![]() |
| Gambar Rara Anteng dan Joko Seger yang Kehilangan Anaknya |
2 Mei 2017
Mitologi Gunung Bromo
Mitologi Merapi
![]() |
| Mitologi Merapi |
Menghabiskan long weekend di Kota Budaya Jogja tentu saja bagiku tak pernah membosankan. Beruntung sekali aku berkesempatan domisili di Provinsi ini. Setelah beberapa saat lalu memilih untuk jalan-jalan ke Puncak Suroloyo sebagaimana sempat kuceritakan melalui caption di Instagramku adalah tempat bertapa Pangeran Diponegoro, dan hingga kini masih menjadi tempat dilakukannya upacara adat tiap malam 1 Suro. Berbeda dengan minggu ini, aku dan temanku memilih untuk berjalan-jalan ke Museum Gunung Merapi.
![]() |
| Replikas Gunung Merapi dengan Simulasi letusannya |
![]() |
| Pintu Masuk atau Bagian Depan Museum Gunung Merapi |
Mitos Merapi. “Nyai Gadung Melati”
19 April 2017
Buya Hamka bicara Tuhan
Dikutip dari Buku karangan Buya Hamka
Anai-anai (lelatu, semut bersayap, laron dalam Bahasa Jawa) "Berilah aku izin mendekatimu hai lampu, aku ingin cahayamu yang terang benderang itu."
"Sia-sia... semata-mata sia-sia permintaanmu. Sebab keinginanmu itu mesti bertemu dengan bahaya" Jawab lampu.
"Bahaya apakah gerangan itu, tuan lampu?"
"Di dalam perjalanan engkau akan bertemu dengan burung layang-layang, engkau dijadikannya mangsa."
"Itu bukan bahaya, tuanku. Itu adalah keberuntungan, mati dalam menempuh cita-cita."
"Sia-sia, semata-mata sia-sia perbuatanmu itu."
"Mengapa tuan katakan sia-sia orang yang mencintai cahaya tuan?"
"Tidakkah engkau lihat, bangsamu telah jatuh tersungkur, mati bertimbun-timbun di bawah naunganku, lantaran mencari cahayaku?"
"Itu bukanlah sia-sia, ya tuanku. Itu adalah keberuntungan. Kami datang dari tempat yang jauh-jauh mencari cahaya karena kami tak tahan gelap. Kami datang ke dekatmu, berkeliling mencari cahaya. Berilah kami mati lantaran panasnya cahaya itu, bagi kami kematian itulah kelezatan."
"Tidakkah kamu ngeri melihat bangkai yang tertimbun itu?"
"Biarlah bangkai bertimbun,ya tuanku. Bertimbun dan mati di bawah naunganmu. Kami cari cahayamu, setelah maksud kami hasil, biarlah kematian datang, asal kami diridhakan datang."
Maka bertimbunlah bangkai, sedang yang datang masih banyak, dan yang akan datang, masih dalam perjalanan.
(Syair dari seorang Sufi, memisalkan seorang mukmin mencari Nur Tuhannya)
18 April 2017
Rosihan di mata Ina Ratna
Sejak masa muda saya tidak pernah mempercayai "kesan pertama" tentang seseorang. Selalu saya berikan orang kesempatan untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Hal ini selalu saya tanamkan kepada yang lebih muda-muda, termasuk mahasiswa-mahasiswa saya di fakultas. Rasanya memang tidak bijaksana untuk cepat-cepat menjatuhkan penilaian atas diri seseorang. Inipun saya kemukakan ketika mereka mengemukakan kecaman yang sama mengenai Uda Cian (Rosihan Anwar).
--- Kutipan tulisan Ina Ratna Mariani S. (Dosen FISIP UI) dalam buku Wartawan Aneka Citra, buku 70 tahun Rosihan Anwar
Manakah yang lebih dulu?
Manakah yang lebih penting, kompetensi atau integritas? Pintar atau Jujur?
Pertanyaan di atas diutarakan oleh Prof. Bagir Manan mantan Ketua Dewan Pers periode lalu dalam sambutannya pada Uji Kompetensi Wartawan yang diselenggarakan PWI Jaya tahun 2015 lalu.
Data menunjukkan jumlah wartawan Indonesia adalah 70.000, sumber lain menyebut 100.000. Namun hingga saat ini baru kurang lebih 6500 wartawan yang lulus dan memiliki sertifikat dan kartu uji kompetensi wartawan. Miris sekali. Beliau dalam pidatonya tersebut kembali bertanya:
"Apakah segala keadaan yang merisaukan sekarang ini sekedar karena krisis integritas atau krisis kompetensi atau kapasitas?"
