dirasakan tiap-tiap penumpang di dalamnya.

Pendidikan dan Lapangan Kerja

Source: https://tekno.tempo.co/
Melalui akun twitter @setkabgoid, Sekretariat Kabinet Republik Indonesia memperkenalkan nama-nama menteri baru di Kabinet Indonesia Maju dibawah kepemimpinan Jokowi-Ma'ruf. Pada poin ke 17, cuitan tersebut menyebut nama Nadiem Anwar Makarim sebagai Mendikbud. Mantan CEO Gojek ini digadang-gadang akan mampu  membuat terobosan signifikan dalam pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM), yakni dengan cara menyiapkan SDM yang siap kerja. Bahkan disebut pula bahwa melalui tangan Nadiem, akan dapat tercipta kesinambungan atau link and match antara pendidikan dengan industri.
Cuitan yang disukai oleh ribuan pengguna twitter ini justru menimbulkan khawatir selain senyum kecil karena wajah baru yang kini mengisi pemerintahan. Pertanyaannya, tepatkah visi menyiapkan SDM siap kerja tersebut melalui kementerian pendidikan dan kebudayaan?
Kekhawatiran yang muncul kemudian adalah, jangan-jangan institusi pendidikan hanya digunakan sebagai mesin pencetak generasi siap kerja, untuk tidak menyebutnya dengan kata buruh. Tidakkah itu terasa terlalu mengerdilkan tujuan dari pendidikan. Seolah hanya sebagai komoditas industri dan bisnis belaka? Semoga dengan angin segar yang berhembus, tidak datang badai yang mengerikan. Semilir angin gunung memang terkadang sejuk, tapi tidak jarang mengerikan. Semoga Nadiem Anwar Makarim mampu membawa pendidikan ke arah yang murni sesuai amanat UUD. Selamat bertugas!

14 November 2019

MOVE

Sekitar enam belas tahun yang lalu, kala saya masih duduk dibangku kelas tiga sekolah dasar, menjadi penulis adalah sebuah impian besar. Di usia yang sama, teman sekelas saya umumnya bercita-cita menjadi dokter, tentara, polisi, atau guru. Tapi entah kenapa menulis menjadi sebuah passion bagi saya, sebuah panggilan jiwa. Di usia yang masih kanak itu, bacaan kegemaran saya adalah cerita pendek di rubrik khusus milik Kompas Anak, yang terbit hanya tiap hari Minggu. Praktis, akhir pekan menjadi saat-saat yang selalu saya nantikan, “Ada cerita apa lagi Minggu ini?” begitu seterusnya pertanyaan dalam benak ini. Sampai pada suatu ketika saya memberanikan diri mengirim cerita-cerita pendek ke redaksi Kompas Anak. Tanpa ekspektasi apa pun, pure ala anak kecil. Saya dengan tekun mengetikkan paragraf demi paragraf cerita itu di komputer berlayar tebal dengan windows 98 nya. Ah... haru mengingatnya, itu komputer pertama di keluarga kami, Abah yang beli. Beberapa kali tulisan saya ditolak, tapi sekali lagi, dengan tanpa ekspektasi maka saya tidak kecewa atau sakit hati, saya kirim lagi. Toh, Kompas dengan baik hati selalu mengirim balik naskah tulisan saya sembari membubuhkan satu lembar surat dari redaksi dan menjelaskan alasan penolakan mereka. Alasan-alasan itu menjadikan saya belajar banyak, “Oh... ternyata saya kurang nya di sini..” begitu seterusnya.

