plagiat : penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri. Plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain.
imitasi : adalah suatu proses untuk melakukan tindakan maupun aksi seperti yang dilakukan oleh model dengan melibatkan indera sebagai penerima rangsang dan pemasangan kemampuan persepsi untuk mengolah informasi.(sumber: wikipedia indonesia)
singkatnya, plagiat itu identik buruk dan imitasi bisa baik bisa buruk. oya?
dan ternyata, semua manusia-tak terkecuali mengandung sifat itu dalam dirinya.weits, nggak usah tingkat tinggi bahasanya. dilihat dari kehidupan kita sehari-hari aja, kita udah banyak banget melakukan penjiplakan dan imitasi. bener gak? ngaku deh, aku aja ngaku.
mulai dari gaya pakaian, kita pasti pengennya yang lagi 'in' kan, niru siapa tuh?
gaya bicara, cara pikir, dan ideologi-pun yang sifatnya pribadi ternyata ada yang hasil tiruan.
sebenarnya itu bukan tiruan, hanya saja kita terinspirasi oleh orang lain. biasanya, orang itu adalah yang kita kagumi, dan yang kita segani.
jadi apa saja yang sudah pernah kamu tiru dari inspirasi mu? itu halal kok selama orang yang ditiru ikhlas dan yang ditiru hal baik hehe.
12 Agustus 2011
6 Agustus 2011
Indonesia tak ubahnya sebuah PARIT
Ada yang bilang kalo aku musti buat tulisan tentang negeri ini. Oke, aku bakalan buat. Ah...tapi sebel, masak blog ku dikatain cinta2an mulu isinya, ya emang iya TAPI GAK SEMUA, tapi ya gimana orang itu yang keluar dari pikiran ku. Lagian aku juga lagi nggak mood mau bahas indonesia raya, apa nya yang mau dibahas syang...? Negeri doraemon yang kemana-mana ada kantongnya para koruptor? Negeri demokrasi yang didalangi oleh para pengusaha pencari keuntungan dari kebijakan pemerintah? Atau tentang sifat gotong royong dalam korupsi yang dimulai dari akar sampai batang?
Indonesia tak ubahnya sebuah parit.
Parit adalah tempat paling nyaman bagi tikus-tikus jalanan.
Parit adalah kandang istimewa bagi berkumpulnya tikus-tikus hitam. Dan parit adalah tempat paling aman bagi tikus untuk berinteraksi tentang kejadian sepanjang siang tadi di dapur orang. Parit adalah tempat mengumpulkan barang-barang curian, parit adalah tempat tidur paling empuk bagi tikus berekor panjang. Sangat menjijikkan! Itulah indonesia, parit tempat berkumpulnya para koruptor yang bersarang dengan aman, tidur dengan nyenyak, dan saling membahas juga memperbincangkan hasil curian berupa uang rakyat.
Sampai kapan Indonesia akan dijajah oleh Indonesian (orang Indonesia) sendiri? Sampai kapan nasib rakyat jelata akan dipermainkan dengan hom-pim-pa oleh pemimpinnya sendiri, yang dulu telah bersumpah demi Tuhan akan memerdekakan pendidikan, akan mengutuk kobodohan dan menghapuskan kemiskinan? Sampai kapan yang miskin akan kalah dan yang kaya akan menang? Sampai kapan yang rakyat akan dihukum penjara dan yang wakil rakyat akan dibiarkan melenggang jauh ke negeri sebrang? Sampai kapan rakyat akan dibodohi dengan drama para pemimpin nya?
Melihat politik dan kepemimpinan di Indonesia tak beda jauh dengan melihat telenovela, teater, drama, atau film india, semua terkesan seperti tiada habisnya, semua terlihat seperti sudah ada alurnya. Bedanya, politik Indonesia didominasi konflik dan tidak ada ending, sedangkan film-film tersebut masih memiliki jalan keluar dan pemecahan masalah.
Bukan tidak bisa, bukan tidak ada, semua pasti ada jalan keluarnya. Begitu juga dengan kasus korupsi yang sejak dulu telah mengusik dan memanggang telinga rakyat jelata. Dimanakah pemimpin kita yang dulu seolah berdiri dibarisan terdepan menyerukan kalimat ”KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI!”. kemana mereka semuanya? Sibuk mencari anggota partainya yang hilang ke negeri tetangga, atau sibuk menanggapi sms dan pesan singkat yang melecehkan nya?
Oh Tuhan, Indonesia benar-benar sedang krisis kepemimpinan. Kita memang berdiri sebagai negara merdeka, tapi kita belum pula merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Seperti ada ’penjajah-penjajah’ baru yang lebih kejam dari belanda dan jepang masa lalu. Kita memang tidak sedang diminta kerja rodi atau menyerahkan hasil bumi secara paksa, tapi justru lebih menyakitkan, kita seolah dilarang makan dan menahan lapar demi memenuhi hasrat pemimpin yang serakah dan rakus, demi mewujudkan keinginan istri dan anak pemimpin yang meminta mobil baru atau meminta liburan ke Los Angeles dan Paris. Gila!
Selamanya kita akan berada dibawah garis penindasan dan keterpurukan, hidup tanpa kemerdekaan yang riil dan hanya seolah-oleh meneriakkan kebebasan, melaksanakan peringatan proklamasi bohongan dan menaikkan bendera merah putih tanda kemerdekaan dengan penuh kepalsuan. Selamanya kita akan seperti itu, jika pemimpin tetap stagnan. Tidak ada pergerakan dan perubahan. Tidak ada usaha dan tindakan.
Lekas siapkan seribu peti mati untuk menidurkan jenazah koruptor laknat yang telah membunuh rakyat busung lapar secara perlahan. Lekas buka pintu penjara tanpa pikir panjang untuk orang-orang yang dengan biadab telah menyiksa generasi masa depan dengan membiarkan anak-anak jalanan terlantar tanpa pendidikan.
Tidak ada lagi pengecualian, sudah musnahkan tebang pilih hukuman, siapapun dia yang telah mengambil uang kami para rakyat jelata, silahkan di penggal.
Itu solusi untuk pemimpin bengal tak punya nurani seperti saat ini.
Indonesia, bukanlah parit lagi. jika tikus berdasi sudah masuk kepenjara jebakan keju, maka Indonesia akan berubah kembali menjadi zamrud kathulistiwa, pujian yang dulu pernah di dengung-degungkan dunia untuk memuji keindahan dan kekayaan Indonesia.
