Merhaba Rajab!
Tiba-tiba sudah Bulan Rajab saja, tiba-tiba pula sudah usia 20 saya hahaha, sebentar lagi bulan puasa, bulan bulan penuh lomba, lomba meraih ridho-Nya, lomba meraih surga, lomba menjadi lebih baik, dan... berlomba-lomba pula mencapai hajatan-hajatan yang belum diizinkan Allah Ta'ala. Barangkali jika kita rajin merayu pada Tuhan lewat doa dan perangai yang mulia, Beliau akan iba kemudian bimsalabim :)
aku masih akan terus percaya "MAN JADDA WA JADDA". usaha keras takkan pernah berkhianat, Hamidah. /27 april 2014, disela hiruk pikuk kehidupan, ditengah karomah dan kasih sayang-Nya. Innallaha ma'ana
27 April 2014
21 April 2014
Generasi yang dibungkam mulutnya dan haram bertanya
Hari ini aku ke pasar minggu kota malang, pasar yang hanya akan ada pada hari minggu pagi ini menjual berbagai macam barang dengan harga miring.
Ada satu cerita yang kubawa dari jalan jalan pagi yang membuat gerah itu..
Ketika ada seorang penjual mainan anak berupa tikus tikusan, katak, cicak, dan hewan hewan semacam itu yang berbentuk lentur sekali seperti jeli, jika mainan itu dilempar maka akan melentur seolah hendak pecah, tapi akan kembali lagi ke bentuk semula. Sontak beberapa anak kecil sibuk melongokkan wajahnya melihati mainan ajaib tersebut, jangan kan mereka yang masih kecil, aku dan kakakku yang sudah dewasa saja cukup terkesima melihatnya, dan inilah kalimat yang muncul dari seorang anak kecil laki laki berkaus lengan pendek.
Mungkin kini dia masih duduk di sd kelas 1 atau 2, "pak.. ini cara buat nya gimana?" Itulah pertanyaan sederhana darinya, sungguh sederhana bukan.
Bapak penjual mainan yang bertopi seperti bang ocit ala sctv itu pun menjawab "ya nggak buat, ini bapak juga beli" jawabnya enteng. Tatapan anak kecil itupun masih penuh tanya, dahinya mengkerut sedikit, tanda tanya masih menyeruak di kepalanya, tentu saja aku tau sebabnya, karena pertanyaannya tak membuahkan jawab.
Aku pun merenung sejenak, inilah generasi kita.. generasi kecil.. daun muda indonesia yang kelak memimpin bangsa. Mereka pandai, mereka cerdas, banyak pertanyaan pertanyaan hebat didalam benak, namun sekian banyak itu pula yang tak mendapatkan jawab.
Sadarkah, kita di didik untuk tidak bertanya. Kita di didik untuk tidak tahu asal mula, kita di cetak menjadi generasi yang suka praktis, apatis, dan tau final saja. Kita tak pernah diajari proses, yang penting adalah hasil. Generasi konsumen bukan produsen. Seperti halnya mainan tadi, andaikan si penjual bukanlah distributor akhir dari china atau manusia manusia berlabel luar negeri, andaikan si penjual tadi adalah produsen nya, maka tentu pertanyaan bocah kecil itu mudah terjawab, pertanyaan yang bisa membuahkan pengetahuan dan ilmu berharga. Siapa tahu anak kecil itu mampu berinovasi dan melahirkan ide lebih cemerlang, melakukan perbaikan terhadap produk yang sudah ada. Menyenangkan bukan. Jika sudah begini salah siapa? Sebenarnya aku tak benar benar ingin tahu siapa subjek yang salah, mungkin lebih tepat jika kita memperbaiki kesalahan yang sudah berlangsung cukup lama. Mari menciptakan generasi produktif yang inovatif dan berkualitas./Hamidah 20 april 2014, menjelang lahirnya pejuang yang membuka sekat sekat kebodohan di masyarakat pribumi, salam kemerdekaan yang hakiki RA. Kartini
Ada satu cerita yang kubawa dari jalan jalan pagi yang membuat gerah itu..
