27 Juli 2016

mengenal kalian lebih dekat #sawasdee19

Hari ini aku mengajar di kelas 2 mengenai benda benda di dalam kelas. 
Seperti hari biasanya aku selalu rajin mengamati mereka selama belajar dan menulis. Satu persatu wajah kucermati tak henti-henti. 
Oh sayangku... sungguh jika kalian tak mengerti tentang apa yang kami ajarkan sesungguhnya itu bukan salah kalian.. barangkali kami yang masih kurang usaha dalam menjelaskan pelajaran.
Ada hal yang menarik kala mengamati mereka.. pasti ada perbedaan antara tulisan murid laki-laki dan perempuan.

tulisan perempuan, selalu rapi :*
tulisan murid laki-laki, hmm mohon dicermati sendiri hehe :)


Tapi yang satu ini berbeda.. dia laki-laki tapi tulisannya tak kalah rapi dengan murid perempuan :) Dan kau tahu... dia ini memiliki kekurangan dalam pendengaran.. tp dia berusaha lebih baik dr murid lain yang sempurna.


Ton of luck for you dear :***



muridku yang manis, jadilah lebih baik dariku kedepannya :')

16 Desember 2015

#pagiperpustakaan lepas dari tiga bulan :')

Barangkali memang tepat bila ada orang yang berkata “apa yang kita baca mempengaruhi diri kita”. Saat ini saya tengah mengalami hal tersebut, yang praktis dalam tiga setengah bulan ini berkutat dengan buku-buku karangan wartawan tiga zaman, Rosihan Anwar.
Sebelumnya, tidak pernah tersentuh sama sekali oleh saya buku-buku karangan beliau, bahkan sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi saya merasa berdosa tidak pernah mengenal nama beliau sebelumnya. Mungkin masa kejayaan nya sebagai wartawan terlampau jauh dari masa studi saya saat ini. Rosihan Anwar adalah pemimpin harian Pedoman yang menjadi koran nomor wahid di Indonesia kala tahun 50-an. Bila boleh mengutip pendapat Prof Alwi: Pedoman itu sebagaimana Kompas masa kini, yakni koran tempat diskusi dan koran yang mampu membuat tema-tema yang diangkat selalu jadi perbincangan seluruh rakyat Indonesia.
Tiga setengah bulan mencoba bermesra dengan sosok Pak Ros (sapaan akrab beliau) demi mendapatkan inti sari pola pemikirannya terkait Jurnalisme Indonesia yang berguna untuk Tugas Akhir perkuliahaan saya di Universitas Brawijaya, menjadikan saya kemudian tau banyak hal, mengamati dan peduli berbagai hal, yang sebelumnya sama sekali tak terlintas dalam benak.
Judul skripsi ini pula yang kemudian membawa saya melakukan perjalanan ke Jakarta pertama kali seorang diri menggunakan kereta api selama 17 jam, untuk menemui kerabat sekaligus kolega Pak Ros yakni nama yang sebelumnya sudah saya sebutkan diatas: M. Alwi Dahlan. Beliau kemudian akrab di sapa dengan panggilan Prof Alwi sebab menjabat guru besar FISIP Universitas Indonesia.
Perjalanan menemui mantan Mentri Penerangan era Soeharto ini juga perlu perjuangan. Saya harus memulai dengan pendekatan pada sekretaris jurusan UI terlebih dahulu yakni Dr. Eduard Lukman, agar mendapat rekomendasi wawancara pada beliau. Dari pengalaman tersebut ada pelajaran penting dalam hidup yang selama ini tak pernah saya temui secara langsung namun hanya kerap kali saya dengar, yakni kalimat “padi semakin berisi semakin merunduk”. Ini benar saya temukan pada sosok Prof Alwi Dahlan, sebab usai menghubungi beliau via pesan singkat dengan harapan supaya tak menganggu kegiatan, justru ada satu panggilan yang mendarat di handphone saya kala tengah bergulat dengan ratusan lembar koran Pedoman di Perpusnas jalan Salemba. Ada suara yang tak cukup jelas dari sebrang telfon memulai percakapan sebagai berikut: “Halo, saudari Hamidah? Saya Alwi Dahlan. Saya persilahkan ke rumah saya jika hendak wawancara terkait Pak Rosihan Anwar”
Seketika kemudian haru menguasai dada dan mata, ini bukan sekedar perasaan bahagia sebab proses wawancara skripsi saya terjamin lancar, namun sebab sikap seorang “Manusia Komunikasi” (buku Manusia Komunikasi adalah kumpulan tulisan rekan Alwi Dahlan dalam rangka memperingati ulang tahun beliau ke-75 tahun) yang kemudian sangat rendah hati dan memberikan saya pelajaran maha berharga.
Dari sosok Prof Alwi, kemudian saya kembali lagi pada sosok Pak Rosihan. Muncul wajah beliau yang ‘terlalu’ sering saya tatap di sampul buku “Menulis dalam Air: sebuah otobiografi”. Saya sangat terharu. Betapa, Pak Ros andai saya sempat bertemu, barangkali saya hanya bisa merunduk malu.... belum apa-apa yang saya lakukan terkait skripsi ini namun keluhan demi keluhan tak henti terlontar pagi siang malam. Sepanjang tiga setengah bulan ini saya baru sadar, munafik memang bicara tentang skripsi tanpa peduli ijazah dan gelar, tapi dibalik kedua hal tersebut kemudian saya temukan soul dalam tugas akhir ini. Bukan, bukan hanya tentang S.Ikom semata, tapi lebih dari pada itu, pengalaman, pelajaran, cara pandangan, perjuangan, dan semua tentang Pak Ros dan koleganya yang kini sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu atau masih hidup dalam usia udzur, semuanya menginspirasi saya... semua nya kemudian menjadi cambuk bagi saya, bahwa hidup memang akan selalu berakhir, sehingga pertanyaan nya bukan kapan akan berakhir, tapi apa yang bisa dilakukan sebelum berakhir?