Tidak ada lagi kebodohan, tidak ada juga buta huruf. Habis sudah cerita tentang penyiksaan TKI di negara orang, mari kita ciptakan lapangan kerja di negri yang kaya ini. Jangan malah menjual hasil bumi dan sumber emas pada negeri lain. berhenti sudah cerita tentang nelayan Indonesia dengan perahu kayu nya yang selalu kalah dengan kapal pencuri milik luar negeri yang mengambil hasil laut kita. Dimana letak keadilan jika kekayaan milik sendiri saja sudah dikuasai asing? tidak ada lagi perbedaan antara yang kota dan yang pedalaman, semua sama, memiliki hak hidup yang sama tanpa peduli dengan gaun yang menutupi tubuhnya. Biar hanya sehelai daun yang membungkus tubuh itu, dia tetaplah manusia, yang telah disematkan dalam UUD 1945 bahwa segenap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama.
(terimakasih masukannya sodara!)
Indonesia tak ubahnya sebuah parit.
Parit adalah tempat paling nyaman bagi tikus-tikus jalanan.
Parit adalah kandang istimewa bagi berkumpulnya tikus-tikus hitam. Dan parit adalah tempat paling aman bagi tikus untuk berinteraksi tentang kejadian sepanjang siang tadi di dapur orang. Parit adalah tempat mengumpulkan barang-barang curian, parit adalah tempat tidur paling empuk bagi tikus berekor panjang. Sangat menjijikkan! Itulah indonesia, parit tempat berkumpulnya para koruptor yang bersarang dengan aman, tidur dengan nyenyak, dan saling membahas juga memperbincangkan hasil curian berupa uang rakyat.
Sampai kapan Indonesia akan dijajah oleh Indonesian (orang Indonesia) sendiri? Sampai kapan nasib rakyat jelata akan dipermainkan dengan hom-pim-pa oleh pemimpinnya sendiri, yang dulu telah bersumpah demi Tuhan akan memerdekakan pendidikan, akan mengutuk kobodohan dan menghapuskan kemiskinan? Sampai kapan yang miskin akan kalah dan yang kaya akan menang? Sampai kapan yang rakyat akan dihukum penjara dan yang wakil rakyat akan dibiarkan melenggang jauh ke negeri sebrang? Sampai kapan rakyat akan dibodohi dengan drama para pemimpin nya?
Melihat politik dan kepemimpinan di Indonesia tak beda jauh dengan melihat telenovela, teater, drama, atau film india, semua terkesan seperti tiada habisnya, semua terlihat seperti sudah ada alurnya. Bedanya, politik Indonesia didominasi konflik dan tidak ada ending, sedangkan film-film tersebut masih memiliki jalan keluar dan pemecahan masalah.
Bukan tidak bisa, bukan tidak ada, semua pasti ada jalan keluarnya. Begitu juga dengan kasus korupsi yang sejak dulu telah mengusik dan memanggang telinga rakyat jelata. Dimanakah pemimpin kita yang dulu seolah berdiri dibarisan terdepan menyerukan kalimat ”KATAKAN TIDAK PADA KORUPSI!”. kemana mereka semuanya? Sibuk mencari anggota partainya yang hilang ke negeri tetangga, atau sibuk menanggapi sms dan pesan singkat yang melecehkan nya?
Oh Tuhan, Indonesia benar-benar sedang krisis kepemimpinan. Kita memang berdiri sebagai negara merdeka, tapi kita belum pula merasakan kemerdekaan yang sesungguhnya. Seperti ada ’penjajah-penjajah’ baru yang lebih kejam dari belanda dan jepang masa lalu. Kita memang tidak sedang diminta kerja rodi atau menyerahkan hasil bumi secara paksa, tapi justru lebih menyakitkan, kita seolah dilarang makan dan menahan lapar demi memenuhi hasrat pemimpin yang serakah dan rakus, demi mewujudkan keinginan istri dan anak pemimpin yang meminta mobil baru atau meminta liburan ke Los Angeles dan Paris. Gila!
Selamanya kita akan berada dibawah garis penindasan dan keterpurukan, hidup tanpa kemerdekaan yang riil dan hanya seolah-oleh meneriakkan kebebasan, melaksanakan peringatan proklamasi bohongan dan menaikkan bendera merah putih tanda kemerdekaan dengan penuh kepalsuan. Selamanya kita akan seperti itu, jika pemimpin tetap stagnan. Tidak ada pergerakan dan perubahan. Tidak ada usaha dan tindakan.
Lekas siapkan seribu peti mati untuk menidurkan jenazah koruptor laknat yang telah membunuh rakyat busung lapar secara perlahan. Lekas buka pintu penjara tanpa pikir panjang untuk orang-orang yang dengan biadab telah menyiksa generasi masa depan dengan membiarkan anak-anak jalanan terlantar tanpa pendidikan.
Tidak ada lagi pengecualian, sudah musnahkan tebang pilih hukuman, siapapun dia yang telah mengambil uang kami para rakyat jelata, silahkan di penggal.
Itu solusi untuk pemimpin bengal tak punya nurani seperti saat ini.
Indonesia, bukanlah parit lagi. jika tikus berdasi sudah masuk kepenjara jebakan keju, maka Indonesia akan berubah kembali menjadi zamrud kathulistiwa, pujian yang dulu pernah di dengung-degungkan dunia untuk memuji keindahan dan kekayaan Indonesia.
Tidak ada lagi kebodohan, tidak ada juga buta huruf. Habis sudah cerita tentang penyiksaan TKI di negara orang, mari kita ciptakan lapangan kerja di negri yang kaya ini. Jangan malah menjual hasil bumi dan sumber emas pada negeri lain. berhenti sudah cerita tentang nelayan Indonesia dengan perahu kayu nya yang selalu kalah dengan kapal pencuri milik luar negeri yang mengambil hasil laut kita. Dimana letak keadilan jika kekayaan milik sendiri saja sudah dikuasai asing? tidak ada lagi perbedaan antara yang kota dan yang pedalaman, semua sama, memiliki hak hidup yang sama tanpa peduli dengan gaun yang menutupi tubuhnya. Biar hanya sehelai daun yang membungkus tubuh itu, dia tetaplah manusia, yang telah disematkan dalam UUD 1945 bahwa segenap warga negara Indonesia memiliki hak dan kewajiban yang sama.
