2 Mei 2017

Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’



Masih di lokasi yang sama yakni Museum Gunung Merapi, aku menemukan gambar ini, lengkap dengan keterangan sebagaimana berikut:


“Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’.
Diantara sekian banyak tokoh makhluk halus yang dipercaya menempati Kraton Gunung Merapi ada satu tokoh yang paling terkenal dan dicintai oleh penduduk daerahnya, bernama ‘Nyai Gadung Melati’ yang tinggal di Gunung Wutoh. Dia berperan sebagai pemimpin pasukan makhluk halus Merapi dan pelindung lingkungan daerahnya, termasuk memelihara kehijauan tanaman dan kehidupan hewan. ‘Nyai Gadung Melati’ juga sering muncul di mimpi-mimpi penduduk sekitar kaki Gunung Merapi sebagai pertanda Merapi akan meletus, dalam mimpi penduduk ‘Nyai Gadung Melati’ disebutkan berparas cantik dan berpakaian warna hijau daun melati.”

Cerita diatas seketika mengingatkan ku akan sebuah pertanyaan dosen kami dikelas, “Kenapa hantu atau makhluk halus di Indonesia cenderung digambarkan dalam sosok perempuan? Padahal di luar negeri ada makhluk-makhluk seperti vampir, dracula, dll yang berjenis kelamin laki-laki. Apakah kalian tau alasannya? Itu bisa dijadikan penelitian lho”, begitu kira-kira kata beliau.
Pertanyaan yang sama pun coba aku lontarkan pada temanku kala itu, terkait dengan ‘Nyai Gadung Melati’ mengapa harus berjenis kelamin perempuan. Analisisnya cukup menarik, menurut dia mengapa sosok ‘Nyai Gadung Melati’ itu perempuan, karena perempuan diidentikkan dengan kesuburan. Kala itu, tentu mata pencahariaan penduduknya sebagian besar adalah bercocok tanam atau petani, sehingga mereka menganggap bahwa kesuburan adalah yang suatu hal penting dan utama dalam hidupnya.
Manusia sebagaimana kita ketahui, awalnya hidup nomaden atau berpindah-pindah dari satu goa menuju goa lainnya dan mendapatkan makan dengan cara berburu. Namun kemudian paradaban berkembang, sehingga yang awalnya nomaden menjadi sedenter yakni hidup menetap. Di masa inilah, mereka tidak lagi berburu tapi mengolah suatu bidang tanah untuk kebutuhan pangannya dan kelangsungan hidupnya. Pada masa ini manusia berfokus pada kesuburan dan hal itu menjadi sangat penting, mereka pun menganggap perempuan identik dengan kesuburan karena perempuan mengandung dan melahirkan anak. Disaat itu pula, pengetahuan manusia yang masih sangat terbatas mengira bahwa perempuan lah satu-satunya pihak yang berperan atas kelahiran anggota baru dalam sebuah keluarga tanpa mengetahui bahwa laki-laki juga berperan. Posisi perempuan kala itu dipandang lebih atas daripada laki-laki.
Peradaban kembali berkembang, manusia yang awalnya membutuhkan sepetak tanah saja untuk ditanami dan cukup untuk makan sekeluarga, merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan sekunder lainnya, sehingga tanah yang dimiliki tak cukup hanya sepetak dua petak. Mereka ingin memperluas kepemilikan lahan, satu-satunya cara untuk memperluas dan menguasai lahan-lahan lain yang sudah dimiliki orang adalah dengan menaklukkan pihak lain tersebut melalui jalan peperangan. Peperangan tentu saja lebih banyak didominasi oleh kaum adam. Dari peperangan inilah, masyarakat mulai melihat bahwa posisi laki-laki lebih diatas daripada perempuan. Selain itu, pengetahuan mulai berkembang dan mereka mulai mengetahui bahwa laki-laki juga turut berperan dalam proses terbentuknya janin di dalam rahim, hingga lahir menjadi seorang bayi.
Kini, di zaman modern, peperang sudah mulai ditinggalkan karena penguasaan lahan tidak harus dilakukan dengan cara kekerasan dan peperangan. Selain itu, era masyarakat pertanian sudah mulai bergeser menuju era masyarakat industri lah. Dalam masyarakat industri, bukan hanya laki-laki saja yang bekerja dan berperan namun perempuan juga ikut bekerja, sehingga kini kerap kita dengar upaya penyetaraan gender sehingga perempuan dapat diakui dan berada pada posisi yang sama dengan laki-laki. Tidak ada yang lebih unggul antara keduanya.


Referensi: Buku Riwayat Peradaban, karya Larry Gonick. 

