10 Februari 2014

Puisi (1)


Haruskah kata "apa kabar" yang pertama kutuliskan, untuk mengawali interaksi yg entah telah berapa lama tak lagi terjalin antara kita
Tidakkah sebaiknya aku mengawali ini dengan kalimat "selamat pagi cinta, the sun come to see your smile"
Kalimat yang selalu kuingat sebagaimana aku mengingat gosok gigi pagi
Bohong.
Mustahil.
Bohong dan mustahil aku tak merindu.
Sungguh dalam terjaga atau terpejamnya mataku adalah melihatmu.
Entah kenapa kau tiba tiba menjelma sungguh berharga.
Mungkin kau hanyalah sebotol air keruh, tapi kau berada tepat di hamparan gurun tandus
Maka sungguh kau adalah potongan surga yang jatuh ke bumi
Berlebihankah aku memujimu?
Sudahkah aku nampak seperti wanita linglung karena termankan rindu?
Ku coba menahan sesuatu yang terus memantul, seolah ada pegas yang hendak melompatkan hatiku hingga ia tanpa kontrol terus berusaha mencari degupmu.
Kucoba memadamkan sesuatu yang terus berkobar, otakku seolah meletup letup bak kembang api tahun baru, ia terus menerus memikirkan mu.
Entah kau mau tahu atau tidak, yang kini kurasakan adalah kecamuk yang menggebu
Aku masih sakit, jasmani dan rohaniku/Hamidah, januari

8 Februari 2014

Melangitkan doa



Selesai. Aku selesai menyimak habis-habisan dari akhir hingga awal
Aku membaca terbalik fragmen fragmen hidupmu yang kau selipkan lewat kata demi kata yang aku tak tahu kesungguhan dan kenyataan itu.
Nyatanya kita jauh.
Aku hanya pengintip yang tak hendak muncul kepermukaan,
Terus saja berdiam dibalik selimut kulit domb,a dan mencoba menghangatkan diri dari kemenggigilan ini.
Jika jodoh, takkan kemana, ingatlah Tuhan akan menghimpun segala yang terserak. 
Sejauh apapun jarak, bahkan andai seluruhnya beda tiada sama, jika Allah “Ya”, semua akan “Ya”.

“Stalking itu adalah siap tau masa lalunya dan tidak boleh ada kecewa setelahnya”

6 Februari 2014

"Menghimpun yang Terserak"


Menyatukan yang dua
Menunggalkan yang ganda
Dan menghapus penyekat
Merubah kata saya dan kamu menjadi kita
Membagi tak hanya yang gula tapi racun jua
Dunia dan akhirat, sampai tiada terhingga waktu berjalan. Sesungguhnya hanyalah akhlak yang baik yang mampu menjadikan kemanunggalan tersebut abadi dan barakah, bahagia dan sakinah.


"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat" -Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putri beliau Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib.

Melihat undangan pernikahan yang berdatangan, dan membaca kalimat ini dihalaman muka undangan. Ini memang bulan bulan ramai orang menikah. Kau kapan? Hahaha:))

5 Februari 2014

Rumah Tanpa Ibu

Rumah itu dingin
Rumah itu melompong
Bukan melompong dari benda, tapi melompong akan hangat
Sinar matahari yang menembus kaca, merobek tirai-tirai luush, kemudian menyeka sekujur sudut ruangan.
Debu-debu yang nampak seperti berlian lalu berkilau-kilau diterpa cahaya vertikal.
Rumah itu bukan rumah duka
Tapi rumah itu dingin.
Matahari tak bisa menggantikan hangat didalamnya yang jika dikenang teramat mengharukan.
Rumah itu kemudian menjadi hambar.
Tak ada suara sibuk didapur menggoreng camilan
Tak ada suara air kran mencuci wadah-wadah makanan
Tak ada bisik lirih membangunkan mata-mata kantuk yang malas.
Tak ada gesek sapu pada lantai, dan bahkan tak ada gertak sayang pada gadis-gadis mungil yang enggan berjamaah ke surau.
Rumah itu piatu,
Penghuni nya pun begitu.
Tanpa ibu.
Rengek merea seolah tak laku, takkan mampu mengembalikan sesuatu apapun itu.
Hanya ada lutut kurus yang terlipat dan didekap dengan erat.
Hanya ada bibir tipis yang memucat karena digigit kuat-kuat.
Semua takkan kembali, selamanya takkan lagi.
Sudah terlanjur semuanya terjadi.