(terimakasih masukannya sodara!)
APOLOGIZE
Kata-kata yang seharusnya paling sering kita dengar jika kita memang benar-benar makhluk social dan benar-benar manusia bukan malaikat. Mahluk social yang senantian berinteraksi dan membutuhkan orang lain dalam hidupnya dan manusia biasa yang sering melakukan salah dan terselip khilaf dalam interaksi social tsb. MAAF. Itu adalah kata-kata yang ku maksud. Kata sesingkat itu, yang secara kasat mata jelas hanya terdiri dari 4 huruf, yang secara sederhana terdengar begitu mudah pelafalannya, nyatanya tak benar. MAAF bukan lagi terdiri dari 4 huruf atau satu kata saja kurasa. Bahkan buku setebal novel harry potter terjemahan yang terdiri dari berjuta kata belum tentu cukup untuk menggambarkan betapa beratnya kata MAAF.
MAAF, tak lagi mudah diucapkan didunia nyata. Benarkah itu?
Tanyakan pada dirimu sendiri. Masih ingatkah kamu saat tubuh mungilmu berpadu dengan bangku TK atau Sekolah Dasar, bukankah setiap melakukan salah kita selalu diajarkan untuk lekas meminta maaf? Entah itu hanya kesalahan kecil yang hampir mendekati tidak penting, kesalahan tidak sengaja, sampai kesalahan yang benar-benar kamu sengaja, atau bahkan itu justru kesalahan orang lain bukan salahmu, namun kamu perlu memulai kata itu agar hubungan kembali baik. Dengan mudah kamu menjabatkan tangan pada kawanmu, walau masih dengan cucuran air mata dipipi dan iringan isak tangis yang berlebih. Namun lekas kau melupakan itu, lekas kau menghapus yang telah terjadi tanpa ada dendam lalu kembali asik bermain, seolah semua tak pernah terjadi.
Namun kini, lihatlah ketika waktu telah merenggut masa kecil itu dan menggantikannya dengan masa remaja, masa dewasa, dan masa yang konon ‘katanya’ adalah masa dimana orang-orangnya sudah mengerti, benarkah? Kurasa tidak. Mengerti dalam konteks yang mana? Terkadang sepertinya kita memang harus kembali belajar pada masa kecil kita yang lugu dan polos. Kini mengucapkan kata itu seolah berat, kita terkubur oleh rasa gengsi, terbakar oleh rasa tak mau mengalah takutnya dianggap kalah, atau rasa-rasa egois lainnya yang membuat kata itu tak lagi mudah diucapkan. Mengucapkan MAAF bak melahirkan bayi kembar 4 sekaligus, terasa sangat berat. Apakah karena kita sudah deawasa, kita sudah mengerti, mengerti tentang gengsi dan malu maksudnya? Sudahkah gengsi dan malu benar-benar melekat dan sampai menguasai diri dan hidup kita? Apa karena sudah mati rasa hati kita akan kata maaf dan perdamaian?
Seharusnya kita sadar, telah salah kita tempatkan gengsi dan perasaan malu itu. Bukan pada tempatnya kita letakkan. Jangan pernah malu, jangan pernah takut harga dirimu akan hancur lebur saat kau memulai duluan mengucap kata MAAF, jangan pernah berfikir bahwa kau adalah si salah dan telah kalah karena telah lebih dulu mengacungkan tangan mengharap jabatan sembari mengatakan ”aku minta maaf.”
MAAF adalah kata-kata istimewa, bukan sembarang orang yang mampu mengucapkannya. Jadi sekali lagi jangan pernah takut, justru kau telah menang jika kau sudah berani mengucapkannya, justru kau lebih terlihat wibawa saat dengan rendah hati kau mau membuka pintu perdamaian. Dengan MAAF, semua akan terasa lebih ringan dan indah, mulailah dari sekarang!
Hamidah 5 Agustus 2011
21:09 i’m sorry God, im sorry all.
MAAF, tak lagi mudah diucapkan didunia nyata. Benarkah itu?
Tanyakan pada dirimu sendiri. Masih ingatkah kamu saat tubuh mungilmu berpadu dengan bangku TK atau Sekolah Dasar, bukankah setiap melakukan salah kita selalu diajarkan untuk lekas meminta maaf? Entah itu hanya kesalahan kecil yang hampir mendekati tidak penting, kesalahan tidak sengaja, sampai kesalahan yang benar-benar kamu sengaja, atau bahkan itu justru kesalahan orang lain bukan salahmu, namun kamu perlu memulai kata itu agar hubungan kembali baik. Dengan mudah kamu menjabatkan tangan pada kawanmu, walau masih dengan cucuran air mata dipipi dan iringan isak tangis yang berlebih. Namun lekas kau melupakan itu, lekas kau menghapus yang telah terjadi tanpa ada dendam lalu kembali asik bermain, seolah semua tak pernah terjadi.
Namun kini, lihatlah ketika waktu telah merenggut masa kecil itu dan menggantikannya dengan masa remaja, masa dewasa, dan masa yang konon ‘katanya’ adalah masa dimana orang-orangnya sudah mengerti, benarkah? Kurasa tidak. Mengerti dalam konteks yang mana? Terkadang sepertinya kita memang harus kembali belajar pada masa kecil kita yang lugu dan polos. Kini mengucapkan kata itu seolah berat, kita terkubur oleh rasa gengsi, terbakar oleh rasa tak mau mengalah takutnya dianggap kalah, atau rasa-rasa egois lainnya yang membuat kata itu tak lagi mudah diucapkan. Mengucapkan MAAF bak melahirkan bayi kembar 4 sekaligus, terasa sangat berat. Apakah karena kita sudah deawasa, kita sudah mengerti, mengerti tentang gengsi dan malu maksudnya? Sudahkah gengsi dan malu benar-benar melekat dan sampai menguasai diri dan hidup kita? Apa karena sudah mati rasa hati kita akan kata maaf dan perdamaian?
Seharusnya kita sadar, telah salah kita tempatkan gengsi dan perasaan malu itu. Bukan pada tempatnya kita letakkan. Jangan pernah malu, jangan pernah takut harga dirimu akan hancur lebur saat kau memulai duluan mengucap kata MAAF, jangan pernah berfikir bahwa kau adalah si salah dan telah kalah karena telah lebih dulu mengacungkan tangan mengharap jabatan sembari mengatakan ”aku minta maaf.”