Ketika ada seorang penjual mainan anak berupa tikus tikusan, katak, cicak, dan hewan hewan semacam itu yang berbentuk lentur sekali seperti jeli, jika mainan itu dilempar maka akan melentur seolah hendak pecah, tapi akan kembali lagi ke bentuk semula. Sontak beberapa anak kecil sibuk melongokkan wajahnya melihati mainan ajaib tersebut, jangan kan mereka yang masih kecil, aku dan kakakku yang sudah dewasa saja cukup terkesima melihatnya, dan inilah kalimat yang muncul dari seorang anak kecil laki laki berkaus lengan pendek.
Mungkin kini dia masih duduk di sd kelas 1 atau 2, "pak.. ini cara buat nya gimana?" Itulah pertanyaan sederhana darinya, sungguh sederhana bukan.
Bapak penjual mainan yang bertopi seperti bang ocit ala sctv itu pun menjawab "ya nggak buat, ini bapak juga beli" jawabnya enteng. Tatapan anak kecil itupun masih penuh tanya, dahinya mengkerut sedikit, tanda tanya masih menyeruak di kepalanya, tentu saja aku tau sebabnya, karena pertanyaannya tak membuahkan jawab.
Aku pun merenung sejenak, inilah generasi kita.. generasi kecil.. daun muda indonesia yang kelak memimpin bangsa. Mereka pandai, mereka cerdas, banyak pertanyaan pertanyaan hebat didalam benak, namun sekian banyak itu pula yang tak mendapatkan jawab.
Sadarkah, kita di didik untuk tidak bertanya. Kita di didik untuk tidak tahu asal mula, kita di cetak menjadi generasi yang suka praktis, apatis, dan tau final saja. Kita tak pernah diajari proses, yang penting adalah hasil. Generasi konsumen bukan produsen. Seperti halnya mainan tadi, andaikan si penjual bukanlah distributor akhir dari china atau manusia manusia berlabel luar negeri, andaikan si penjual tadi adalah produsen nya, maka tentu pertanyaan bocah kecil itu mudah terjawab, pertanyaan yang bisa membuahkan pengetahuan dan ilmu berharga. Siapa tahu anak kecil itu mampu berinovasi dan melahirkan ide lebih cemerlang, melakukan perbaikan terhadap produk yang sudah ada. Menyenangkan bukan. Jika sudah begini salah siapa? Sebenarnya aku tak benar benar ingin tahu siapa subjek yang salah, mungkin lebih tepat jika kita memperbaiki kesalahan yang sudah berlangsung cukup lama. Mari menciptakan generasi produktif yang inovatif dan berkualitas./Hamidah 20 april 2014, menjelang lahirnya pejuang yang membuka sekat sekat kebodohan di masyarakat pribumi, salam kemerdekaan yang hakiki RA. Kartini
11 Februari 2014
Bahu Jalan
Lagi-lagi aku mengomentari benda benda mati yang membubuhkan bagian tubuh manusia sebagai kata penjelasnya.
Jika aku sempat menanyakan dimanakah letak leher langit jika ada yang biasa kita sebut kaki langit, kini aku menanyakan seberapa besar ukuran tubuh jalan raya, karena kemarin sore kala aku menunggu angkutan di pinggiran trotoar, aku mengamati bahu jalan yang nampak muram menyedihkan.
Bahu jalan, dimana sampah-sampah menepi dari hembus laju bus kota yang tak pernah bisa santai.
Bahu jalan, dimana aku berdiri menunggu motor-motor itu mau berbaik hati, memberi sedikit kesempatan pada ku untuk berpindah posisi ke sebrang jalan.
Bahu jalan, rupanya juga tempat untuk bersandar sambil menangis pilu kala lelah hidup menghinggapi mu.
Bahu jalan, mungkinkah bisa sama dengan bahu manusia?
Maukah ia menerima keluh, air mata, bahkan ingus kita?
Bahu jalan, semoga sebaik bahu-bahu manusia yang tulus menerima sandaran kawannya.
/Hamidah 10 Februari2014 Catatan perjalanan hari ini
Jika aku sempat menanyakan dimanakah letak leher langit jika ada yang biasa kita sebut kaki langit, kini aku menanyakan seberapa besar ukuran tubuh jalan raya, karena kemarin sore kala aku menunggu angkutan di pinggiran trotoar, aku mengamati bahu jalan yang nampak muram menyedihkan.
Bahu jalan, dimana sampah-sampah menepi dari hembus laju bus kota yang tak pernah bisa santai.