Menginjak masa SMP, kegemaran saya tidak berubah. Saya masih istiqomah menulis di komputer windows 98 itu. Saya simpan file-file tulisan dengan rapi, masih tanpa ekspektasi. Menulis adalah sebuah passion, dan bagi saya tulisan itu lahir tanpa harus dibaca siapapun, tanpa perlu diakui bagaimanapun, dan tanpa perlu dipuji apapun. Saya yang menulis, saya yang menikmati. Sehingga kerap kali saya buka-buka sendiri file itu, mengamati ulang tulisan saya, mengoreksi kata demi kata, kalimat demi kalimat yang kurang padu padannya. Kala SMP saya pun sudah mulai upgrade diri, bukan hanya menulis cerita pendek tapi sudah mulai menulis novel. Teenlit istilah gaulnya. Ceritanya tentu saja kebanyakan kisah cinta remaja. Tapi saya juga kerap menulis puisi-puisi, hasil refleksi diri terhadap sekeliling. Sungguh mengasyikkan. Sampai suatu ketika, SMP saya akan menerbitkan majalah sekolah perdana, sehingga dibutuhkan pengurus majalah. Saya pun menjadi salah satunya. Inilah pertama kali tulisan saya dimuat dan dibaca banyak orang (barangkali). Saat majalah sekolah itu terbit, saya pandangi saja tulisan yang saya buat tercetak di atas lembarannya. Beberapa rekan yang membaca majalah itu kemudian segera menggodai saya karena nama “Hamidah” terpampang dengan jelas di sana. Saya bangga. Saya merasakan pertama kali dalam hidup, ini yang namanya pengakuan dan apresiasi. Tapi kemudian saya tahu, itu juga menjadi saat pertama dalam hidup saya untuk tidak pure lagi, saya sudah memiliki ekspektasi dalam menulis. Sesuatu yang bisa menjadi baik, bisa pula menjadi racun.

Memasuki bangku SMA, saya tetap merawat hobi menulis. Untuk pertama kalinya di tahun 2010, saya menerbitkan secara digital tulisan-tulisan saya di sebuah blog, bernama sebatangmimpi.blogspot.com. Blog ini yang kemudian menjadikan saya tidak lagi introvert menyimpan file-file tulisan di dalam komputer. Ini juga seiring saya sudah mempunyai laptop sendiri, kegiatan menulis pun bisa semakin fleksibel dilakukan di mana saja, sesaat setelah ide melintas di benak. Teman-teman SMA saya juga mengetahui kegemaran ini, beberapa dari mereka bahkan dengan senang hati mengunjungi blog saya, membaca tulisan-tulisannya, dan meninggalkan komentar. Sebuah kebahagiaan tersendiri bagi saya, jika mereka menikmati hasil karya sederhana itu. Meski beberapa memuji, namun tak sedikit yang usil lalu menggodai saya dengan memanggil-manggil, “Hei, sebatang mimpi!” atau, “Hei, Hamidah Semi!”. Semi merujuk pada singkatan dari nama blog sebatang mimpi itu. Saya tidak malu, gengsi, atau sangsi, bagi saya apresiasi dapat dilontarkan dalam beragam bentuk. Saya senang teman-teman mengenal saya sebagai “si gadis gemar menulis”. Beberapa teman juga menunjukkan dukungannya dengan mendorong saya untuk menerbitkan tulisan-tulisan di blog menjadi sebuah buku. Saya senang atas dorongan itu, tapi belum saya wujudkan.

Memasuki masa-masa kuliah, saya kehabisan waktu untuk menulis. Saya sibuk mengerjakan tugas, berorganisasi, hingga bekerja paruh waktu di media lokal Kota Malang. Menyesal? Hm... tidak juga. Karena meski hobi saya menulis terbengkalai, dan saya hampir-hampir saja kehilangan gairah dalam menulis, tapi saya tahu dan dapat memastikan, kala itu saya tengah sibuk untuk hal-hal yang tidak kalah baik untuk diri dan masa depan.
Sebatang mimpi masih baik-baik saja hingga akhir tahun 2016-an, kadang terisi tulisan, kadang tidak, seluangnya waktu saja. Hingga saya terkesiap, apabila nama adalah doa, akankah sebatang mimpi hanya akan selamanya menjadi sebatang mimpi, tanpa pernah tumbuh menjadi pohon lalu berubah menjadi taman, berkembang menjadi hutan rindang, bahkan sampai menjadi paru-paru dunia? Padahal harapan saya sebatang mimpi bukan hanya menjadi sebongkah kayu saja, saya berharap dia bertumbuh kembang, memiliki rekan dan kawanan, menebar kebaikan, lewat tulisan.
Lalu sekira tahun 2017-an saya mengubah sebatang mimpi menjadi perspektif hamidah, tempat saya menuangkan berbagai pemikiran, apa pun. Agar sudut pandang itu ikut mengisi dan mewarnai riuh rendah pemikiran di tengah belantara media sosial yang kian ramai pengguna. Seiring berganti nama menjadi perspektifhamidah.blogspot.com, saya pun sedikit banyak mulai menulis pemikiran saya terkait sosial, politik, dan budaya, tidak hanya cerita fiktif.