Sebagai penutup tulisan yang tanpa sengaja saya ketik dalam keadaan mata berkaca-kaca ini, saya hendak kutip petuah dari Buya Hamka (rekan Pak Ros juga), sebagai berikut:
Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga Hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja.

Sebab itulah mari kita sama-sama cari makna dalam hidup ini. Semoga kita bukan golongan orang-orang yang hanya hidup sekedar hidup. Amin.  / 121215

18 September 2015

Penjaja Koran dan Free Wifi


#pagiperpustakaan kali ini lagi ogah bahas skripsi hehehe, sebenernya bukan apa-apa sih, tapi karena ada hal lain yang lebih menarik perhatianku pagi ini di perpustakaan, selain berlembar-lembar kisah hidup Pak Rosihan Anwar :)
Di teras depan perpustakaan yang mulai sesak dengan mahasiswa ini, aku melihat lelaki bertopi abu-abu tengah menjajakan sesuatu sambil memekikkan kata “Koran.. koran”, kemudian menunjukkan sampul depan kertas tersebut, sebuah foto bencana alam banjir dan tanah longsor di Aceh.
Berbicara tentang berita tersebut, sebenarnya aku sudah membaca dari internet sejak beberapa waktu yang lalu. Dapat dengan lengkap kuperoleh informasinya, bahkan link berita lanjutannya pun langsung muncul dibagian akhir berita. Dengan sangat mudah, runtut, dan rinci, dalam sekejap aku bisa mengetahui kronologi kejadian apapun di belahan dunia manapun, hanya dengan bantuan Internet, dan... tentu wartawannya (hehe, ini yang paling penting. Ada internet tanpa ada wartawan, mustahilkan kan menjadi sebuah berita?)
Kembali kulihat si bapak penjaja koran, sejenak kemudian ku terbangkan pandangan ke bagian atas teras perpustakaan. Di sana tergantung sebuah benda berbentuk bulat pipih yang tak henti berkedip-kedip dengan lampu warna hijaunya. Kita semua sepakat menyebutnya wifi.
Jadi.... kira-kira mana yang lebih dipilih manusia masa kini, terutama dalam lingkup kecil perpustakaan universitas? Membeli kertas koran seharga 4000 rupiah, atau mengeluarkan laptop yang dibelikan Ayah kemudian menekan tombol turn on wifi dan selanjutnya dapat berselancar di dunia tanpa batas.
Penjaja koran dan wifi gratis, menjadikanku miris. Ternyata, tanpa kita sadari, dunia telah perlahan-lahan menelan manusia-manusia setia seperti si bapak penjaja koran. Perlahan-lahan dunia modern telah membatasi kita berinteraksi secara langsung atau tatap muka dengan orang lain. Kita terkadang memilih untuk lebih praktis, apatis, dan menganggap bahwa meninggalkan komentar berupa tulisan di kolom pembaca digital sudah bisa disebut sebagai salah satu jenis interaksi.