Bahu jalan, dimana aku berdiri menunggu motor-motor itu mau berbaik hati, memberi sedikit kesempatan pada ku untuk berpindah posisi ke sebrang jalan.
Bahu jalan, rupanya juga tempat untuk bersandar sambil menangis pilu kala lelah hidup menghinggapi mu.
Bahu jalan, mungkinkah bisa sama dengan bahu manusia?
Maukah ia menerima keluh, air mata, bahkan ingus kita?
Bahu jalan, semoga sebaik bahu-bahu manusia yang tulus menerima sandaran kawannya.
/Hamidah 10 Februari2014 Catatan perjalanan hari ini
buku anak smp itu berjudul "indahnya masa pubertas"
Siang ini ditengah-tengah liburan semester yang kuhabiskan di kampung halaman, aku harus ke Kota Malang untuk menyelesaikan urusan technical meeting mc. Seperti biasa, aku akan lebih memilih naik angkutan umum colt daripada bus. Kebetulan siang ini angkutan yang kunaiki penuh sesak dengan anak-anak berseragam yang baru pulang sekolah. Para pelajar itu nampak mengenakan baju putih dan bawahan berwarna putih pula, karena ini adalah hari senin. Di lengan sebelah kanan mereka ada sebuah badge bertuliskan "SMPN 4", tentu saja itu adalah sekolah dimana aku menempuh ilmu kurang lebih 5 tahun yang lalu.
Ku amati saja muka-muka polos mereka, yang barangkali tak jauh beda dengan "hamidah 5 tahun lalu", hmmm aku mengulum senyum di bibir yang sengaja kutahan.
Pelajar kecil berjilbab yang duduk bersebrangan denganku, bahkan masih menggunakan badge berwarna hijau dan tertera cukup besar angka VII Romawi disana, itu menunjukkan ia masih duduk di bangku kelas 7 atau 1 SMP. Ia memangku sebuah buku berjudul "Indahnya Masa Pubertas".
Kali ini masih bisakah aku menahan senyum? Tentu saja judul di sampul buku itu membuatku kelimpungan karena berusaha menahan senyum didalam angkutan sesak ini.
Aku pun berhasil menenangkan diri.
Pada awalnya aku memang menganggap judul buku itu cukup "konyol" dan bahkan "kontroversial", namun aku tiba-tiba termangu... mengeja kembali buku yang berbentuk seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) yang kini masih diatas pangkuan bocah manis itu.
Ya, bukankah masa pubertas memang indah. Bukankah masa-masa SMP seperti mereka memang menyenangkan? Berangkat sekolah pukul setengah tujuh, kemudian belajar hingga siang dan pulang. Tidur siang dan bangun berangkat mengaji ke TPQ lantas malamnya mengerjakan PR dan kembali bermimpi indah. Tidakkah kau merindukan schedule yang dulu kau anggap sedemikian monoton itu?
Belum lagi jika hari minggu, pergi bermain kerumah teman dengan dalih mengerjakan tugas kelompok yang pada akhirnya justru berganti agenda menjadi sarana bermain dan bercerita. Berenang ke kolam renang umum yang tentu saja sangat akrab di telinga anak-anak kecil di Kepanjen.
Tentu berbeda dengan sekarang, kau seorang mahasiswa yang harus berkejaran dengan jadwal tak menentu. Harus sibuk luar biasa hingga tengah malam bahkan sesekali tanpa tidur sedetikpun, namun kau juga tak boleh kaget kala harus menganggur tanpa kerjaan sama sekali hingga tiga bulan karena libur semester genap.
Sekali lagi "indahnya masa pubertas" boleh jadi benar, masa itu memang indah, masa-masa mulai mengenal mana yang tampan dan masa dimana mulai malu-malu karena rasa suka terhadap lawan jenis.
Tapi, jangan tertipu kemasan, karena kebanyakan yang platinum otaknya akan jauh lebih memukau kala dewasa, ketimbang yang platinum wajahnya. Benar begitu bukan? :)
Hamidah 10Februari2014 #kisahangkutan
Ku amati saja muka-muka polos mereka, yang barangkali tak jauh beda dengan "hamidah 5 tahun lalu", hmmm aku mengulum senyum di bibir yang sengaja kutahan.