puisi ini kubuat beberapa bulan yang lalu dan sempat mendekam lama di memo handphone ku. "Rumah Tanpa Ibu" ini terinspirasi dari kisah hidup saudara keponakan ku yang masih kecil-kecil dan harus piatu karena ibunya meninggal dunia. Kepergian ibunya yang mendadak tanpa ada tanda-tanda seperti sakit yang cukup lama, membuat mereka tentu terpukul hebat. 
Kini, kabar terbaru yang kudapat, mereka Alhamdulillah baik-baik saja. sudah bisa mandiri, memasak dan mencuci, sesekali masih dibantu Bapaknya yang usianya sudah mulai "sepuh". 
"Rumah Tanpa Ibu", itu bagaikan pagi tanpa matahari;(

19 Oktober 2013

(lanjutan)RANGKUMAN BUKU PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D



BAB V. PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
-          Persepsi adalah proses menafsirkan rangsangan dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
-          Persepsi adalah INTI KOMUNIKASI à interpretasi adalah INTI PERSEPSI.
-          Persepsi terdiri dari 3 aktivitas
1.       Seleksi
2.       Organisasi
3.       Interpretasi
-          Persepsi:
1.       Lingkungan fisik
a.       Lambang fisik
b.      Sifat luar ditanggapi
c.       Tidak bereaksi
2.       Lingkungan sosial (manusia)
a.       Lambang verbal dan non verbal
b.      Sifat luar dan dalam ditanggapi
c.       Bereaksi

A.      PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Latar belakang pengalaman, budaya, dan suasana psikologis yang berbeda membuat kita berbeda dalam suatu objek (lingkungan fisik)
B.      PERSEPSI SOSIAL
1.       Persepsi didasarkan pengalaman
2.       Persepsi selektif
3.       Persepsi dugaan
4.       Persepsi evaluatif
5.       Persepsi kontekstual
C.      PERSEPSI DAN BUDAYA
1.       Kepercayaan, nilai, sikap
2.       Pandangan dunia
3.       Organisasi sosial
4.       Tabiat manusia
5.       Orientasi kegiatan
6.       Persepsi tentang diri dan orang lain
D.      KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
1.       Kesalahan atribusi (memahami penyebab perilaku orang lain)
2.       Efek halo (kesan awal yang menjadikan kita menebak-nebak sifat orang lain)
3.       Stereotipe (menilai orang lain berdasarkan kelompoknya, bukan individunya)
4.       Prasangka (penilaian berdasarkan pengalaman)
5.       Gegar budaya (ketidakmampuan menyesuaikan diri dengan budaya baru)