Mitologi Gunung Bromo

Gambar Rara Anteng dan Joko Seger yang Kehilangan Anaknya 
Di museum Gunung Merapi ini, sebagaimana kuceritakan sebelumnya, selain memuat informasi dan sejarah mengenai Gunung Merapi, juga memuat informasi tentang berbagai gunung yang ada di Indonesia bahkan dunia, salah satunya adalah mitos mengenai Gunung Bromo yang ada di Jawa Timur. Karena aku berasal dari Jawa Timur dan lokasi Gunung Bromo tak cukup jauh dari rumahku, tentu saja informasi yang berkaitan dengan gunung ini membuatku tertarik, meskipun aku belum pernah kesana secara langsung hehe semoga segera ada kesempatan ya.
Dibawah gambar itu, diberikan keterangan sebagaimana gambar-gambar yang lainnya, sebagaimana berikut:

“Legenda Gunung Bromo berkaitan dengan kawasan Tengger. Menurut Legenda, pada akhir abad 15, seseorang putri keturunan Kerajaan Majapahit, Rara Anteng, menikah dengan Joko Seger. Nama Tengger merupakan perpaduan dari akhir nama Rara Anteng (Teng) dan Joko Seger (Ger).
Setelah beberapa lama pasangan tersebut berumah tangga, belum juga dikaruniai keturunan, kemudian diputuskanlah untuk naik ke puncak gunung Bromo untuk bersemedi dengan penuh kepercayaan kepada Yang Maha Kuasa agar dikaruniai keturunan. Permintaan mereka akhirnya dikabulkan dengan syarat anak bungsu harus dikorbankan ke dalam kawah Bromo.
Setelah pasangan tersebut menyanggupinya, didapatkannya 25 orang putra-putri, namun naluri orang tua tetaplah tidak tega bila kehilangan putra putrinya, sehingga Rara Anteng dan Joko Seger ingkar janji. Dewa menjadi marah, kemudian terjadilah prahara keadaan menjadi gelap gulita, kawah Gunung Bromo menyemburkan api. Anak bungsunya bernama Raden Kesuma lenyap dari pandangan, dia terjilat api dan masuk ke kawah Bromo. Bersamaan hilangnya Kesuma terdengar suara gaib “Saudara-saudara ku yang kucintai, aku telah dikorbankan oleh orang tua kita dan Sang Hyang Widi menyelamatkan kalian semua. Hiduplah damai dan tentram, sembahlah Sang Hyang Widi. Aku ingatkan kalian agar setiap bulan Kasada yang ke-14 mengadakan sesaji berupa buah-buahan, sayuran, bunga, dan binatang piaraan kepada Syang Hyang Widi di kawah Gunung Bromo.”

Membaca tulisan tersebut, tiba-tiba temanku yang sama sebagaimana aku ceritakan diatas memberikan pandangannya (kali ini tanpa kutanya hehe). Menurutnya mitos Gunung Bromo tersebut memiliki kesamaan dengan kisah Nabi Adam dan Siti Hawa yang memiliki 25 orang anak, dan bagian yang sama pula terletak pada hilangnya satu diantara 25 anak tersebut. Namun dalam kisah Nabi Adam, beliau kehilangan anaknya yang bernama Habil karena dibunuh oleh saudara kandungnya sendiri yakni Qabil.
Menurut temanku, ia pernah membaca sebuah buku berjudul Atlantis, the Lost Continent Finally Found karya dari Prof. Arysio Nunes dos Santos seorang ahli geologi berkebangsaan Brazil, yang diterbitkan oleh Atlantis Publications. Dalam buku tersebut dijelaskan bahwa dalam setiap peradaban akan selalu ada sebuah cerita yang sama dengan kisah-kisah diperadaban-peradaban lain sebelumnya, hanya sedikit dirombak di beberapa sisi agar tak benar-benar sama. Entah apakah Mitos Gunung Bromo ini memang begitu adanya atau peradaban kala itu mencoba untuk membangun cerita yang terinspirasi dari kisah Nabi Adam dan Siti Hawa.

Mitologi Merapi

Mitologi Merapi

Menghabiskan long weekend di Kota Budaya Jogja tentu saja bagiku tak pernah membosankan. Beruntung sekali aku berkesempatan domisili di Provinsi ini. Setelah beberapa saat lalu memilih untuk jalan-jalan ke Puncak Suroloyo sebagaimana sempat kuceritakan melalui caption di Instagramku adalah tempat bertapa Pangeran Diponegoro, dan hingga kini masih menjadi tempat dilakukannya upacara adat tiap malam 1 Suro. Berbeda dengan minggu ini, aku dan temanku memilih untuk berjalan-jalan ke Museum Gunung Merapi.

Terdengar membosankan ya? “Anak muda jalan-jalan kok ke museum? Mau jadi ahli sejarah po?” begitu barangkali pertanyaan yang dilontarkan sebagian orang jika dituliskan dalam logat khas jogja.
Tapi bagi kami, sejarah itu hal yang tak hanya melulu perlu dijamah oleh orang tua saja, sejarah adalah bagimana kita mengetahui dan belajar dari masa lalu untuk kemudian menjadi lebih baik dimasa kini dan masa depan. Bahkan karena ketertarikan dengan hal-hal berbau sejarah yang cukup besar, kami memiliki cita-cita yang terdengar sedikit utopis tapi sungguh ingin kami wujudkan yakni menjadi penyokong utama dalam hal dana untuk pembangunan museum indonesia berkelas internasional. Hehehhe. Tak salah kan bermimpi besar?