Pelajar kecil berjilbab yang duduk bersebrangan denganku, bahkan masih menggunakan badge berwarna hijau dan tertera cukup besar angka VII Romawi disana, itu menunjukkan ia masih duduk di bangku kelas 7 atau 1 SMP. Ia memangku sebuah buku berjudul "Indahnya Masa Pubertas".
Kali ini masih bisakah aku menahan senyum? Tentu saja judul di sampul buku itu membuatku kelimpungan karena berusaha menahan senyum didalam angkutan sesak ini.
Aku pun berhasil menenangkan diri.
Pada awalnya aku memang menganggap judul buku itu cukup "konyol" dan bahkan "kontroversial", namun aku tiba-tiba termangu... mengeja kembali buku yang berbentuk seperti LKS (Lembar Kerja Siswa) yang kini masih diatas pangkuan bocah manis itu.
Ya, bukankah masa pubertas memang indah. Bukankah masa-masa SMP seperti mereka memang menyenangkan? Berangkat sekolah pukul setengah tujuh, kemudian belajar hingga siang dan pulang. Tidur siang dan bangun berangkat mengaji ke TPQ lantas malamnya mengerjakan PR dan kembali bermimpi indah. Tidakkah kau merindukan schedule yang dulu kau anggap sedemikian monoton itu?
Belum lagi jika hari minggu, pergi bermain kerumah teman dengan dalih mengerjakan tugas kelompok yang pada akhirnya justru berganti agenda menjadi sarana bermain dan bercerita. Berenang ke kolam renang umum yang tentu saja sangat akrab di telinga anak-anak kecil di Kepanjen.
Tentu berbeda dengan sekarang, kau seorang mahasiswa yang harus berkejaran dengan jadwal tak menentu. Harus sibuk luar biasa hingga tengah malam bahkan sesekali tanpa tidur sedetikpun, namun kau juga tak boleh kaget kala harus menganggur tanpa kerjaan sama sekali hingga tiga bulan karena libur semester genap.
Sekali lagi "indahnya masa pubertas" boleh jadi benar, masa itu memang indah, masa-masa mulai mengenal mana yang tampan dan masa dimana mulai malu-malu karena rasa suka terhadap lawan jenis.
Tapi, jangan tertipu kemasan, karena kebanyakan yang platinum otaknya akan jauh lebih memukau kala dewasa, ketimbang yang platinum wajahnya. Benar begitu bukan? :)
Hamidah 10Februari2014 #kisahangkutan
10 Februari 2014
Puisi (1)
Haruskah kata "apa kabar" yang pertama kutuliskan, untuk mengawali interaksi yg entah telah berapa lama tak lagi terjalin antara kita
Tidakkah sebaiknya aku
mengawali ini dengan kalimat "selamat pagi cinta, the sun come to see your
smile"
Kalimat yang selalu kuingat
sebagaimana aku mengingat gosok gigi pagi
Bohong.
Mustahil.
Bohong dan mustahil aku tak
merindu.
Sungguh dalam terjaga atau
terpejamnya mataku adalah melihatmu.
Entah kenapa kau tiba tiba
menjelma sungguh berharga.
Mungkin kau hanyalah sebotol
air keruh, tapi kau berada tepat di hamparan gurun tandus
Maka sungguh kau adalah
potongan surga yang jatuh ke bumi
Berlebihankah aku memujimu?
Sudahkah aku nampak seperti
wanita linglung karena termankan rindu?
Ku coba menahan sesuatu yang
terus memantul, seolah ada pegas yang hendak melompatkan hatiku hingga ia tanpa
kontrol terus berusaha mencari degupmu.
Kucoba memadamkan sesuatu yang
terus berkobar, otakku seolah meletup letup bak kembang api tahun baru, ia
terus menerus memikirkan mu.
Entah kau mau tahu atau tidak,
yang kini kurasakan adalah kecamuk yang menggebu
Aku masih sakit, jasmani dan
rohaniku/Hamidah, januari
8 Februari 2014
Melangitkan doa
Selesai. Aku selesai menyimak habis-habisan dari akhir
hingga awal
Aku membaca terbalik fragmen fragmen hidupmu yang kau
selipkan lewat kata demi kata yang aku tak tahu kesungguhan dan kenyataan itu.
Nyatanya kita jauh.
Aku hanya pengintip yang tak hendak muncul kepermukaan,
Terus saja berdiam dibalik selimut kulit domb,a dan mencoba
menghangatkan diri dari kemenggigilan ini.