Kini perspektif hamidah mendapat dukungan dari suami saya, ia membantu saya mengubahnya menjadi sebuah website. Meski berbayar, ia yakin itu akan baik untuk saya mengembangkan hobi ini menjadi sesuatu yang berguna bagi orang banyak. Menulis bagi saya saat ini bukan hanya sebuah hobi dan passion saja, karena saya sadar harus membubuhkan sedikit ekspektasi di dalamnya, tentu dalam takaran yang wajar dan seperlunya. Sebab, mendiamkan tulisan dalam komputer pribadi saya tidak akan bermanfaat apa-apa selain menjadi penghibur diri sendiri kala waktu senggang. Tapi membagikannya pada dunia luas, barangkali dapat menghadirkan manfaat pula bagi orang lain yang membacanya, sedikit atau banyak.

Saya teringat suatu ketika Ignasius Jonan pernah berkata “Misalnya Tuhan memberi kita usia 75 tahun maka: Pada 25 tahun pertama hidup kita lebih banyak menerima. Dan 25 tahun berikutnya, hidup haruslah seimbang menerima dan memberi. Pada 25 tahun ketiga, harus lebih banyak memberi daripada menerima”. Maka bagi saya yang akan segera memasuki tahap 25 tahun kedua hidup ini, saya berupaya dan (masih) berlatih untuk memberi (meski sedikit), setelah 25 tahun pertama telah saya lewati dengan lebih banyak menerima.

Semoga dapat bermanfaat untuk khalayak luas. Terima kasih. 

30 Oktober 2019

Yet it still moves

Kala itu di abad pertengahan, ilmuwan Galileo Galilei mendukung teori Copernicus bahwa matahari adalah pusat tata surya, bukan bumi yang menjadi pusatnya. Pandangan tsb kemudian ditentang bahkan Galileo dituntut untuk mencabut pernyataannya dan mengakui bahwa bumi adl pusat tata surya. Bila tidak, Galileo akan diberikan surat excommunication, atau surat yang menyatakan ia dikeluarkan dari komunitasnya. Atas desakan tsb, secara terpaksa Galileo mencabut pernyataannya dan mengatakan bumi adalah pusat tata surya. Meski begitu, sembari beranjak dari ruangan, ia mengatakan "eppur si mouve" atau "yet it still moves" yang bermakna bahwa "bagaimana pun juga, bumi tetap berputar (mengelili matahari)".
Kata-kata tersebut kemudian menjadi simbol kebenaran atau simbol bahwa kebenaran pasti akan menang. Kemudian, justru setelah Galileo meninggal, terbukti bahwa matahari-lah pusat tata surya. 





(Ini adalah kata-kata favorit Mas Anwar, ia tuliskan pula di tesisnya, bahkan bio instagram😅  Penasaran, akupun menanyakan artinya, dan bergegas menuliskan. Kata-kata yang menarik). 