Jalur yang tempuh mudah saja, yakni mengikuti sepanjang Jalan Kaliurang, lalu belok ke kiri. Kami sebagai perantau mudah menemukan lokasi ini tentu saja karena berbekal petunjuk Google Maps. Kami hanya perlu membayar tiket sebesar 5000 rupiah saja, untuk dapat menyelam dalam lautan sejarah meletusnya gunung merapi dan juga gunung-gunung yang lain. Nah... ini sisi menariknya, meskipun bernama Museum Gunung Merapi, tapi museum ini juga memberikan informasi terkait gunung-gunung di Indonesia bahkan di seluruh dunia. Terbaik memang.

Pada bagian pintu masuk, kami akan disuguhi dengan replika Gunung Berapi yang nampak sungguh megah. Replika ini dilengkapi dengan 4 tombol, 1 tombol berwarna merah dan tiga lainnya berwarna hijau. Satu tombol merah diberi keterangan “Narasi”, tentu saja sesuai dengan fungsinya, yakni ketika kita tekan tombolnya maka akan terdengar narasi penjelasan meletusnya gunung merapi. Sedangkan, tiga tombol hijau lainnya bertuliskan masing-masing tahun meletusnya Gunung Merapi, yang jika kita tekan maka replika akan bergetar dan mengeluarkan suara menggelegar lengkap dengan keluarnya asap dari bagian puncak replika Gunung Merapi.

Selanjutnya.. perjalanan kami pun dimulai dengan menyusuri museum dari bagian kanan memutar ke arah kiri museum.
Ada hal yang menarik kami jumpai, yakni lukisan dari Aloysius Heri, ia memberikan keterangan atas dirinya dalam lukisan tersebut sebagai seorang Petani dan Pelukis.
Lukisan itu cukup besar, berbentuk persegi panjang. Pada bagian kiri lukisan nampak gunung merapi lengkap dengan laharnya yang memerah dan seolah membakar manusia-manusia. Sedangkan di sisi kiri, ada lautan dan ombak yang membuncah dan memporak porandakan sekitarnya. Yang menarik, dibagian tengahnya ada gambar Keraton Yogyakarta yang terlindungi oleh sebuah lingkaran transparan. Awalnya kami hanya menerka-nerka, namun terkaan kami segera dijawab oleh keterangan tulisan yang terletak dibagian bawah lukisan tersebut.

“Banyak mitos yang berkembang di masyarakat terutama yang tinggal di sekitar lereng merapi. Yang paling menonjol adalah keberadaan Eyang Sapu Jagad, sosok gaib penunggu Gunung Merapi. Berbicara tentang Eyang Sapu Jagad tidak dapat dilepaskan dari Kanjeng Ratu Kidul, sosok gaib penunggu Laut Selatan.
Berawal dari Sutawijaya (kemudian bergelar Panembahan Senopati) anak dari Ki Ageng Pemanahan, bertapa di panta laut selatan. Dalam laku tapa tersebut Sutawijaya bertemu, berkenalan, saling jatuh cinta dan menikah dengan Kanjeng Ratu Kidul. Sutawijaya mengutarakan niatnya untuk membangun kerajaan baru. Singkat cerita, Kanjeng Ratu Kidul berkenan membantu dengan sepenuh hati. Sebagai tanda kesungguhan dan cintanya, Kanjeng Ratu Kidul menghadiahi “Ndhog Jagad” yang kemudian dititipkan kepada Kyai Sapu Jagad.
Apa yang ingin disampaikan dari mitologi diatas adalah bahwa Sapu Jagad berarti menyapu jagad, sapunya jagad dunia. Jagad yang dimaksud adlah diri pribadi manusia, jagad cilik dunia kecil (mikrokosmos) dengan demikian sapu jagad adalah konsep spiritualistis dalam kesadaran membersihkan diri pribadi, hati dan pikiran. Sedang Kanjeng Ratu Kidul berasal dari kata “rat” yang berarti maha luas, tak terbatas. Ide, pemikiran pemikiran manusia sering kali tak terbatas, untuk itu dalam mewujudkan itu dalam keterbatasan diperlukan batasan-batasan berupa simbol untuk mewujudkan, membumikan ide, gagasan manusia. Endhog Jagad, endhog berarti telur sifatnya embriotik, bakal. Apa yang dilakukan Suta Wijaya adalah mentranplantasi sebuah gagasan abstrak kedalam realita melalui pergulatan batin, bersih diri, dan akhirnya mendapatkan pencerahan, maka dia berdiri di barisan paling depan untuk mewujudkan berdirinya kerajaan baru Mataram. Eksistensi Mataram saat itu boleh jadi karena tuntutan kebutuhan, kebutuhan akan perlunya “peradaban baru”.
Mitologo Merapi Laut Selatan sudah saatnya kita sikapi dengan cara pandang modern, kita perlu menenggelamkan dan memperabukan pemikiran dan cara pandang lama, mengganti dengan yang baru. Dengan niat sungguh-sungguh, hati bersih, sepi ing pamrih rame ing gawe, kita akan mampu memamfaatkan potensi sumber daya alam yang ada di Gunung Merapi maupun Laut Selatan untuk kepentingan rakyat banyak. Dengan demikian layaklah kita disebut sebagai manusia beradab yang hidup di dalam peradaban baru.
Aloysius Heri – petani, pelukis”