Jika jodoh, takkan kemana, ingatlah Tuhan akan menghimpun
segala yang terserak.
Sejauh apapun jarak, bahkan andai seluruhnya beda tiada sama, jika Allah
“Ya”, semua akan “Ya”.
“Stalking itu adalah siap tau masa lalunya dan tidak boleh
ada kecewa setelahnya”
6 Februari 2014
"Menghimpun yang Terserak"
Menyatukan yang dua
Menunggalkan yang ganda
Dan menghapus penyekat
Merubah kata saya dan kamu menjadi kita
Membagi tak hanya yang gula tapi racun jua
Dunia dan akhirat, sampai tiada terhingga waktu berjalan. Sesungguhnya hanyalah akhlak yang baik yang mampu menjadikan kemanunggalan tersebut abadi dan barakah, bahagia dan sakinah.
"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat" -Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putri beliau Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib.
Melihat undangan pernikahan yang berdatangan, dan membaca kalimat ini dihalaman muka undangan. Ini memang bulan bulan ramai orang menikah. Kau kapan? Hahaha:))
Menunggalkan yang ganda
Dan menghapus penyekat
Merubah kata saya dan kamu menjadi kita
Membagi tak hanya yang gula tapi racun jua
Dunia dan akhirat, sampai tiada terhingga waktu berjalan. Sesungguhnya hanyalah akhlak yang baik yang mampu menjadikan kemanunggalan tersebut abadi dan barakah, bahagia dan sakinah.
"Semoga Allah menghimpun yang terserak dari keduanya, memberkahi mereka berdua dan kiranya Allah meningkatkan kualitas keturunan mereka, menjadikan pembuka pintu-pintu rahmat, sumber ilmu dan hikmah, serta pemberi rasa aman bagi ummat" -Doa Nabi Muhammad SAW pada pernikahan putri beliau Fatimah Azzahra dan Ali bin Abi Thalib.
Melihat undangan pernikahan yang berdatangan, dan membaca kalimat ini dihalaman muka undangan. Ini memang bulan bulan ramai orang menikah. Kau kapan? Hahaha:))
5 Februari 2014
Rumah Tanpa Ibu
Rumah itu dingin
Rumah itu melompong
Bukan melompong dari benda, tapi melompong akan hangat
Sinar matahari yang menembus kaca, merobek tirai-tirai luush, kemudian menyeka sekujur sudut ruangan.
Debu-debu yang nampak seperti berlian lalu berkilau-kilau diterpa cahaya vertikal.
Rumah itu bukan rumah duka
Tapi rumah itu dingin.
Matahari tak bisa menggantikan hangat didalamnya yang jika dikenang teramat mengharukan.
Rumah itu kemudian menjadi hambar.
Tak ada suara sibuk didapur menggoreng camilan
Tak ada suara air kran mencuci wadah-wadah makanan
Tak ada bisik lirih membangunkan mata-mata kantuk yang malas.
Tak ada gesek sapu pada lantai, dan bahkan tak ada gertak sayang pada gadis-gadis mungil yang enggan berjamaah ke surau.
Rumah itu piatu,
Penghuni nya pun begitu.
Tanpa ibu.
Rengek merea seolah tak laku, takkan mampu mengembalikan sesuatu apapun itu.
Hanya ada lutut kurus yang terlipat dan didekap dengan erat.
Hanya ada bibir tipis yang memucat karena digigit kuat-kuat.
Semua takkan kembali, selamanya takkan lagi.
Sudah terlanjur semuanya terjadi.
puisi ini kubuat beberapa bulan yang lalu dan sempat mendekam lama di memo handphone ku. "Rumah Tanpa Ibu" ini terinspirasi dari kisah hidup saudara keponakan ku yang masih kecil-kecil dan harus piatu karena ibunya meninggal dunia. Kepergian ibunya yang mendadak tanpa ada tanda-tanda seperti sakit yang cukup lama, membuat mereka tentu terpukul hebat.
Kini, kabar terbaru yang kudapat, mereka Alhamdulillah baik-baik saja. sudah bisa mandiri, memasak dan mencuci, sesekali masih dibantu Bapaknya yang usianya sudah mulai "sepuh".