Coba bayangkan, alangkah indahnya jika di pagi se dingin ini di Kota Malang, kita hangatkan diri dan hati (terutama) untuk sejenak menyapa penjaja koran, berbasa-basi menanyakan apa headline koran A dan koran B? Kemudian membagikan senyuman sembari menyodorkan uang 5000-an.
“Kembaliannya ambil saja, Pak.”
“Terimakasih Mbak, terimakasih :)”
Ah.... alangkah indahnya dunia, kala mendengar ungkapan terimakasih nan tulus diiringi rekah senyum yang nampak simetris di bibir pekerja keras seperti nya. Barangkali, ketika pulang nanti si Bapak bisa ceritakan pada anaknya bahwa manusia-manusia yang duduk dibalik gedung kokoh perkuliahan bukanlah orang-orang apatis yang ‘sok serius’ dan ‘sok sibuk’, tapi mereka adalah orang-orang baik yang ikhlas berbagi, walau hanya senyum di pagi hari. Siapa tau si Bapak akhirnya punya mimpi, menyekolahkan anaknya hingga ke universitas nanti?
Haha aku terlalu panjang berangan ya?
Setidaknya, pagi ini aku sudah memutuskan membeli koran itu dan berusaha membagikan senyum semangat terbaik yang kumiliki :)

#pagiperpustakaan, jangan lupa tersenyum dan bagikan kebaikan 

31 Maret 2015

Analisis Krisis "Celebrity Big Brother 2007"

URUTAN PERISTIWA:

1.      Channel 4 mulai mengudara pada tahun 1982, bergabung dengan dua saluran lain yakni BBC dan ITV, satu-satunya saluran televisi komersial saat itu.
2.      Masalah ini bermula ketika Shilpa Shetty disebut sebagai 'India' oleh teman serumah nya yang merasa sulit untuk mengucapkan namanya.
3.      Ofcom menerima lebih dari 200 komplain dari penonton, sebab ada dugaan intimidasi rasis yang dilakukan oleh tiga teman serumah Shilpa.
4.      Mendengar adanya komplain tersebut, Channel 4 menyangkal bahwa insiden yang terjadi itu adalah sebuah 'persaingan feminin' dalam reality show.
5.      Dengan adanya pernyataan dari Channel 4 tersebut, jumlah pengaduan justru semakin meningkat, yakni hingga mencapai 8.000 komplain.
6.      Early Day Motion (EDM) melalui Partai Buruh MP Keith Vaz, meminta Channel 4 'untuk mengambil tindakan segera mengingatkan perilaku rasis yang dilakukan teman serumah tersebut tidak dapat diterima'. Tindakan EDM didukung dan disetujui oleh Perdana Menteri Tony Blair, bahkan Sekretaris Kebudayaan yakni Tessa Jowell, menganggap insiden itu sebagai 'rasisme yang disajikan sebagai hiburan'

22 Maret 2015

TYLENOL CASE (studi kasus strategi Public Relations perusahaan Johnson & Johnson)