Demikian paragraf demi paragraf yang coba ditulis untuk menggambarkan sejarah Gunung Merapi dan kaitannya dengan Keraton juga Pantai Selatan. Menarik sekali membacanya, namun tulisan tersebut justru menimbulkan sederet pertanyaan yang berjajar panjang dibalik kepala ini. Apa fungsi Ndhog Jagad? Kenapa Kanjeng Ratu Kidul menghadiahkan hal tersebut sebagai bukti kesungguhannya? Kenapa pula Ndhog Jagad harus dititipkan pada Kyai Sapu Jagad? Kenapa pada bagian awal, penulis menyebutkan Eyang Sapu Jagad dan pada paragraf selanjutnya menyebut dengan Kyai Sapu Jagad? Hehe. Terlalu skeptis ya hehe. Tapi pertanyaan itu muncul begitu saja, tiba-tiba berhamburan bagai letup kembang api yang baru dipertemukan dengan ujung korek gesek. Padahal aku tau ini hanyalah mitos atau mitologi, yang dijelaskan pula oleh si penulis, bahwa sebagai makhluk beradab di peradaban baru sudah seharusnya kita menyikapi cerita tersebut dengan cara pandang masa kini. Hehe, tapi lagi-lagi aku masih skeptis.

Salah satu temanku yang sangat menyukai bidang sejarah dan memiliki analisis yang tajam pun mencoba membantuk keluar dari kebuntuan di otak akibat skeptis berlebihan ini.
Menurut teman saya, cerita Sutawijaya tersebut memiliki nada yang sama dengan cerita yang pernah ia pernah pada sebuah buku berjudul “Sejarah Indonesia Modern” sebuah terjemahan dari karya M.C. Ricklefs seorang peneliti dari Australian National University. Dalam buku tersebut M.C. Ricklefs menyampaikan cerita kelahiran kerajaan-kerajaan di Nusantara, salah satunya Samudrapasai. Dikisahkan bahwa raja pertama Samudrapasai bermimpi dipegang kepalanya oleh Nabi Muhammad lalu seketika ia mampu menghafal Al-Quran dan melegitimasi dirinya sebagai seseorang yang ditunjuk Allah untuk menjadi Raja.

Singkatnya, temanku ini menyampaikan analisisnya bahwa cerita-cerita jaman dahulu selalu menggunakan religius magis (istilah dalam bahasa hukum adat) untuk melegitimasi kekuasaan. Sutawijaya melegitimasi kekuasaannya di Kerajaan Mataram menggunakan cerita tentang pernikahannya dengan Nyi Roro Kidul, sedangkan Raja Samudera Pasai melegitimasi dirinya dengan menggunakan cerita tentang mimpi bertemu Nabi.  Keduanya memiliki nada dan corak cerita yang sama. 

Replikas Gunung Merapi dengan Simulasi letusannya
Pintu Masuk atau Bagian Depan Museum Gunung Merapi


Mitos Merapi. “Nyai Gadung Melati”

Masih di lokasi yang sama yakni Museum Gunung Merapi, aku menemukan gambar ini, lengkap dengan keterangan sebagaimana berikut:
“Mitos Merapi ‘Nyai Gadung Melati’.
Diantara sekian banyak tokoh makhluk halus yang dipercaya menempati Kraton Gunung Merapi ada satu tokoh yang paling terkenal dan dicintai oleh penduduk daerahnya, bernama ‘Nyai Gadung Melati’ yang tinggal di Gunung Wutoh. Dia berperan sebagai pemimpin pasukan makhluk halus Merapi dan pelindung lingkungan daerahnya, termasuk memelihara kehijauan tanaman dan kehidupan hewan. ‘Nyai Gadung Melati’ juga sering muncul di mimpi-mimpi penduduk sekitar kaki Gunung Merapi sebagai pertanda Merapi akan meletus, dalam mimpi penduduk ‘Nyai Gadung Melati’ disebutkan berparas cantik dan berpakaian warna hijau daun melati.”