MAAF adalah kata-kata istimewa, bukan sembarang orang yang mampu mengucapkannya. Jadi sekali lagi jangan pernah takut, justru kau telah menang jika kau sudah berani mengucapkannya, justru kau lebih terlihat wibawa saat dengan rendah hati kau mau membuka pintu perdamaian. Dengan MAAF, semua akan terasa lebih ringan dan indah, mulailah dari sekarang!
Hamidah 5 Agustus 2011
21:09 i’m sorry God, im sorry all.
2 Agustus 2011
masa SD masa-masa LUGU
26 juli kemarin tepat 7 tahun ulang tahun gank ku.
Hahahaha, pernahkah kalian punya gank? Eits, bukan gank-gank brutal, metal, dan cadas seperti sekarang lho ya. Bukan gank motor, bukan pula gank atau kumpulan anak hardcore, punk, dan seterusnya.
Ini adalah gank masa kecilku, tepatnya pas aku duduk dibangku Sekolah Dasar dulu. Nama gank ku lucu.... ”sweet girl gank” hahahahah... nggilani untuk nama sebuah gank jaman sekarang, tapi jaman cupu ku dulu ya keren dong bro!
Gank itu terbentuk pas aku kelas 5 SD kalo gak salah, anggotanya terdiri dari Gardenia Sendy Ayu Carolina (Sendy, Pudak) Devita Nurmalasari (Mami, Dilem) Yunita Syafaati (Yunita, Kawi) Hamidah Izzatu Laily (aku, Pande) Ajeng (hilang dari peredaran, kamu kemana?)
Dulu tiap pulang sekolah, kita dengan wajah polos anak SD selalu main-main bersama kerumah masing-masinh anak dengan bergilir, udah kayak arisan ato pengajian keliling gitu. Tapi paling sering ke rumah mami, solanya mami punya jasa antar jemput yaitu becak Pak Man, so tanpa musti capek-capek jalan kaki kita tinggal nebeng becak itu. Main ke sana, main kesini, nggak pernah ada bosennya.
Dan awal bulan Juli kemarin, pas kita lagi sama-sama liburan SMA, nggak sengaja tanpa rencana panjang kita ketemuan tapi cuman kumpul berempat tanpa kehadiran Ajeng. Hahaha, mereka sama! Masih sama kayak SD dulu, sama gilanya, sama ramenya, sama serunya, dan sama semuanya. Sendy dengan lugu dan sifat ke kanak-kanakannya, Yunita yang asik dan gokil, Mami yang sangat dewasa dan tenang, dan aku yang abstrak. Hahaha, aku nggak bisa nilai diriku sendiri, saking aneh nya kali.
Dulu, kita pernah beli buku yang disampulnya bertuliskan ”sheep story”, kita beli itu buat buku diary gank. Kita bagi tiap warna kertasnya, yang warna ini buat si ini, dan yang warna itu buat si itu. Sip! Kita curhat masalah segala dibuku itu. Dan kemarin pas kita ketemu ber-4 kita bedah buku itu, haahahahahhaha gila! Sumpah ngakak nggak ada jeda nya. Lucu iya, polos, aneh, menggelikan sampai menjijikkan semua terangkum menjadi satu dalam buku kecil berwarna merah muda itu. Mulai curhatan nggak penting, semi penting sampai yang sangat penting. Dengan kata-kata polos anak SD, kita menuliskan tentang kejadian-kejadian tiap hari kita. Kita tuliskan tentang detik-detik kita menuju Ujian Nasional SD, dan juga kita tuliskan semua kerinduan kita. Praktis, 5 tahun sudah kita nggak kumpul-kumpul kayak kemarin.
Pas kemarin itu, kita ngumpul dirumah mami lagi, cerita-cerita mulai siang sampe sore, makan rujak, nonton film dan seterusnya. Asiiiiikkkk....
Suer, mulai deh dari sekarang buatlah kenangan yang indah ditiap detik dan menit mu. Semua kenangan itu akan teringat kelak saat kamu dewasa. Temukan sahabatmu, jadilah orang yang baik dengan semuanya, agar nanti kamu akan dikenang sebagai si baik hati. Itu penting kawan, semua akan terukir dalam ingatanmu dan semua orang yang ikut andil dalam waktu hidupmu.
Menyenangkan! Aku ingin kembali ke masa itu. MASA-MASA LUGU.
Hamidah izzatu laily
30 juli 2011
19:05, kangen kalian teman2 SD.
Hahahaha, pernahkah kalian punya gank? Eits, bukan gank-gank brutal, metal, dan cadas seperti sekarang lho ya. Bukan gank motor, bukan pula gank atau kumpulan anak hardcore, punk, dan seterusnya.
Ini adalah gank masa kecilku, tepatnya pas aku duduk dibangku Sekolah Dasar dulu. Nama gank ku lucu.... ”sweet girl gank” hahahahah... nggilani untuk nama sebuah gank jaman sekarang, tapi jaman cupu ku dulu ya keren dong bro!
Gank itu terbentuk pas aku kelas 5 SD kalo gak salah, anggotanya terdiri dari Gardenia Sendy Ayu Carolina (Sendy, Pudak) Devita Nurmalasari (Mami, Dilem) Yunita Syafaati (Yunita, Kawi) Hamidah Izzatu Laily (aku, Pande) Ajeng (hilang dari peredaran, kamu kemana?)
Dulu tiap pulang sekolah, kita dengan wajah polos anak SD selalu main-main bersama kerumah masing-masinh anak dengan bergilir, udah kayak arisan ato pengajian keliling gitu. Tapi paling sering ke rumah mami, solanya mami punya jasa antar jemput yaitu becak Pak Man, so tanpa musti capek-capek jalan kaki kita tinggal nebeng becak itu. Main ke sana, main kesini, nggak pernah ada bosennya.
Dan awal bulan Juli kemarin, pas kita lagi sama-sama liburan SMA, nggak sengaja tanpa rencana panjang kita ketemuan tapi cuman kumpul berempat tanpa kehadiran Ajeng. Hahaha, mereka sama! Masih sama kayak SD dulu, sama gilanya, sama ramenya, sama serunya, dan sama semuanya. Sendy dengan lugu dan sifat ke kanak-kanakannya, Yunita yang asik dan gokil, Mami yang sangat dewasa dan tenang, dan aku yang abstrak. Hahaha, aku nggak bisa nilai diriku sendiri, saking aneh nya kali.