BAB VI. KOMUNIKASI VERBAL
-          Bahasa verbal adalah sarana utama untuk menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan kata-kata.
A.      ASAL USUL BAHASA
Bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Ketika belum mampu berbahasa verbal mereka berkomunikasi lewat gambar. 500 tahun lalu, manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, dan bahasa lisan mulai banyak berkembang.
B.      FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
-          Untuk merancang solusi untuk memecahkan masalah hidup
-          Paling mendasar berfungsi utnuk menamai atau memberi julukan pada orang, objek, peristiwa.
-          Tiga fungsi bahasa (menurut Lary Barker):
1.       Penamaan: usaha untuk mengidentifikasi
2.       Interaksi: berbagi gagasan, emosi
3.       Trnasimisi Informasi: bertukar informasi
-          Tiga fungsi bahasa (menurut Book):
1.       Mengenal dunia disekitar kita
2.       Sarana untuk menghubungkan antar manusia
3.       Untuk hidup lebih teratur, saling memahami, percaya, satu tujuan.
C.      KETERBATASAN BAHASA
1.       Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial (tidak melukiskan sesuatu secara eksak). Contoh: mata kita bisa membedakan tujuh juta warna, tapi untuk menyediakan nama satu persatu untuk semuanya itu, tentu sulit karena berarti kita harus menyediakan tujuh juta nama.
2.       Kata-kata bersifat ambigu (tidak jelas) dan kontekstual (tergantung konteks). Karena kita berasal dari latar belakang sosial budaya yang berbeda-beda, ruang dan waktu dapat mengubah makna kata.
3.       Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa adalah PERLUASAN BUDAYA. Setiap bahasa menunjukkan suatu dunia simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pemikiran, pengalaman batin, dan kebutuhan pemakainya.
4.       Percampur adukan fakta, penafsiran (dugaan), dan penilaian (kekeliruan persepsi).
Bedakan FAKTA dengan DUGAAN agar PENILAIAN MENJADI BENAR. Kita sering mengganggap suatu peristiwa yang sebenarnya dugaan, kita anggap sebuah fakta.
D.      KERUMITAN MAKNA KATA (contoh: anak yang kencing disebut menyanyi)
Kitalah yang memberi makna pada kata. Makna dibagi menjadi dua:
1.       Makna denotatif: makna yang sebenarnya (murni)
2.       Makna konotatif: makna bercampur aduk dengan berbagai sebab dan alasan
Makna muncul dari berbagai hubungan khusus antara kata dengan manusia. Kita dapat menciptakan kata apa saja dengan arti apa saja, sejauh berdasarkan KESEPAKATAN.
-          Macam-macam rival bahasa:
1.       Bahasa daerah VS bahasa daerah
Karena lagi-lagi sosial budaya (sosbud) yang berbeda, kata yang sama pun bisa dimaknai berbeda. Contoh: “atos” dalam bahasa sunda bermakna “sudah”, sedangkan dalam bahasa jawa bermakna “keras”.
2.       Bahasa daerah VS Bahasa Indonesia
Contoh: “sok” dalam bahasa indonesia artinya “sombong”, sedangkan dalam bahasa sunda berarti “silahkan”. Setaip orang mempunyai gagasan pribadi mengenai suatu konsep. Kondisi emosional dan motivasional individu juga mempengaruhi makna yang ia berikan pada konsep tersebut.
3.       Bahasa Indonesia VS Bahasa Malaysia
Suatu negara menganggap bahasanya yang paling baik. Contoh: kereta di Malaysia artinya mobil di Indonesia.
4.       Bahasa daerah/ Bahasa Indonesia VS Bahasa asing lainnya
Contoh : Cincin dalam bahasa jepang artinya –alat kelamin- laki-laki.
E.       NAMA SEBAGAI SIMBOL
Fungsi pertama dari bahasa adalah penamaan. Nama dapat mempengaruhi hidup anda. Nama bersifat simbolik, nama memberikan suatu makna dan dapat mempersepsi cara perlakuan orang lain.
Contoh: anjing, babi à sama-sama nama hewan, tapi kedua hewan tersebut memiliki konotasi buruk (biasanya digunakan untuk mengumpat).
Nama juga bisa menyusahkan si empunya, contohnya ada orang yang bernama khadijah, maka ia secara tidak langsung harusnya bersikap baik dan santun seperti khadijah istri Nabi Muhammad dalam agama Islam.
F.       BAHASA GAUL
-          Latar belakang yang berbeda menjadikan cara berbicara juga berbeda.
-          Bahasa subkultural = Bahasa gaul = bahasa yang punya arti khusus dalam golongan tertentu.
-          Fungsi dari bahasa gaul:
1.       Sarana pertahanan diri: agar tidak bisa dipahami kelompok lain, terlebih kelompok lawan.
2.       Argot berfungsi sebagai sarana kebencian kelompok, terhadap kelompok lain.
3.       Argot sebagai sarana memelihara identitas dan solidaritas kelompok: membedakan mereka dengan kelompok lain.
-          Macam-macam bahasa gaul:
1.       Bahasa kaum selebritis
2.       Bahasa gay dan waria, bahasa selebritis mirip bahasa gay.
3.       Bahasa waria
G.     BAHASA WANITA VS BAHASA PRIA
Wanita dan pria memiliki bahasa yang belainan, ciri bahasa wanita adalah:
1.       Bahasa wanita tidak setegas bahasa pria, mereka biasa menggunakan kalimat yang mengandung ekor tanya, seperti “isn’t it?’’ “Right?”.
2.       Kurang percaya.
Wanita menggunakan kata penguat, seperti “so”, “very”.
3.       Frase melemahkan, contoh “maybe, perhaps”.
4.       Hiperkorek (resmi)
5.       Lebih sering menggunakan kutipan langsung.
6.       Intonasi pertanyaan.
7.       Kurang rasa humor.
8.       Enggan menyumpah dan memaki.
-          Wanita: pembicaran hubungan (berpusat pada perasaan, memilihari hubungan dengan orang lain)
-          Pria: pembicaraan laporan (berpusat pada Informasi faktual)
H.      RAGAM BAHASA INGGRIS
-          Orang inggris: bicara berbunga-bunga, banyak eufimisme.
-          Amerika: bicara langsung dan lugas.
-          Inggris filipina: khas karena dipengaruhi bahasa spanyol.
-          Inggris australia.
-          Inggris singapura.
I.        PENGALIHAN BAHASA
Kita perlu menguasai bahasa mitra komunikasi kita (minimal menguasai bahasa dunia, yaitu inggris)
1.       Kelemahan dalam penguasaan tata bahasa, struktur, kosakata: menghasilkan terjemahan yang membingungkan. Contoh: dragonfly bukan bermakna naga terbang tapi capung.
2.       Sejumlah kata serapan dari kata inggris mengalami perluasan. Contoh: keluarga – famili (padahal dalam bahasa inggris: family)
3.       Tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, karena sulit mencari padanannya. Contoh: printer, mouse, file.
4.       Frase atau kalimat bahasa indonesia tidak bisa diterjemahkan begitu saja secara kata per kata. Contoh: saya ingin buang air kecil, jika di terjemahkan ke dalam bahasa inggris tentu saja tidak menjadi begini, “I want to discard small water”.
J.        KOMUNIKASI KONTEKS TINGGI VS KOMUNIKASI KONTEKS RENDAH
-          Konteks rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya bicara langsung, lugas, terus terang.
Contoh: komunikasi pada program komputer.
-          Konteks tinggi: bersifat implisit, tidak langsung, tidak terus terang. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan non verbalnya.
Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara berputar-putar tidak langsung pada inti masalah.
-          Orang indonesia cenderung berbicara tidak langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.