Cerita diatas seketika mengingatkan ku akan sebuah pertanyaan dosen kami dikelas, “Kenapa hantu atau makhluk halus di Indonesia cenderung digambarkan dalam sosok perempuan? Padahal di luar negeri ada makhluk-makhluk seperti vampir, dracula, dll yang berjenis kelamin laki-laki. Apakah kalian tau alasannya? Itu bisa dijadikan penelitian lho”, begitu kira-kira kata beliau.
Pertanyaan yang sama pun coba aku lontarkan pada temanku kala itu, terkait dengan ‘Nyai Gadung Melati’ mengapa harus berjenis kelamin perempuan. Analisisnya cukup menarik, menurut dia mengapa sosok ‘Nyai Gadung Melati’ itu perempuan, karena perempuan diidentikkan dengan kesuburan. Kala itu, tentu mata pencahariaan penduduknya sebagian besar adalah bercocok tanam atau petani, sehingga mereka menganggap bahwa kesuburan adalah yang suatu hal penting dan utama dalam hidupnya.
Manusia sebagaimana kita ketahui, awalnya hidup nomaden atau berpindah-pindah dari satu goa menuju goa lainnya dan mendapatkan makan dengan cara berburu. Namun kemudian paradaban berkembang, sehingga yang awalnya nomaden menjadi sedenter yakni hidup menetap. Di masa inilah, mereka tidak lagi berburu tapi mengolah suatu bidang tanah untuk kebutuhan pangannya dan kelangsungan hidupnya. Pada masa ini manusia berfokus pada kesuburan dan hal itu menjadi sangat penting, mereka pun menganggap perempuan identik dengan kesuburan karena perempuan mengandung dan melahirkan anak. Disaat itu pula, pengetahuan manusia yang masih sangat terbatas mengira bahwa perempuan lah satu-satunya pihak yang berperan atas kelahiran anggota baru dalam sebuah keluarga tanpa mengetahui bahwa laki-laki juga berperan. Posisi perempuan kala itu dipandang lebih atas daripada laki-laki.
Peradaban kembali berkembang, manusia yang awalnya membutuhkan sepetak tanah saja untuk ditanami dan cukup untuk makan sekeluarga, merasa perlu untuk memenuhi kebutuhan sekunder lainnya, sehingga tanah yang dimiliki tak cukup hanya sepetak dua petak. Mereka ingin memperluas kepemilikan lahan, satu-satunya cara untuk memperluas dan menguasai lahan-lahan lain yang sudah dimiliki orang adalah dengan menaklukkan pihak lain tersebut melalui jalan peperangan. Peperangan tentu saja lebih banyak didominasi oleh kaum adam. Dari peperangan inilah, masyarakat mulai melihat bahwa posisi laki-laki lebih diatas daripada perempuan. Selain itu, pengetahuan mulai berkembang dan mereka mulai mengetahui bahwa laki-laki juga turut berperan dalam proses terbentuknya janin di dalam rahim, hingga lahir menjadi seorang bayi.
Kini, di zaman modern, peperang sudah mulai ditinggalkan karena penguasaan lahan tidak harus dilakukan dengan cara kekerasan dan peperangan. Selain itu, era masyarakat pertanian sudah mulai bergeser menuju era masyarakat industri lah. Dalam masyarakat industri, bukan hanya laki-laki saja yang bekerja dan berperan namun perempuan juga ikut bekerja, sehingga kini kerap kita dengar upaya penyetaraan gender sehingga perempuan dapat diakui dan berada pada posisi yang sama dengan laki-laki. Tidak ada yang lebih unggul antara keduanya.
Referensi: Buku Riwayat Peradaban, karya Larry Gonick. 

19 April 2017

Buya Hamka bicara Tuhan

Dikutip dari Buku karangan Buya Hamka

Anai-anai (lelatu, semut bersayap, laron dalam Bahasa Jawa) "Berilah aku izin mendekatimu hai lampu, aku ingin cahayamu yang terang benderang itu."

"Sia-sia... semata-mata sia-sia permintaanmu. Sebab keinginanmu itu mesti bertemu dengan bahaya" Jawab lampu.

"Bahaya apakah gerangan itu, tuan lampu?"

"Di dalam perjalanan engkau akan bertemu dengan burung layang-layang, engkau dijadikannya mangsa."

"Itu bukan bahaya, tuanku. Itu adalah keberuntungan, mati dalam menempuh cita-cita."

"Sia-sia, semata-mata sia-sia perbuatanmu itu."

"Mengapa tuan katakan sia-sia orang yang mencintai cahaya tuan?"

"Tidakkah engkau lihat, bangsamu telah jatuh tersungkur, mati bertimbun-timbun di bawah naunganku, lantaran mencari cahayaku?"