TYLENOL TALE
Kasus ini mengungkapkan adanya sebuah krisis yang justru membuat publik makin simpati. Hal ini dilakukan Johnson & Johnson melalui penyelidikan sebab keracunan Tylenol.
Urutan peristiwa:
1.      September 1982: Tablet Tylenol menaikkan penjualan terhadap konsumen dewasa sebanyak 35% di Amerika Serikat.
2.      (1 hari kemudian) September 1982: Terjadi kematian di daerah Chicago (3 korban)
3.      Berawal dari meninggalnya 3 orang, muncul berita-berita korban jiwa lainnya yang jika ditotal sebanyak 250 kematian.
4.      Johnson & Johnson menguji 8 juta tablet Tylenol. Hasilnya menunjukkan bahwa kurang dari 75 tablet telah terkontaminasi, dan semuanya ada di daerah Chicago.
5.      94 % konsumen sadar bahwa tablet Tylenol berkaitan dengan keracunan yang terjadi.

10 Maret 2015

Analisis “BOWATER INCORPORATED – A LESSON IN CRISIS COMMUNICATIONS – By Lisa Maggart”


Krisis yang dialami oleh perusahaan Pabrik kertas koran yakni Bowater, berawal dari sebuah mobil yang menabrak bagian belakang truk bermuatan bahan kimia. Kecelakaan tersebut disebabkan asap tebal yang berasal dari Perusahaan Bowater dan menutupi jalan raya. Kejadian ini dianggap sebagai bencana terburuk sepanjang sejarah Tennesee, sebab menelan 12 korban jiwa dan lebih dari 50 orang terluka. Akibat adanya peristiwa ini, pihak Bowater mengalami krisis, sebab polusi asapnya diduga sebagai penyebab utama kecelakaan yang terjadi. Berbagai gugatan dilayangkan ke pengadilan untuk menuntut perusahaan, sehingga menambah daftar krisis yang menerpa.
Tidak lebih dari 72 jam setelah kecelakaan terjadi, Perusahaan Bowater menunjukkan tindakan yang cepat yakni menunjukkan Astrid Sheil (PR Perusahaan Bowater) sebagai satu-satunya spokesperson. Beberapa tindakan yang diambil Bowater dan Sheil selaku PR perusahaan ini adalah:

1 Oktober 2014

Duduk

Aku berniat memosting tulisan ini semalam, sebab momennya sunggu pas, yaitu akhir dari bulan september dan awal dari musim hujan. Ya.. kemarin 30 september adalah rintik hujan pertama yang ku tahu jatuh di tanah Malang. Sungguh.. musim hujan tentu memiliki banyak cerita menyenangkan :)

Minggu lalu, kaki kananku sekit sekali, selama berhari hari. Sudah kupijat pijat sendiri, sudah pula kuolesi balsem, dan berbagai cara lain kutempuh demi menghilangkan rasa linu yang tak kunjung reda.
Bahkan, aku sering menggantungkan kakiku di tembok, sembari merebahkan badan di kasur, beberapa orang mengatakan itu akan membantu meredakan nyeri.
Kaki yang sakit itu 'dipicu' oleh kebiasaan duduk ku yang mungkin kurang tepat. Kegiatan didalam ruangan kelas dan berbagai aktivitas seabrek lainnya memaksaku mau tak mau harus lebih banyak duduk, ketimbang berdiri atau jalan jalan.
Duduk, akan memuat berbagai macam gaya yang dapat menimbulkan makna makna. Misal, seorang laki-laki akan cenderung duduk dibangku dengan membuka lebar kaki nya, agar terkesan gagah dan manly. Terkadang laki-laki dewasa, juga akan duduk dibangku dengan menopangkan satu kakinya ke kaki yang lain hingga membentuk angka empat atau sudut lancip.
Nah.. begitupun dengan seorang wanita, yang memiliki gaya tersendiri dalam duduknya. Wanita kerap duduk dibangku dengan menopangkan salah 1 kakinya ke kaki yang lain, dengan posisi kaki merapat tertutup. Hal ini akan menimbulkan kesan anggun, feminim dan seterusnya. Hingga, saking lekatnya makna tersebut terhadap masing masing gaya duduk, bisa jadi seorang pria yang duduk dengan gaya wanita akan dianggap tidak keren, banci, dan lain sebagainya.