Dulu, kita pernah beli buku yang disampulnya bertuliskan ”sheep story”, kita beli itu buat buku diary gank. Kita bagi tiap warna kertasnya, yang warna ini buat si ini, dan yang warna itu buat si itu. Sip! Kita curhat masalah segala dibuku itu. Dan kemarin pas kita ketemu ber-4 kita bedah buku itu, haahahahahhaha gila! Sumpah ngakak nggak ada jeda nya. Lucu iya, polos, aneh, menggelikan sampai menjijikkan semua terangkum menjadi satu dalam buku kecil berwarna merah muda itu. Mulai curhatan nggak penting, semi penting sampai yang sangat penting. Dengan kata-kata polos anak SD, kita menuliskan tentang kejadian-kejadian tiap hari kita. Kita tuliskan tentang detik-detik kita menuju Ujian Nasional SD, dan juga kita tuliskan semua kerinduan kita. Praktis, 5 tahun sudah kita nggak kumpul-kumpul kayak kemarin.
Pas kemarin itu, kita ngumpul dirumah mami lagi, cerita-cerita mulai siang sampe sore, makan rujak, nonton film dan seterusnya. Asiiiiikkkk....
Suer, mulai deh dari sekarang buatlah kenangan yang indah ditiap detik dan menit mu. Semua kenangan itu akan teringat kelak saat kamu dewasa. Temukan sahabatmu, jadilah orang yang baik dengan semuanya, agar nanti kamu akan dikenang sebagai si baik hati. Itu penting kawan, semua akan terukir dalam ingatanmu dan semua orang yang ikut andil dalam waktu hidupmu.
Menyenangkan! Aku ingin kembali ke masa itu. MASA-MASA LUGU.
Hamidah izzatu laily
30 juli 2011
19:05, kangen kalian teman2 SD.
29 Juli 2011
Doa ketakutan
Aku ingin menjadi semu, memudar dalam ketidak tampakan.
Aku hanya ingin menjadi buram, menjadi abu-abu dalam hitam.
Aku ingin menjadi yang tidak nampak dalam tuntutan.
Aku mau menjadi seniman, saat aku tak pernah takut dan tak pernah peduli tertinggal oleh laju bumi.
Aku ingin meluangkan waktuku hanya untuk mengabdi pada Tuhan.
Membiarkan segala gemerlap malam menyilaukan mataku.
Aku ingin menjadi aku dalam diriku sendiri.
Dalam dunia ku sendiri, dalam dunia yang tak terlalu gegap gempita. Dalam dunia yang tak begitu gaduh.
Aku hanya ingin membiarkan nyawaku mengasuh kedewasaan ini menuju peradabannya yang tepat. Bukan malah melihat jiwaku tumbuh diatas nyeri duri yang penuh bohong dan dusta.
Aku ingin istana, aku mau mutiara dari dasar kautsar.
Aku juga mau segar kurma dari pohon di surga.
Bukan aku tak mau, bukan aku menolak, bukan aku sufi.
Aku hanya tidak mampu melihat dunia terlalu berlebihan mendekte-ku.
Aku hanya sedikit geram melihat dunia terus memaksaku mengikuti semua alurnya.
16.03.11
Hamidah izzatu laily
Right here wait
Aku hanya ingin menjadi buram, menjadi abu-abu dalam hitam.
Aku ingin menjadi yang tidak nampak dalam tuntutan.
Aku mau menjadi seniman, saat aku tak pernah takut dan tak pernah peduli tertinggal oleh laju bumi.
Aku ingin meluangkan waktuku hanya untuk mengabdi pada Tuhan.
Membiarkan segala gemerlap malam menyilaukan mataku.
Aku ingin menjadi aku dalam diriku sendiri.
Dalam dunia ku sendiri, dalam dunia yang tak terlalu gegap gempita. Dalam dunia yang tak begitu gaduh.
Aku hanya ingin membiarkan nyawaku mengasuh kedewasaan ini menuju peradabannya yang tepat. Bukan malah melihat jiwaku tumbuh diatas nyeri duri yang penuh bohong dan dusta.
Aku ingin istana, aku mau mutiara dari dasar kautsar.
Aku juga mau segar kurma dari pohon di surga.
Bukan aku tak mau, bukan aku menolak, bukan aku sufi.
Aku hanya tidak mampu melihat dunia terlalu berlebihan mendekte-ku.
Aku hanya sedikit geram melihat dunia terus memaksaku mengikuti semua alurnya.
16.03.11
Hamidah izzatu laily
Right here wait
24 Juli 2011
sabana hitam
Terkadang aku masih harus bersabar didalam semua ini
Tak adakah yang mengaku memesankan tiket hidup untukku?
Mengaku saja atau akan kupasung dirimu!
Sampai saat ini pun aku belum mengerti tentang hidup.
Dalam duka, luka, gelak tawa, tangis, jerit lara, bahagia, dan semuanya yang terkadang kurasa dan kuraba tiada guna.
Diminta hidup, lantas dimatikan.
Diminta bernafas, lantas dienyahkan.
Diminta berdetak, lantas dihentikan.
Hanyalah waktu dalam saksi bisu yang mengetahui samudera panjang yang kuarungi.
Tak kutemukan Tuhan atau kiblat dalam musyrik yang kadang membutakanku.
Membuatku menjadi kafir yang pandir agama dan tak tau ilmu.
Tak adakah yang mengaku memesankan tiket hidup untukku?
Mengaku saja atau akan kupasung dirimu!
Sampai saat ini pun aku belum mengerti tentang hidup.
Dalam duka, luka, gelak tawa, tangis, jerit lara, bahagia, dan semuanya yang terkadang kurasa dan kuraba tiada guna.
Diminta hidup, lantas dimatikan.
Diminta bernafas, lantas dienyahkan.
Diminta berdetak, lantas dihentikan.
Hanyalah waktu dalam saksi bisu yang mengetahui samudera panjang yang kuarungi.
Tak kutemukan Tuhan atau kiblat dalam musyrik yang kadang membutakanku.
Membuatku menjadi kafir yang pandir agama dan tak tau ilmu.
How with FISIP komunikasi?