25 Oktober 2019

Syukur

Dunia memang tempat ujian dan beragam masalah. Tiap yang bernyawa seolah punya saja masalahnya masing-masing. 
Yang belum lolos snmptn minder dan tak sabar ingin segera kuliah. Yang sudah kuliah ngeluh tugas tugasnya susah. Yang sudah lulus, capek ngelamar kerja sana sini tak kunjung diterima. Yang sudah kerja lelah diomeli bos atau difitnah temen sekantor, lalu ingin resign saja atau nikah. Tapi ingin nikah belum datang-datang jodohnya. Meratap merasa tak laku. 
Sedangkan yang sudah datang sinyal jodoh berkali-kali, belum juga sreg karena kurang kriteria ini dan itu. 
Yang sudah nikah ternyata juga tak sepi dari keluhan, sebab berbagai penyesuaian suami istri harus dilakukan, salah satunya melepas pekerjaan. Jadilah ibu rumah tangga, lalu mengeluh tak punya temen dan komunitas. Apalagi anak sudah lahir capeknya level dewa, merasa tak berguna kuliah tinggi-tinggi hanya berakhir di depan popok berisi eek bayi. Padahal yang belum punya anak, ikhtiarnya luar biasa keras, sujudnya berurai air mata tiap malam, memohon buah hati pernikahan. 
Anak beranjak dewasa mulai sekolah di kota-kota jauh bahkan negeri asing. Ditinggallah orang tua di kampung halaman. Meratapi nasib yang merasa seolah sendirian. Mana bakti anak yang sudah susah payah dibesarkan. Orang tua sakit bukan ditemani dan dirawat malah tidak pulang-pulang. Nun jauh di sana ia malah memusingkan nasib-nasib orang, memikirkan hak-hak rakyat dan entah siapa dalam diktat dan buku-buku teori kuliahnya yang tebal. Orang tua pun mati dalam kesengsaraan dan kehidupan yang tak pernah tersentuh syukur. Dan sejarah berulang. Di rantau sana, anak-anaknya mengeluhkan sulitnya kuliah dan ingin segera menikah saja. Lalu menikah dan merasa kuliah tinggi-tinggi tiada berguna karena hanya berakhir di depan popok berisi kotoran. 


Betapa..... Hidup tiada gunanya jika hanya dipenuhi ratapan-ratapan. Naudzubillahi min dzalik.... Semoga kita termasuk dalam golongan orang-orang penuh syukur dan qonaah. Di dunia adalah tempat kita sementara, tugas kita beribadah sebanyak-banyaknya dan mencari nafkah semestinya. Selanjutnya kita akan kembali ke akhirat selamanya, semoga surga tempat kita. Amin. 
Hidup penuh syukur, meninggal khusnul khotimah. 

23 Oktober 2019

Triumvirate

Nama-nama Menteri di kabinet Jokowi-Ma'ruf Amin telah diumumkan, setelah beberapa hari ini kita disuguhkan pemandangan tokoh-tokoh negara yang silih berganti memasuki istana memenuhi panggilan presiden, tentunya dengan kostum yang sama, atasan putih! 
Yang menarik perhatian tentu saja nama Prabowo Subianto. Dua kali menjadi rival Jokowi dalam memperebutkan kursi RI 1, kini ia justru berlabuh pada posisi Menteri Pertahanan 2019-2024.

Politik memang secair itu, jadi tidak usah heran jika yang di akar rumput masih kebakaran jenggot dengan nol satu dan nol duanya, sedangkan yang di atas sudah konsolidasi.

Menteri Pertahanan sendiri bukanlah posisi yang main-main. Bersama dengan Menteri Luar Negeri dan Menteri Dalam Negeri, ketiganya kerap disebut triumvirate, yakni yang bertugas menjalankan pemerintahan dalam kondisi darurat. Lalu mengapa Jokowi mempercayakan posisi vital tersebut pada Prabowo? Entahlah.

Namun dari ketiga menteri ini, sebagian orang berpendapat bahwa Menteri Luar Negeri lah yang paling bergengsi, sebab merupakan jabatan paling penting nomor tiga, setelah Presiden dan Wakil Presiden.

Apapun itu, selamat bertugas untuk para menteri yang terpilih. Selamat meramu Indonesia menjadi negara maju, damai, dan berkeadilan!

Adil

Dunia ini memang tidak pernah adil, tapi Allah Maha Adil. Maka terserah kita, memakai kacamata dunia ataukah memakai kacamata agama. 
Anak direktur jelas tidaklah sama dengan anak tukang sol sepatu. Dunia melabeli yang satu dengan sebutan kaum kaya dan satunya dengan sebutan kaum papa. Hanya iman yang membedakan kita dihadapan Allah SWT, bukan harta, tahta, bahkan keluarga, bukan.