"Itu bukanlah sia-sia, ya tuanku. Itu adalah keberuntungan. Kami datang dari tempat yang jauh-jauh mencari cahaya karena kami tak tahan gelap. Kami datang ke dekatmu, berkeliling mencari cahaya. Berilah kami mati lantaran panasnya cahaya itu, bagi kami kematian itulah kelezatan."

"Tidakkah kamu ngeri melihat bangkai yang tertimbun itu?"

"Biarlah bangkai bertimbun,ya tuanku. Bertimbun dan mati di bawah naunganmu. Kami cari cahayamu, setelah maksud kami hasil, biarlah kematian datang, asal kami diridhakan datang."

Maka bertimbunlah bangkai, sedang yang datang masih banyak, dan yang akan datang, masih dalam perjalanan.

(Syair dari seorang Sufi, memisalkan seorang mukmin mencari Nur Tuhannya)

18 April 2017

Rosihan di mata Ina Ratna

Sejak masa muda saya tidak pernah mempercayai "kesan pertama" tentang seseorang. Selalu saya berikan orang kesempatan untuk menunjukkan dirinya yang sebenarnya. Hal ini selalu saya tanamkan kepada yang lebih muda-muda, termasuk mahasiswa-mahasiswa saya di fakultas. Rasanya memang tidak bijaksana untuk cepat-cepat menjatuhkan penilaian atas diri seseorang. Inipun saya kemukakan ketika mereka mengemukakan kecaman yang sama mengenai Uda Cian (Rosihan Anwar).

--- Kutipan tulisan Ina Ratna Mariani S. (Dosen FISIP UI) dalam buku Wartawan Aneka Citra, buku 70 tahun Rosihan Anwar

Manakah yang lebih dulu?

Manakah yang lebih penting, kompetensi atau integritas? Pintar atau Jujur?

Pertanyaan di atas diutarakan oleh Prof. Bagir Manan mantan Ketua Dewan Pers periode lalu dalam sambutannya pada Uji Kompetensi Wartawan yang diselenggarakan PWI Jaya tahun 2015 lalu.
Data menunjukkan jumlah wartawan Indonesia adalah 70.000, sumber lain menyebut 100.000. Namun hingga saat ini baru kurang lebih 6500 wartawan yang lulus dan memiliki sertifikat dan kartu uji kompetensi wartawan. Miris sekali. Beliau dalam pidatonya tersebut kembali bertanya:
"Apakah segala keadaan yang merisaukan sekarang ini sekedar karena krisis integritas atau krisis kompetensi atau kapasitas?"
Jawaban atas pertanyaannya tersebut kemudian dipaparkan Prof. Bagir Manan melalui fakta bahwa pada saat ini kita sedang heboh dengan berbagai gelar kesarjanaan palsu. Yang belum ditelusuri betapa banyak gelar yang asli tapi tidak disertai kompetensi atau kapasitas sesuai tingkatan gelar yang diperoleh. Hal ini terjadi karena beberapa alasan:
Pertama, gelar kesarjanaan dipandang sebagai suatu bentuk untuk masuk kelas baru yang akan memesona publik. (lihat Milovan Jilas: The New Class). Kedua, komersialisasi lembaga keilmuan, yakni bukan untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tetapi sebagai lembaga ekonomi. Ketiga, kendali birokrasi yang lemah, buktinya mudah sekali bagi suatu lembaga pendidikan diberi hak menyelenggarakan pendidikan dan pengajaran keilmuan baik jenjang S1, S2, maupun S3, tanpa sungguh-sungguh memeriksa semua kelengkapan yang wajib dimiliki untuk menyelenggarakan suatu program keilmuan. Keempat, kehadiran para "brutus" yang melegalkan cara apapun untuk mewujudkan kenikmatan diri sendiri (asosial).

Berdasarkan fenomena diatas, Prof. Bagir Manan menyampaikan betapa perlunya mengedepankan kompetensi yang dilekati dengan integritas.
"We need the most highly competence with the most highly integrity. Not only the most highly integrity but less or without competence".

27 Juli 2016

3 hari 2 malam di Khon Kaen, Thailand

Akhir pekan ini thailand akan bonus liburan panjang sebab perayaan hari budha selama 5 hari. Awalnya tak hendak pergi kemana-mana dan berencana stay di Chong Mek saja selama 5 hari dan jalan-jalan dengan Mr.Tok juga adik2 di rumah host family.
Tapi rencana tersebut urung digantikan dengan niatan menuju Khon Kaen bersama Mastura, teman sesama mahasiswa yang kukenal kala sholat idul fitri pekan lalu di Masjid Albaitullah - Ubon.
Perjalanan yang cukup panjang menuju Khon Kaen kami tempuh menggunakan bus. Kami bertiga (saya, Mastura, dan Merna) pun menjejakkan kaki di terminal bus Khon Kaen menjelang siang. Selanjutnya Mastura ajak kami naik taksi untuk makan siang terlebih dahulu di Thai Muslim Halal Food, terletak satu lokasi dengan big market di Khon Kaen. 
Thai Muslim Halal Food :)