"Inti memasuki perguruan tinggi adalah mengakhiri transisi budaya remaja menjadi dewasa yg sudah seharusnya mampu berfikir lebih dari sekedar bekal mencari kerja tapi lebih pada kemauan untuk mencari ilmu"
22 Juli 2011
isak
suatu kali aku temukan kebahagiaan dalam tangisku
kini aku bagaikan buta dan juga bisu
aku tak mampu membaca kejujuran karena aku selalu membiarkan mataku dalam kerak kebohongan
aku tak lagi sanggup berucap, aku kehilangan suara, karena aku terlalu banyak berdusta
bahkan kini, aku nyaris tuli... cinta telah membuatku tak mampu mendengar kebenaran
aku tak memperhatikan orang lain disekelilingku
aku hanya memperhatikan aku dan perasaanku juga kamu
aku kehilangan diriku yang menjelma bagaikan orang asing
aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri,aku lebih mempercayai cinta daripada aku sendiri.
entah kemana jiwa beraniku, aku mendadak lemah.
bagaikan sihir, dengan mudah aku lelap dalam ketidak sadaran
dan saat aku bangun, telah kutemukan cinta telah menipuku, lagi,lagi, dan lagi
untuk kesekian kali.
kini aku bagaikan buta dan juga bisu
aku tak mampu membaca kejujuran karena aku selalu membiarkan mataku dalam kerak kebohongan
aku tak lagi sanggup berucap, aku kehilangan suara, karena aku terlalu banyak berdusta
bahkan kini, aku nyaris tuli... cinta telah membuatku tak mampu mendengar kebenaran
aku tak memperhatikan orang lain disekelilingku
aku hanya memperhatikan aku dan perasaanku juga kamu
aku kehilangan diriku yang menjelma bagaikan orang asing
aku kehilangan kepercayaan pada diriku sendiri,aku lebih mempercayai cinta daripada aku sendiri.
entah kemana jiwa beraniku, aku mendadak lemah.
bagaikan sihir, dengan mudah aku lelap dalam ketidak sadaran
dan saat aku bangun, telah kutemukan cinta telah menipuku, lagi,lagi, dan lagi
untuk kesekian kali.
11 Juli 2011
sibuk seorang diri
entahlah.
terkadang aku begitu sibuk memikirkan diriku sendiri.
tentang sikapku yang aneh, dan tentang pemikiranku yang janggal.
terkadang aku memiliki dunia yang lengkap dengan gelak tawa dan riuh suasana yang seolah
amat menyenangkan dan begitu kunikmati.
tapi lebih sering, aku terdiam dalam sunyi dan sepi.
membayangkan masa depan, semua yang baru saja terjadi, dan melaknat kehidupan.
mana yang aku dan mana yang imitasiku?mana yang jiwaku dan mana yang bayanganku?
semua sama, samar dalam pandangan kaburku.
aku bahkan tak mengenal baik diriku sendiri, jiwaku dan nyawaku sendiri.
aku bahkan hampir tak bisa mendeskripsikan siapa aku ini.
apa itu semua bagian dari mimpi?
apa ini mimpi, atau kenyataan yang tertunda?
sesungguhnya aku ada dimana?
dikatakan bangun tapi aku masih merasa lelap, dikatakan tidur tapi aku merasa nyata.
dimana letak ke-riil-an di dunia ini?
sudahkah musnah kenyataan dalam hatiku?
atau memang semua ini hasil dari penciptaan bayang-bayangku sendiri.
berlebihan. aku hanya mau yang sederhana.
jangan bebani aku dengan yang tidak mampu kugarap.
terkadang aku begitu sibuk memikirkan diriku sendiri.
tentang sikapku yang aneh, dan tentang pemikiranku yang janggal.
terkadang aku memiliki dunia yang lengkap dengan gelak tawa dan riuh suasana yang seolah
amat menyenangkan dan begitu kunikmati.
tapi lebih sering, aku terdiam dalam sunyi dan sepi.
membayangkan masa depan, semua yang baru saja terjadi, dan melaknat kehidupan.
mana yang aku dan mana yang imitasiku?mana yang jiwaku dan mana yang bayanganku?
semua sama, samar dalam pandangan kaburku.
aku bahkan tak mengenal baik diriku sendiri, jiwaku dan nyawaku sendiri.
aku bahkan hampir tak bisa mendeskripsikan siapa aku ini.
apa itu semua bagian dari mimpi?
apa ini mimpi, atau kenyataan yang tertunda?
sesungguhnya aku ada dimana?
dikatakan bangun tapi aku masih merasa lelap, dikatakan tidur tapi aku merasa nyata.
dimana letak ke-riil-an di dunia ini?
sudahkah musnah kenyataan dalam hatiku?
atau memang semua ini hasil dari penciptaan bayang-bayangku sendiri.
berlebihan. aku hanya mau yang sederhana.
jangan bebani aku dengan yang tidak mampu kugarap.
Teens and they family
Aku ingin cepat pulang, menciptakan duniaku sendiri.
Terkadang, dalam relung hati sang ceria atau si gaduh tentu dia butuh ruang dan tempat untuk menyepi. Setiap orang pasti akan jenuh dengan kehidupannya yang melulu begitu. Mungkin seperti yang aku alami sendiri, aku bukanlah orang dikatakan pendiam pemalu tertutup dan lain sebagainya, jadi lebih jelasnya aku ini orang yang suka bicara dan duniaku sarat akan keramaian. Tapi siapapun kalian yang membaca ini, kalian harus tahu bahwa semua orang membutuhkan waktu untuk sejenak rehat dan tenang. Istirahat dari bicara, istirahat dari ramai, bising, gaduh, gegap gempita dan lain sebagainya.
Terkadang, jika hal itu datang tiba-tiba maka akan sangat menggangguku dan membuatku dilema. Aku dengan duniaku yang ramai, harus mendadak berubah menjadi sepi sunyi kamar dan merenung sendirian dengan beberapa denting lagu dari mp3 handphone atau membiarkan tangan dan jari jemariku berkolaborasi dengan keyboard laptop lalu memuntahkan semua gelisahku seperti saat ini. Jadi, maklum saja jika tulisanku ini belepotan tak karuan, karena ini memang kutulis apa adanya. Hampir seperti diary saja.