"Rumah Tanpa Ibu", itu bagaikan pagi tanpa matahari;(
Rumah itu melompong
Bukan melompong dari benda, tapi melompong akan hangat
Sinar matahari yang menembus kaca, merobek tirai-tirai luush, kemudian menyeka sekujur sudut ruangan.
Debu-debu yang nampak seperti berlian lalu berkilau-kilau diterpa cahaya vertikal.
Rumah itu bukan rumah duka
Tapi rumah itu dingin.
Matahari tak bisa menggantikan hangat didalamnya yang jika dikenang teramat mengharukan.
Rumah itu kemudian menjadi hambar.
Tak ada suara sibuk didapur menggoreng camilan
Tak ada suara air kran mencuci wadah-wadah makanan
Tak ada bisik lirih membangunkan mata-mata kantuk yang malas.
Tak ada gesek sapu pada lantai, dan bahkan tak ada gertak sayang pada gadis-gadis mungil yang enggan berjamaah ke surau.
Rumah itu piatu,
Penghuni nya pun begitu.
Tanpa ibu.
Rengek merea seolah tak laku, takkan mampu mengembalikan sesuatu apapun itu.
Hanya ada lutut kurus yang terlipat dan didekap dengan erat.
Hanya ada bibir tipis yang memucat karena digigit kuat-kuat.
Semua takkan kembali, selamanya takkan lagi.
Sudah terlanjur semuanya terjadi.
puisi ini kubuat beberapa bulan yang lalu dan sempat mendekam lama di memo handphone ku. "Rumah Tanpa Ibu" ini terinspirasi dari kisah hidup saudara keponakan ku yang masih kecil-kecil dan harus piatu karena ibunya meninggal dunia. Kepergian ibunya yang mendadak tanpa ada tanda-tanda seperti sakit yang cukup lama, membuat mereka tentu terpukul hebat.
Kini, kabar terbaru yang kudapat, mereka Alhamdulillah baik-baik saja. sudah bisa mandiri, memasak dan mencuci, sesekali masih dibantu Bapaknya yang usianya sudah mulai "sepuh".
"Rumah Tanpa Ibu", itu bagaikan pagi tanpa matahari;(
19 Oktober 2013
(lanjutan)RANGKUMAN BUKU PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI Prof. Deddy Mulyana, M.A., Ph.D
BAB V. PERSEPSI: INTI KOMUNIKASI
-
Persepsi adalah proses menafsirkan rangsangan
dari lingkungan kita, dan proses tersebut mempengaruhi perilaku kita.
-
Persepsi adalah INTI KOMUNIKASI à interpretasi adalah
INTI PERSEPSI.
-
Persepsi terdiri dari 3 aktivitas
1.
Seleksi
2.
Organisasi
3.
Interpretasi
-
Persepsi:
1.
Lingkungan fisik
a.
Lambang fisik
b.
Sifat luar ditanggapi
c.
Tidak bereaksi
2.
Lingkungan sosial (manusia)
a.
Lambang verbal dan non verbal
b.
Sifat luar dan dalam ditanggapi
c.
Bereaksi
A.
PERSEPSI TERHADAP LINGKUNGAN FISIK
Latar belakang pengalaman, budaya, dan
suasana psikologis yang berbeda membuat kita berbeda dalam suatu objek
(lingkungan fisik)
B.
PERSEPSI SOSIAL
1.
Persepsi didasarkan pengalaman
2.
Persepsi selektif
3.
Persepsi dugaan
4.
Persepsi evaluatif
5.
Persepsi kontekstual
C.
PERSEPSI DAN BUDAYA
1.
Kepercayaan, nilai, sikap
2.
Pandangan dunia
3.
Organisasi sosial
4.
Tabiat manusia
5.
Orientasi kegiatan
6.
Persepsi tentang diri dan orang lain
D.
KEKELIRUAN DAN KEGAGALAN PERSEPSI
1.
Kesalahan atribusi (memahami penyebab perilaku
orang lain)
2.
Efek halo (kesan awal yang menjadikan kita
menebak-nebak sifat orang lain)
3.
Stereotipe (menilai orang lain berdasarkan
kelompoknya, bukan individunya)
4.
Prasangka (penilaian berdasarkan pengalaman)
5.
Gegar budaya (ketidakmampuan menyesuaikan diri
dengan budaya baru)
BAB VI. KOMUNIKASI VERBAL
-
Bahasa verbal adalah sarana utama untuk
menyatakan pikiran, perasaan dan maksud kita. Bahasa verbal menggunakan
kata-kata.