Aku, melakukan hal yang sama sebagai seorang wanita. Sebenarnya aku duduk dengan gaya wanita seperti yang dijelaskan diatas, bukan untuk mengesankan apa apa. Sebab, mungkin sudah lazimnya seorang wanita duduk demikian, maka secara alamiah aku melakukan hal yang sama, yaitu duduk dengan posisi kaki menopang pada salah satu kaki lainnya.
Karena terlalu sering melakukan posisi tersebut dalam dudukku. Walhasil kaki kananku pun sakit, linu, dan pegal tak reda reda.

Dari tragedi kaki sakit ini, membuatku merenung sesaat. Betapa, kaki saja bisa sakit jika ditimpa, kaki saja bisa pegal tak karuan jika harus menopang kaki yang lain, padahal mereka sepasang, sudah seharusnya beriringan dan saling membantu dalam segala hal. Bagaimana dengan manusia, yang walaupun berkasih sejatinya bukanlah benar benar sepasang. Bagaimana dengan manusia yang terkadang terlalu bergantung pada yang lain, terlalu menekan, terlalu menuntut dan lain sebagainya, bukankah lama kelamaan akan ada satu belah pihak yang merasa tersakiti? Merasa linu, ngilu, pegal dan lelah? Belajarlah dari filosofi sepasang kaki wanita yang tengah duduk. Belajarlah. Mari kita belajar, memahami, bijaksana, dan mandiri. / hamidah 27 september 2014

28 Agustus 2014

Tarik nafas panjang

Kutarik nafas panjang
Tak coba untuk kuhembuskan
Ingin kumampatkan
Biar membeku.
Biar tak mudah lagi terasa hangat oleh temaram bohong bohongan.
Kemudian terasa gumpalan sampah bercampur riak hendak menyembur, memuntahkan segala keluh dan kecewa
Apalah daya Tuhan..
Aku kehilangan keberanianku berhembus.

27 Agustus 2014

Cukup aku, Jangan kalian!

Senin, 4 agustus 2014 (sedikit terlambat kuposting tulisan ini, sebab sebelumnya kusimpan saja di memo handphone)

Ini adalah awal bulan agustus yang semoga berfaedah untukku dan orang orang sekelilingku.
Alhamdulillahirabbilalamin, hari ini adalah hari pertamaku mengajar di sebuah sekolah sma islam yang dirintis orang tua ku dan teman temannya.
Sebenarnya, aku mengajar di sma tersebut hanya dalam waktu singkat, barang sebulan atau dua bulan saja, sebab hanya untuk menggantikan guru mata pelajaran yang tengah cuti melahirkan.
Namun.. hari ini adalah pengalaman berharga di usiaku yang ke 20 tahun. Mengenakan seragam keki berwarna kuning tua, kemudian memasangkan jilbab di kepalaku, mengendarai motor dan lima belas menit kemudian memasuki gerbang sebuah sekolah yang terbilang cukup sepi di hari senin pertama masuk sekolah setelah libur panjang lebaran.
Kutarik nafas panjang, berharap segala keberkahan dan kebaikan mengiringi setiap langkah langkah ini. Sebab ada hal yang lebih penting dan mulia dari sebuah pengalaman yang dikejar kejar jiwa muda, yaitu semangat perjuangan.

Tak lama, aku pun segera menemui seorang guru yang sudah lebih dulu datang di ruang kantor. Beliau tengah membersihkan ruangannya sendiri, sebab seperti yang telah ku sebutkan: ini adalah perjuangan, sehingga tak ada pejuang yang bermalas-malas. Pejuang tak boleh manja meminta tukang sapu membersihkan kantornya, sebab gajinya sendiri bulan lalu bahkan belum pula turun dan dapat dinikmati.
Setelah membantu membersihkan ruang guru, aku menemui murid-murid yang juga disibukkan di hari pertama masuk sekolah. Mereka menyapu ruang ruang kelas sembari bersenda gurau dengan rekan. Melebur rindu yang menggumpal setelah berminggu minggu tak bersua.