Terkadang aku tak nyaman, terkadang jiwa ini jenuh dan jengah, harus terus menjadi gembira dan tak kenal lelah bicara. Kenapa hidup di dunia remaja kadang kala begitu menyiksa. Harus dihadapkan dengan teman-teman yang tak sepemikiran, harus dihadapkan dengan si egois, dengan si kurang ajar, si cinta, dan si si lainnya.
Saat aku mulai berpikiran seperti itu, satu yang langsung muncul diotakku. Bukan curhat ke pacar, karena memang aku tak punya. Bukan pula curhat ke sahabat, karena kurasa aku tak begitu percaya manusia. Bukan juga menangis di kamar mandi sekolah dan kuyakin itu melankolis sekali, gaya itu sudah dilakukan di berbagai adegan film remaja, dan kurasa itu sudah basi.
Satu yang aku lakukan, yaitu pulang.
Entah kenapa kurasa tak ada tempat sedamai dirumah. Tiada tempat paling aman selain rumah, aman dari cakaran-cakaran mulut penggosip, aman dari cercaan orang tukang kritik, dan lain sebagainya. Saat menginjakkan kakiku dirumah, kurasa semua penatku hilang. Melihat bapak, Ibu, adikku, semua menyambut dengan senyum bahagia yang seolah memberiku kenyamanan dan perlindungan. Merekalah yang sesungguhnya benar-benar patut kupercaya, merekalah keluargaku. Tapi beda lagi, jika suasana sedang kurang enak, tentu akan terasa lain memandang ibuku yang sedang memasang muka cemburut, Bapakku yang juga kurang enak badan dan mendadak sewot, atau juga adikku yang tak perduli dengan kedatanganku dan malah lari pergi bermain. Terlepas dari itu semua, it’s no problem! Mereka keluargaku, seberapa marahpun mereka, sebentar lagi juga sudah baikan, dan suasana akan kembali menjadi menyenangkan.
Bayangkan jika yang memasang muka sewot dan cemberut itu adalah temanmu, apa yang akan kau lakukan? Mungkin kau akan memaafkan dan mungkin juga sama, suasana akan kembali normal. Tapi bukankah itu akan lebih kau ingat daripada muka cemberut Ibumu? Orang lain tetap orang lain, bagaimanapun mereka jauh lebih mudah membuat hati kita tersayat dan lukanya pun tidak dengan mudah menjadi sembuh.
Namun kini, kurasa anggapan bahwa ”rumah adalah tempat ter-aman” tak lagi ada dibenak para remaja. Mereka sudah memusnahkan paradigma itu, dan malah menggubahnya menjadi anggapan bahwa ”rumah adalah lubang neraka”.
Mereka bilang, tiap memasuki pintu rumah maka akan ada sejuta nasihat dan peringatan yang menghujani mereka. Akan ada sedikit olokan atas sikap dan perilaku yang kurang ajar dan melenceng dari norma. Dan akan ada beberapa omelan, yang membuat mereka lebih betah diluar rumah dan memilih nongkrong dengan teman yang mereka rasa tak pernah melakukan itu.
Ya, aku sebagai remaja terkadang juga merasakan itu, tapi siapa bilang?
Mungkin singkat kata memang benar. Temanmu sepermainan tak akan pernah mengolok masalah rutinitas burukmu akhir-akhir ini yaitu merokok dan menghambur-hamburkan uang, justru sebagian besar mereka mendukungmu, karena dengan kamu yang menghambur-hamburkan uang, mereka juga yang akan merasakan bagiannya. Teman sepermainanmu juga tidak akan menasihatimu masalah ibadah dan sholat karena mungkin mereka sendiri juga jarang melaksanakannya, sepertinya memang klop kan?
Namun, dibalik mereka yang seolah selalu sejalan dengan pemikiranmu dan selalu mengiyakan semua tingkah lakumu, dan lagi tak pernah sok menasihatimu, apa kau yakin mereka tak pernah menggosipkan, membicarakan, menggunjingkan dirimu dibelakangmu dengan teman yang lain tentang sikapmu? yang mungkin kurang klop dengan mereka. Tentang sikap semaumu, sikap egoismu, dan mungkin tentang kebiasaan jorokmu? Apa kau yakin jika mereka akan selalu baik denganmu, akan selalu membenarkanmu, dan selamanya menjadi kawan sejatimu? Yakin kah?
Coba tengok lagi orang tuamu dan keluargamu dirumah tadi, lagi-lagi pertanyaan: mungkinkah mereka menggunjingkanmu dengan orang lain (red:selain orang rumah/keluarga batih)? Mungkinkah itu? Bukan kah sudah gila jika Ibumu membicarakan aibmu pada tetangganya, rekan kerjanya, atau pada kakak iparnya? Mungkinkah orang tuamu dengan tega menggunjingkan kebiasaan burukmu minum minuman keras atau kebiasaan burukmu pulang larut malam, pada momen arisan kampung? Mungkinkah adik kandungmu sendiri menceritakan hal-hal burukmu pada teman sepermainannya? Tidak mungkin! Non sense! Kemungkin itu sangat kecil, jika memang iya terjadi.
Itulah salah satu tanda bahwa mereka benar-benar menyayangimu. Itulah salah satu bukti bahwa mereka masih menganggapmu ada walau seburuk apapun dirimu. Itulah bukti bahwa mereka mengganggapmu anggota keluarga mereka, dan mereka akan melindungimu dari orang lain. Mereka menganggap kamu adalah mereka dan mereka adalah kamu, begitupula aib mu adalah aib mereka dan aib mereka adalah aib mu dan itulah sebabnya Tuhan menciptakan keluarga, yaitu untuk saling menjaga dan menyayangi satu sama lainnya.
Hamidah izzatu laily
14 juni 2011
06:52 wib
Terkadang, dalam relung hati sang ceria atau si gaduh tentu dia butuh ruang dan tempat untuk menyepi. Setiap orang pasti akan jenuh dengan kehidupannya yang melulu begitu. Mungkin seperti yang aku alami sendiri, aku bukanlah orang dikatakan pendiam pemalu tertutup dan lain sebagainya, jadi lebih jelasnya aku ini orang yang suka bicara dan duniaku sarat akan keramaian. Tapi siapapun kalian yang membaca ini, kalian harus tahu bahwa semua orang membutuhkan waktu untuk sejenak rehat dan tenang. Istirahat dari bicara, istirahat dari ramai, bising, gaduh, gegap gempita dan lain sebagainya.