A.
ASAL USUL BAHASA
Bahasa adalah ekstensi perilaku sosial. Ketika
belum mampu berbahasa verbal mereka berkomunikasi lewat gambar. 500 tahun lalu,
manusia melakukan transisi komunikasi dengan memasuki era tulisan, dan bahasa
lisan mulai banyak berkembang.
B.
FUNGSI BAHASA DALAM KEHIDUPAN MANUSIA
-
Untuk merancang solusi untuk memecahkan masalah
hidup
-
Paling mendasar berfungsi utnuk menamai atau
memberi julukan pada orang, objek, peristiwa.
-
Tiga fungsi bahasa (menurut Lary Barker):
1.
Penamaan: usaha untuk mengidentifikasi
2.
Interaksi: berbagi gagasan, emosi
3.
Trnasimisi Informasi: bertukar informasi
-
Tiga fungsi bahasa (menurut Book):
1.
Mengenal dunia disekitar kita
2.
Sarana untuk menghubungkan antar manusia
3.
Untuk hidup lebih teratur, saling memahami,
percaya, satu tujuan.
C.
KETERBATASAN BAHASA
1.
Keterbatasan jumlah kata yang tersedia untuk
mewakili objek.
Kata-kata pada dasarnya bersifat parsial (tidak melukiskan sesuatu secara
eksak). Contoh: mata kita bisa membedakan tujuh juta warna, tapi untuk
menyediakan nama satu persatu untuk semuanya itu, tentu sulit karena berarti
kita harus menyediakan tujuh juta nama.
2.
Kata-kata bersifat ambigu (tidak jelas) dan
kontekstual (tergantung konteks). Karena kita berasal dari latar belakang
sosial budaya yang berbeda-beda, ruang dan waktu dapat mengubah makna kata.
3.
Kata-kata mengandung bias budaya.
Bahasa adalah PERLUASAN BUDAYA. Setiap bahasa menunjukkan suatu dunia
simbolik yang khas, yang melukiskan realitas pemikiran, pengalaman batin, dan
kebutuhan pemakainya.
4.
Percampur adukan fakta, penafsiran (dugaan), dan
penilaian (kekeliruan persepsi).
Bedakan FAKTA dengan DUGAAN agar PENILAIAN MENJADI BENAR. Kita sering
mengganggap suatu peristiwa yang sebenarnya dugaan, kita anggap sebuah fakta.
D.
KERUMITAN MAKNA KATA (contoh: anak yang kencing
disebut menyanyi)
Kitalah yang memberi makna pada kata. Makna
dibagi menjadi dua:
1.
Makna denotatif: makna yang sebenarnya (murni)
2.
Makna konotatif: makna bercampur aduk dengan
berbagai sebab dan alasan
Makna muncul dari berbagai
hubungan khusus antara kata dengan manusia. Kita dapat menciptakan kata apa
saja dengan arti apa saja, sejauh berdasarkan KESEPAKATAN.
-
Macam-macam rival bahasa:
1.
Bahasa daerah VS bahasa daerah
Karena lagi-lagi sosial budaya (sosbud) yang berbeda, kata yang sama pun
bisa dimaknai berbeda. Contoh: “atos” dalam bahasa sunda bermakna “sudah”,
sedangkan dalam bahasa jawa bermakna “keras”.
2.
Bahasa daerah VS Bahasa Indonesia
Contoh: “sok” dalam bahasa indonesia artinya “sombong”, sedangkan dalam
bahasa sunda berarti “silahkan”. Setaip orang mempunyai gagasan pribadi
mengenai suatu konsep. Kondisi emosional dan motivasional individu juga
mempengaruhi makna yang ia berikan pada konsep tersebut.
3.
Bahasa Indonesia VS Bahasa Malaysia
Suatu negara menganggap bahasanya yang paling baik. Contoh: kereta di
Malaysia artinya mobil di Indonesia.
4.
Bahasa daerah/ Bahasa Indonesia VS Bahasa asing
lainnya
Contoh : Cincin dalam bahasa jepang artinya –alat kelamin- laki-laki.
E.
NAMA SEBAGAI SIMBOL
Fungsi pertama dari bahasa adalah penamaan.