Pertama kalinya saya memastikan bisa membeli makanan 100% halal di sini, sebab selama ini saya selalu merasa tak yakin dengan semua yang saya makan sehingga tak jarang lebih memilih roti.
Selanjutnya kami menuju asrama tempat tinggal Mastura selama belajar di Khon Karn University. Kami beristirahat sejenak sambil menunggu maghrib tiba kemudian memutuskan untuk makan bersama dan bertemu rekan-rekan Mastura sesama muslim. 
Kami bertemu 2 rekannya yang berasal dari Yala (daerah perbatasan Thailand dan Malaysia, yakni Thailand Selatan, yang memang didominasi kaum muslim). 
Perbincangan kami makin lengkap kala datang Yee (rekan Mastura juga yang baru masuk islam Ramadhan lalu). Ia ceritakan kisahnya sampai berderai air mata dan mengundang haru juga di pelupuk mata kami. Ia ceritakan bahwa menemukan hidayah ini sungguhlah sulit. Ia harus bersitegang dengan Ibu dan neneknya dan tidak saling bicara selama 4 bulan. Ia sadari mungkin itu adalah bagian dari ujian Allah yang ingin mengetahui keseriusannya dalam memilih agama islam. 
Ia telah banyak mempelajari islam selama 7 bulan, hingga pada malam akhir bulan Ramadhan dia ceritakan bahwa hatinya bergetar sungguh hebat dan ada sesuatu yang membuatnya sungguh yakin mengucapkan syahadat kala itu juga. Baginya mengucap syahadat adalah perubahan besar dalam hidupnya, bahkan ia mengibaratkan itu lebih luar biasa daripada perasaan wanita yang dilamar seorang lelaki.
Mendengar kisah Yee menjadikan saya mengernyitkan kening dan menengok ke muka saya sendiri. Apa yang kamu rasakan ketika mengucap syahadat, Hamidah? 
Saya terlahir dari keluarga muslim, kakek nenek saya dan seluruh nasab saya adalah muslim. Bahkan Indonesia memang mayoritas muslim, tak pernah sekalipun saya kesulitan menemukan masjid untuk shalat 5 waktu, pun shalat sunnah. 
Seharusnya keimanan saya lebih baik dari mualaf yang baru faham islam kurang dari 1 tahun, seharusnya saya sholat di Indonesia lebih tepat waktu daripada mereka disini yang kesulitan menemukan masjid.
Perjalanan akhir pekan saya di Khon Kaen ditutup dengan jalan-jalan di walking street, sekedar untuk merenggangkan kaki setelah duduk sekian jam di bus dan mendengarkan cerita haru dari Yee. 
Pilihan tepat menghabiskan waktu di Khon Kaen dan bertemu kalian, terimakasih rekan-rekan :)

ini waktu pertama makan malam di Khon Kaen dan bertemu rekan-rekan muslim club KKU
di depan rumah makan halal di Khon Kaen

remulan menjelang purnama di langit Khon Kaen, walking street

meninggalkan pesan tempel untuk muslim club KKU di Sri Brown Cafe, Khon Kaen




mengenal kalian lebih dekat #sawasdee19

Hari ini aku mengajar di kelas 2 mengenai benda benda di dalam kelas. 
Seperti hari biasanya aku selalu rajin mengamati mereka selama belajar dan menulis. Satu persatu wajah kucermati tak henti-henti. 
Oh sayangku... sungguh jika kalian tak mengerti tentang apa yang kami ajarkan sesungguhnya itu bukan salah kalian.. barangkali kami yang masih kurang usaha dalam menjelaskan pelajaran.
Ada hal yang menarik kala mengamati mereka.. pasti ada perbedaan antara tulisan murid laki-laki dan perempuan.

tulisan perempuan, selalu rapi :*
tulisan murid laki-laki, hmm mohon dicermati sendiri hehe :)


Tapi yang satu ini berbeda.. dia laki-laki tapi tulisannya tak kalah rapi dengan murid perempuan :) Dan kau tahu... dia ini memiliki kekurangan dalam pendengaran.. tp dia berusaha lebih baik dr murid lain yang sempurna.