30 Agustus 2013

rumah kardus

Mereka takkan bisa melihat kami disini
Tapi kami bisa dengan jelas melihat mereka, dan tempat tinggalnya yang memenuhi angkasa langit ibu kota.
Mereka mungkin hanya melihat kami sebuah jajaran rumah kardus, tak ada beda.
Tapi kami dengan mata telanjang mampu melihat mereka dan gemerlap lampu yang entah mengapa begitu terangnya.
Sesungguhnya ada berapa milyar orang disana, sehingga lampulampu begitu riuh bercahaya.
Sedang kami bertujuh sekeluarga hanya butuh 2 lampu 5 watt untuk hidup di malam gelap gulita.
Ah aku lagi lagi harus mendongak ke angkasa untuk lebih jelas mengamati lekuk demi lekuk yang maha sempurna dari sang empunya negara
Ya, aku bukan pemilik negara
Beberapa tetanggaku bahkan bilang kita disini hanya menumpang
Menumpang tanah negara yang sewaktu-waktu waktu itu tiba, maka tak perlu alat berat untuk meratakan rumah kami
Kan ini tak berat, hanya susunan kardus yang kami sebut rumah
Rumah kardus

29 Agustus 2013

#quotesoftheday

Dan jika kau biarkan dirimu mengalir seperti air, maka kau tak ada beda dengan sampah.
Terjang! Bongkar! Jadilah air yang besar! Air yang kuat.

Inilah dunia simbol. Ketika kau seolah disembah sujudi karena mahkota yang menghias batok kepalamu, bukan apa yang ada didalam situ.

BERSYUKURLAH UNTUK SETIAP HAL KECIL DALAM HIDUP KITA :)

Seharusnya yang perlu kita tau bukanlah kehidupan selebritis, tapi kehidupan wakil rakyat. Siapa mereka, bagaimana latar belakang keluarganya, bagaimana gaya hidupnya, kemana saja mereka pergi dan berkunjung, dan apa saja yang mereka lakukan untuk rakyat. Itu bisa menjadi media monitoring, sekaligus mengenal lebih dekat siapa orang yang kita sebut "wakil rakyat" itu/hamidah 29 agustus 2013/ pemilihan gubernur jatim.

belajar menghargai

Semua yang lama pernah menjadi baru.
Semua yang hina pada awalnya pernah dipuja.
Semua yang usang dulu pernah merasa mengkilat.
Semua yang lama pasti terlahir dari kebaruan.
Tak ada yang tiba tiba buruk.
Tak ada yang mendadak lawas. 
Cintailah sebagaimana ia menjadi baru,
Pujilah sebagaimana ia tak patut dicaci.
Jangan lupakan manis, walau kini telah menjadi sepah.
Setidaknya sepah tak berubah menjadi pahit.
Belajarlah menghargai.
Hamidah 29 agustus 2013/di tempat penambal ban memungut "bagiannya" dari Tuhan

8 Agustus 2013

Di ambang Pintu Perjuangan.