Jawaban atas pertanyaannya tersebut kemudian dipaparkan Prof. Bagir Manan melalui fakta bahwa pada saat ini kita sedang heboh dengan berbagai gelar kesarjanaan palsu. Yang belum ditelusuri betapa banyak gelar yang asli tapi tidak disertai kompetensi atau kapasitas sesuai tingkatan gelar yang diperoleh. Hal ini terjadi karena beberapa alasan:
Pertama, gelar kesarjanaan dipandang sebagai suatu bentuk untuk masuk kelas baru yang akan memesona publik. (lihat Milovan Jilas: The New Class). Kedua, komersialisasi lembaga keilmuan, yakni bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tetapi sebagai lembaga ekonomi. Ketiga, kendali birokrasi yang lemah, buktinya mudah sekali bagi suatu lembaga pendidikan diberi hak menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran keilmuan baik jenjang S1, S2, maupun S3, tanpa sungguh-sungguh memeriksa semua kelengkapan yang wajib dimiliki untuk menyelenggarakan suatu program keilmuan. Keempat, kehadiran para "brutus" yang melegalkan cara apapun untuk mewujudkan kenikmatan diri sendiri (asosial).
Berdasarkan fenomena diatas, Prof. Bagir Manan menyampaikan betapa perlunya mengedepankan kompetensi yang dilekati dengan integritas.
"We need the most highly competence with the most highly integrity. Not only the most highly integrity but less or without competence".
27 Juli 2016
3 hari 2 malam di Khon Kaen, Thailand
![]() |
| Thai Muslim Halal Food :) |
Pertama kalinya saya memastikan bisa membeli makanan 100% halal di sini, sebab selama ini saya selalu merasa tak yakin dengan semua yang saya makan sehingga tak jarang lebih memilih roti.
Kami bertemu 2 rekannya yang berasal dari Yala (daerah perbatasan Thailand dan Malaysia, yakni Thailand Selatan, yang memang didominasi kaum muslim).
Perbincangan kami makin lengkap kala datang Yee (rekan Mastura juga yang baru masuk islam Ramadhan lalu). Ia ceritakan kisahnya sampai berderai air mata dan mengundang haru juga di pelupuk mata kami. Ia ceritakan bahwa menemukan hidayah ini sungguhlah sulit. Ia harus bersitegang dengan Ibu dan neneknya dan tidak saling bicara selama 4 bulan. Ia sadari mungkin itu adalah bagian dari ujian Allah yang ingin mengetahui keseriusannya dalam memilih agama islam.
Saya terlahir dari keluarga muslim, kakek nenek saya dan seluruh nasab saya adalah muslim. Bahkan Indonesia memang mayoritas muslim, tak pernah sekalipun saya kesulitan menemukan masjid untuk shalat 5 waktu, pun shalat sunnah.
Seharusnya keimanan saya lebih baik dari mualaf yang baru faham islam kurang dari 1 tahun, seharusnya saya sholat di Indonesia lebih tepat waktu daripada mereka disini yang kesulitan menemukan masjid.
Pilihan tepat menghabiskan waktu di Khon Kaen dan bertemu kalian, terimakasih rekan-rekan :)
![]() |
| ini waktu pertama makan malam di Khon Kaen dan bertemu rekan-rekan muslim club KKU |
![]() |
| di depan rumah makan halal di Khon Kaen |
![]() |
| remulan menjelang purnama di langit Khon Kaen, walking street |
![]() |
| meninggalkan pesan tempel untuk muslim club KKU di Sri Brown Cafe, Khon Kaen |
mengenal kalian lebih dekat #sawasdee19
Seperti hari biasanya aku selalu rajin mengamati mereka selama belajar dan menulis. Satu persatu wajah kucermati tak henti-henti.
![]() |
| tulisan perempuan, selalu rapi :* |
![]() |
| tulisan murid laki-laki, hmm mohon dicermati sendiri hehe :) |
![]() |
| muridku yang manis, jadilah lebih baik dariku kedepannya :') |
16 Desember 2015
#pagiperpustakaan lepas dari tiga bulan :')
18 September 2015
Penjaja Koran dan Free Wifi
#pagiperpustakaan kali ini lagi ogah bahas skripsi hehehe, sebenernya bukan apa-apa sih, tapi karena ada hal lain yang lebih menarik perhatianku pagi ini di perpustakaan, selain berlembar-lembar kisah hidup Pak Rosihan Anwar :)