Terkadang, jika hal itu datang tiba-tiba maka akan sangat menggangguku dan membuatku dilema. Aku dengan duniaku yang ramai, harus mendadak berubah menjadi sepi sunyi kamar dan merenung sendirian dengan beberapa denting lagu dari mp3 handphone atau membiarkan tangan dan jari jemariku berkolaborasi dengan keyboard laptop lalu memuntahkan semua gelisahku seperti saat ini. Jadi, maklum saja jika tulisanku ini belepotan tak karuan, karena ini memang kutulis apa adanya. Hampir seperti diary saja.
Terkadang aku tak nyaman, terkadang jiwa ini jenuh dan jengah, harus terus menjadi gembira dan tak kenal lelah bicara. Kenapa hidup di dunia remaja kadang kala begitu menyiksa. Harus dihadapkan dengan teman-teman yang tak sepemikiran, harus dihadapkan dengan si egois, dengan si kurang ajar, si cinta, dan si si lainnya.
Saat aku mulai berpikiran seperti itu, satu yang langsung muncul diotakku. Bukan curhat ke pacar, karena memang aku tak punya. Bukan pula curhat ke sahabat, karena kurasa aku tak begitu percaya manusia. Bukan juga menangis di kamar mandi sekolah dan kuyakin itu melankolis sekali, gaya itu sudah dilakukan di berbagai adegan film remaja, dan kurasa itu sudah basi.
Satu yang aku lakukan, yaitu pulang.
Entah kenapa kurasa tak ada tempat sedamai dirumah. Tiada tempat paling aman selain rumah, aman dari cakaran-cakaran mulut penggosip, aman dari cercaan orang tukang kritik, dan lain sebagainya. Saat menginjakkan kakiku dirumah, kurasa semua penatku hilang. Melihat bapak, Ibu, adikku, semua menyambut dengan senyum bahagia yang seolah memberiku kenyamanan dan perlindungan. Merekalah yang sesungguhnya benar-benar patut kupercaya, merekalah keluargaku. Tapi beda lagi, jika suasana sedang kurang enak, tentu akan terasa lain memandang ibuku yang sedang memasang muka cemburut, Bapakku yang juga kurang enak badan dan mendadak sewot, atau juga adikku yang tak perduli dengan kedatanganku dan malah lari pergi bermain. Terlepas dari itu semua, it’s no problem! Mereka keluargaku, seberapa marahpun mereka, sebentar lagi juga sudah baikan, dan suasana akan kembali menjadi menyenangkan.
Bayangkan jika yang memasang muka sewot dan cemberut itu adalah temanmu, apa yang akan kau lakukan? Mungkin kau akan memaafkan dan mungkin juga sama, suasana akan kembali normal. Tapi bukankah itu akan lebih kau ingat daripada muka cemberut Ibumu? Orang lain tetap orang lain, bagaimanapun mereka jauh lebih mudah membuat hati kita tersayat dan lukanya pun tidak dengan mudah menjadi sembuh.
Namun kini, kurasa anggapan bahwa ”rumah adalah tempat ter-aman” tak lagi ada dibenak para remaja. Mereka sudah memusnahkan paradigma itu, dan malah menggubahnya menjadi anggapan bahwa ”rumah adalah lubang neraka”.
Mereka bilang, tiap memasuki pintu rumah maka akan ada sejuta nasihat dan peringatan yang menghujani mereka. Akan ada sedikit olokan atas sikap dan perilaku yang kurang ajar dan melenceng dari norma. Dan akan ada beberapa omelan, yang membuat mereka lebih betah diluar rumah dan memilih nongkrong dengan teman yang mereka rasa tak pernah melakukan itu.
Ya, aku sebagai remaja terkadang juga merasakan itu, tapi siapa bilang?
Mungkin singkat kata memang benar. Temanmu sepermainan tak akan pernah mengolok masalah rutinitas burukmu akhir-akhir ini yaitu merokok dan menghambur-hamburkan uang, justru sebagian besar mereka mendukungmu, karena dengan kamu yang menghambur-hamburkan uang, mereka juga yang akan merasakan bagiannya. Teman sepermainanmu juga tidak akan menasihatimu masalah ibadah dan sholat karena mungkin mereka sendiri juga jarang melaksanakannya, sepertinya memang klop kan?
Namun, dibalik mereka yang seolah selalu sejalan dengan pemikiranmu dan selalu mengiyakan semua tingkah lakumu, dan lagi tak pernah sok menasihatimu, apa kau yakin mereka tak pernah menggosipkan, membicarakan, menggunjingkan dirimu dibelakangmu dengan teman yang lain tentang sikapmu? yang mungkin kurang klop dengan mereka. Tentang sikap semaumu, sikap egoismu, dan mungkin tentang kebiasaan jorokmu? Apa kau yakin jika mereka akan selalu baik denganmu, akan selalu membenarkanmu, dan selamanya menjadi kawan sejatimu? Yakin kah?
Coba tengok lagi orang tuamu dan keluargamu dirumah tadi, lagi-lagi pertanyaan: mungkinkah mereka menggunjingkanmu dengan orang lain (red:selain orang rumah/keluarga batih)? Mungkinkah itu? Bukan kah sudah gila jika Ibumu membicarakan aibmu pada tetangganya, rekan kerjanya, atau pada kakak iparnya? Mungkinkah orang tuamu dengan tega menggunjingkan kebiasaan burukmu minum minuman keras atau kebiasaan burukmu pulang larut malam, pada momen arisan kampung? Mungkinkah adik kandungmu sendiri menceritakan hal-hal burukmu pada teman sepermainannya? Tidak mungkin! Non sense! Kemungkin itu sangat kecil, jika memang iya terjadi.
Itulah salah satu tanda bahwa mereka benar-benar menyayangimu. Itulah salah satu bukti bahwa mereka masih menganggapmu ada walau seburuk apapun dirimu. Itulah bukti bahwa mereka mengganggapmu anggota keluarga mereka, dan mereka akan melindungimu dari orang lain. Mereka menganggap kamu adalah mereka dan mereka adalah kamu, begitupula aib mu adalah aib mereka dan aib mereka adalah aib mu dan itulah sebabnya Tuhan menciptakan keluarga, yaitu untuk saling menjaga dan menyayangi satu sama lainnya.
Hamidah izzatu laily
14 juni 2011
06:52 wib
Langganan:
Postingan (Atom)