Ton of luck for you dear :***



muridku yang manis, jadilah lebih baik dariku kedepannya :')

16 Desember 2015

#pagiperpustakaan lepas dari tiga bulan :')

Barangkali memang tepat bila ada orang yang berkata “apa yang kita baca mempengaruhi diri kita”. Saat ini saya tengah mengalami hal tersebut, yang praktis dalam tiga setengah bulan ini berkutat dengan buku-buku karangan wartawan tiga zaman, Rosihan Anwar.
Sebelumnya, tidak pernah tersentuh sama sekali oleh saya buku-buku karangan beliau, bahkan sebagai mahasiswa jurusan ilmu komunikasi saya merasa berdosa tidak pernah mengenal nama beliau sebelumnya. Mungkin masa kejayaan nya sebagai wartawan terlampau jauh dari masa studi saya saat ini. Rosihan Anwar adalah pemimpin harian Pedoman yang menjadi koran nomor wahid di Indonesia kala tahun 50-an. Bila boleh mengutip pendapat Prof Alwi: Pedoman itu sebagaimana Kompas masa kini, yakni koran tempat diskusi dan koran yang mampu membuat tema-tema yang diangkat selalu jadi perbincangan seluruh rakyat Indonesia.
Tiga setengah bulan mencoba bermesra dengan sosok Pak Ros (sapaan akrab beliau) demi mendapatkan inti sari pola pemikirannya terkait Jurnalisme Indonesia yang berguna untuk Tugas Akhir perkuliahaan saya di Universitas Brawijaya, menjadikan saya kemudian tau banyak hal, mengamati dan peduli berbagai hal, yang sebelumnya sama sekali tak terlintas dalam benak.
Judul skripsi ini pula yang kemudian membawa saya melakukan perjalanan ke Jakarta pertama kali seorang diri menggunakan kereta api selama 17 jam, untuk menemui kerabat sekaligus kolega Pak Ros yakni nama yang sebelumnya sudah saya sebutkan diatas: M. Alwi Dahlan. Beliau kemudian akrab di sapa dengan panggilan Prof Alwi sebab menjabat guru besar FISIP Universitas Indonesia.
Perjalanan menemui mantan Mentri Penerangan era Soeharto ini juga perlu perjuangan. Saya harus memulai dengan pendekatan pada sekretaris jurusan UI terlebih dahulu yakni Dr. Eduard Lukman, agar mendapat rekomendasi wawancara pada beliau. Dari pengalaman tersebut ada pelajaran penting dalam hidup yang selama ini tak pernah saya temui secara langsung namun hanya kerap kali saya dengar, yakni kalimat “padi semakin berisi semakin merunduk”. Ini benar saya temukan pada sosok Prof Alwi Dahlan, sebab usai menghubungi beliau via pesan singkat dengan harapan supaya tak menganggu kegiatan, justru ada satu panggilan yang mendarat di handphone saya kala tengah bergulat dengan ratusan lembar koran Pedoman di Perpusnas jalan Salemba. Ada suara yang tak cukup jelas dari sebrang telfon memulai percakapan sebagai berikut: “Halo, saudari Hamidah? Saya Alwi Dahlan. Saya persilahkan ke rumah saya jika hendak wawancara terkait Pak Rosihan Anwar”
Seketika kemudian haru menguasai dada dan mata, ini bukan sekedar perasaan bahagia sebab proses wawancara skripsi saya terjamin lancar, namun sebab sikap seorang “Manusia Komunikasi” (buku Manusia Komunikasi adalah kumpulan tulisan rekan Alwi Dahlan dalam rangka memperingati ulang tahun beliau ke-75 tahun) yang kemudian sangat rendah hati dan memberikan saya pelajaran maha berharga.
Dari sosok Prof Alwi, kemudian saya kembali lagi pada sosok Pak Rosihan. Muncul wajah beliau yang ‘terlalu’ sering saya tatap di sampul buku “Menulis dalam Air: sebuah otobiografi”. Saya sangat terharu. Betapa, Pak Ros andai saya sempat bertemu, barangkali saya hanya bisa merunduk malu.... belum apa-apa yang saya lakukan terkait skripsi ini namun keluhan demi keluhan tak henti terlontar pagi siang malam. Sepanjang tiga setengah bulan ini saya baru sadar, munafik memang bicara tentang skripsi tanpa peduli ijazah dan gelar, tapi dibalik kedua hal tersebut kemudian saya temukan soul dalam tugas akhir ini. Bukan, bukan hanya tentang S.Ikom semata, tapi lebih dari pada itu, pengalaman, pelajaran, cara pandangan, perjuangan, dan semua tentang Pak Ros dan koleganya yang kini sudah dipanggil Tuhan terlebih dulu atau masih hidup dalam usia udzur, semuanya menginspirasi saya... semua nya kemudian menjadi cambuk bagi saya, bahwa hidup memang akan selalu berakhir, sehingga pertanyaan nya bukan kapan akan berakhir, tapi apa yang bisa dilakukan sebelum berakhir?

Sebagai penutup tulisan yang tanpa sengaja saya ketik dalam keadaan mata berkaca-kaca ini, saya hendak kutip petuah dari Buya Hamka (rekan Pak Ros juga), sebagai berikut:
Kalau hidup sekedar hidup, Babi di hutan juga Hidup.
Kalau bekerja sekedar bekerja, Kera juga bekerja.

Sebab itulah mari kita sama-sama cari makna dalam hidup ini. Semoga kita bukan golongan orang-orang yang hanya hidup sekedar hidup. Amin.  / 121215