Entah kala itu tanggal berapa pertama kali kuinjakkan kaki ditanah basah desa kucur. Desa asri nan sejuk yang jauh dari hiruk pikuk kota. Basi mungkin menggambarkan setting desa subur seperti ini, namun takkan basi jika kau berkunjung sendiri. Sungguh, teramat benar, jika ada yang bilang “Indonesia adalah potongan surga yang jatuh ke Bumi” dan bahkan dengan melihat nuansa alami ini seolah-olah saja dulu surga pernah bocor dan menumpahkan  keindahan nya di tanah desa kucur.

Mobil biru itu berhenti dihalaman mungil masjid yang belum jadi. Aku mengernyitkan kening dan menyipitkan mata menyaksikan sekeliling. Terlalu sederhana. Bukan aku butuh mewah, tapi ini terlalu sederhana jika dibandingkan mushola-mushola mungil yang bertebaran di kota yang selama ini aku dan teman-teman tinggali. Kontras sekali. Bahkan mushola desa ini belum pula jadi. Temboknya masih berwarna abu-abu semen, hingga nyaris lumutan, entah.. mungkin karena terlalu lama tak segera disentuh cat.
Namun seketika lamunanku buyar, saat guru ku meminta aku dan beberapa orang teman yang ikut tinjau lokasi, untuk bergegas menjajari langkah beliau memasuki masjid. Disana sudah ada beberapa pria dewasa yang disebut ustad dan beberapa wanita dewasa pula yang disebut ustadzah. Kami berjalan perlahan-lahan, sedikit kikuk, kami dihujani tatapan oleh ustadz, ustdzah dan santri-santri kecil berwarna-warni bagai pelangi.
Berbagai corak, bajunya maksudku. Tapi kala itu aku merasa mereka semua kembar, muka mereka semua nyaris sama tak ada beda. Aku masih ingat betul itu, mereka melongo melihat muka-muka kami, dengan polos minim ekspresi, dan jika aku boleh menerka, maka kalimat inilah yang mungkin sedang berkeliling tawaf di benak mereka, “Siapa gerangan muda mudi datang dari dalam mobil biru itu? Asing sekali mereka, dengan tatapan nya yang mencoba bersahabat. Hendakkah mereka ikut mengaji bersama kami? Ah… mana mungkin, mereka sudah terlalu besar. Atau… mungkin benar, siapa tahu mereka belum bisa mengaji?” 

Dan jika itu pertanyaanya, maka kami akan menjawab, “Mungkin kami sudah bisa mengaji, namun kami belum bisa membaca. Kami sungguh belum bisa membaca hati-hati suci kalian, adik-adik. Kami belum bisa membaca tatapan kalian, kami sungguh buta akan bahasa tubuh kalian. Dan kini kami sedang mencoba, kami memulai nya dari sini, perjalanan dakwah dan perjuangan untuk mencerdaskan.”
Selamat datang di desa Kucur, untuk memulai langkah tegap perjuangan. Perjuangan ini bukan tentang seberapa pintar kalian, bukan seberapa hebat jurusan di perkuliahan, bukan seberapa banyak prestasi yang diraih, tapi setangguh apa kalian mampu menghadapi kemalasan, ketidakpedulian, dan seleksi alam.  
Innalallaha ma’ana.


-Hamidah Izzatu Laily for @CMCmalang

5 Agustus 2013

Diskusi dengan Tuhan

Setiap jengkal kehidupan,
Kita duduk satu meja berhadapan.
Tak saling pandang namun sungguh erat merasakan
Tuhan dan kita teramat dekat
Bahkan Tuhan lebih dekat dari urat nadimu sendiri.
Namun, Tuhan terkadang tak sependapat dengan kita
Argumen mu ditolak mentah-mentah.
Sampai sujud berurai air mata, ternyata lain keputusannya.
Mau membantah sang empunya perusahaan? Mana mungkin.
Kau bisa dapat SP, wahai bawahan.
Lanjutkan dulu diskusi mu di sepertiga malam,
kau mohon ini, Ia kabulkan itu
Kau minta begini, Ia takdirkan begitu.
Terkadang hendak mengeluh, namun kau coba tahan.
Terkadang mau marah, tapi….
Sungguh percayalah, pendapat Tuhan mutlak benar!


“Bersabarlah wahai hati, jangan menggebu-gebu dengan apa yang kau harapkan. Berusaha, berdoa, dan tawakkal. Jangan lupakan step terakhir, tawakkal! Tawakkaltu alallah! Percayalah, Allah punya rencana besar, yang lebih baik dari apa yang kau bayangkan” Hamidah/mengawali agustus 2013.