Nama dapat mempengaruhi hidup anda. Nama bersifat simbolik, nama memberikan
suatu makna dan dapat mempersepsi cara perlakuan orang lain.
Contoh: anjing, babi à sama-sama nama hewan,
tapi kedua hewan tersebut memiliki konotasi buruk (biasanya digunakan untuk
mengumpat).
Nama juga bisa menyusahkan si empunya,
contohnya ada orang yang bernama khadijah, maka ia secara tidak langsung
harusnya bersikap baik dan santun seperti khadijah istri Nabi Muhammad dalam
agama Islam.
F.
BAHASA GAUL
-
Latar belakang yang berbeda menjadikan cara
berbicara juga berbeda.
-
Bahasa subkultural = Bahasa gaul = bahasa yang
punya arti khusus dalam golongan tertentu.
-
Fungsi dari bahasa gaul:
1.
Sarana pertahanan diri: agar tidak bisa dipahami
kelompok lain, terlebih kelompok lawan.
2.
Argot berfungsi sebagai sarana kebencian
kelompok, terhadap kelompok lain.
3.
Argot sebagai sarana memelihara identitas dan
solidaritas kelompok: membedakan mereka dengan kelompok lain.
-
Macam-macam bahasa gaul:
1.
Bahasa kaum selebritis
2.
Bahasa gay dan waria, bahasa selebritis mirip
bahasa gay.
3.
Bahasa waria
G.
BAHASA WANITA VS BAHASA PRIA
Wanita dan pria memiliki bahasa yang
belainan, ciri bahasa wanita adalah:
1.
Bahasa wanita tidak setegas bahasa pria, mereka
biasa menggunakan kalimat yang mengandung ekor tanya, seperti “isn’t it?’’ “Right?”.
2.
Kurang percaya.
Wanita menggunakan kata penguat, seperti “so”, “very”.
3.
Frase melemahkan, contoh “maybe, perhaps”.
4.
Hiperkorek (resmi)
5.
Lebih sering menggunakan kutipan langsung.
6.
Intonasi pertanyaan.
7.
Kurang rasa humor.
8.
Enggan menyumpah dan memaki.
-
Wanita: pembicaran hubungan (berpusat pada
perasaan, memilihari hubungan dengan orang lain)
-
Pria: pembicaraan laporan (berpusat pada
Informasi faktual)
H.
RAGAM BAHASA INGGRIS
-
Orang inggris: bicara berbunga-bunga, banyak
eufimisme.
-
Amerika: bicara langsung dan lugas.
-
Inggris filipina: khas karena dipengaruhi bahasa
spanyol.
-
Inggris australia.
-
Inggris singapura.
I.
PENGALIHAN BAHASA
Kita perlu menguasai bahasa mitra
komunikasi kita (minimal menguasai bahasa dunia, yaitu inggris)
1.
Kelemahan dalam penguasaan tata bahasa,
struktur, kosakata: menghasilkan terjemahan yang membingungkan. Contoh: dragonfly
bukan bermakna naga terbang tapi capung.
2.
Sejumlah kata serapan dari kata inggris
mengalami perluasan. Contoh: keluarga – famili (padahal dalam bahasa inggris:
family)
3.
Tetap dibiarkan dalam bahasa aslinya, karena
sulit mencari padanannya. Contoh: printer, mouse, file.
4.
Frase atau kalimat bahasa indonesia tidak bisa
diterjemahkan begitu saja secara kata per kata. Contoh: saya ingin buang air
kecil, jika di terjemahkan ke dalam bahasa inggris tentu saja tidak menjadi
begini, “I want to discard small water”.
J.
KOMUNIKASI KONTEKS TINGGI VS KOMUNIKASI KONTEKS
RENDAH
-
Konteks rendah: pesan verbal dan eksplisit, gaya
bicara langsung, lugas, terus terang.
Contoh: komunikasi pada program komputer.
-
Konteks tinggi: bersifat implisit, tidak
langsung, tidak terus terang. Pernyataan verbal bisa berbeda dengan pernyataan
non verbalnya.
Contoh: suku sunda-jawa yang berbicara
berputar-putar tidak langsung pada inti masalah.
-
Orang indonesia cenderung berbicara tidak
langsung atau menggunakan komunikasi konteks tinggi demi untuk menjaga harmoni.
Langganan:
Postingan (Atom)