Segera setelah kelas-kelas bersih, para murid kelas 1 hingga kelas 3 pun diarahkan menuju ruangan yang paling besar, kemudian mereka mendapatkan wejangan wejangan mengenai kurikulum 2013 sebagai acuan terbaru, juga mengenai peraturan peraturan sekolah yang diperketat.
Sembari menyimak pula apa yang tengah disampaikan bapak guru yang saat itu menjadi rekan ku, aku memandangi satu persatu wajah murid murid itu, yang sejatinya usia mereka hanya selisih dua sampai tiga tahun lebih muda dariku.
Oh... mereka sungguh muda.. anak anak muda... aku juga pernah menjadi mereka, duduk diam diatas bangku bangku kayu yang kaku, kemudian mendengar petuah petuah guru yang dulu aku sebut kolot dan membosankan. Oh... mereka sungguh muda, bahkan aku masih ingat betul pernah menjadi remaja remaja berseragam abu abu putih seperti mereka, aku pernah menjadi seperti mereka yang merasa mulai dewasa dan paling benar. Ya.. beberapa tahun yang lalu aku adalah mereka, dan aku menyesali masa masa itu.

Kuamati lagi satu persatu murid murid itu, mereka cantik, mereka hitam, mereka pendek, tinggi, para gadis berjilbab, para lelaki berambut cepak, beberapa yang lain rambutnya panjang bergaya anak band. Menyedihkan... menyenangkan... kasihan...
Beberapa rasa tiba tiba serentak beradu dalam batinku, hingga tak mampu menciptakan mimik muka yang menarik di wajahku pagi itu.

Aku ingat betul.... justru karena aku ingat betul pernah menjadi manusia setengah setengah seperti mereka, justru karena aku tau betapa merugi membuang masa sma hanya dengan bermain main atau sibuk gengsi dan gaya belaka, justru itu aku tau.. aku terlalu tau hingga kini aku telah sadar.. betapa banyak kutumpahkan waktuku diperjalanan dengan sia sia, betapa aku pernah lama sekali mendholimi diriku sendiri... Karena itulah aku merasa cukup aku yang pernah begitu, jangan kalian.
Aku ingin kalian sadar, murid murid manisku.., bahwa percuma sibuk dengan kawan, lawan, suka palsu, main main, dan haha hihi mu itu... percuma.. sungguh lebih baik kau rintis masa depan dan kau bangun istana mimpimu, hingga saat dewasa yang sesungguhnya telah tiba.. kau tak merasa kosong, kau tak melompong.

Berhentilah menipu orang lain terlebih menipu dirimu, berhenti murid murid sayangku.. cukup aku... cukup aku sebagai gurumu kali ini, yang pernah merasa sia sia di masa lalu, jangan kalian./ Hamidah 08:18 pm

19 Juni 2014

The Fish and A Ring


;
sumber: weheartit.com/entry/80339964/
I had a story titled
"The Fish And A Ring" 
this story tell us about King that can guess what will happen in the future, or maybe its known with a fortune teller. 


One day, the King seeing something about what will happen with his son, that still child. and he is very surprised and dismey (worry) because in the future his son will marry with a poor girl. 

so the king decided to go tho the poor girl's house. after found the home, he saw a doleful  (very sad; murung) man in front of the door. so he asked to the man, "What happened to you, why you look so doleful?"

"Its because i had a six child, and i cant give them some food." said the man.

"Dont be sad again, i will bring your last child, and i will keep your child. dont worry, i promise" The king looks very wise.

of course the old man happy when hear that, finally he give his child.

but, when the king pass the river, he throw away the child, because he dont want his son married with the poor girl in the future.

Nice fate happened to the poor child, he floating in the river and a fisherman found her. 

then, someday when the king going to fishing in the river with his friend, they are very thirsty, and then stopped in fisherman hut.

The King very surprised when know a girl that he throw away in the past still alive. so he planning to throw the girl to the forest far away from the city. 

the next day, the king's son going to hunting animals in the forest, and the fate happened, he meet with the poor girl, and falling in love. he wed the girl, and live happily ever after.

(I get this story from digital book stories in "Play Store", so if you wanna read another story, grab that fast! enjoy)